Pages

Sabtu, 30 Juni 2012

Naskah Sunda Kuno


MALURUH NASKAH SUNDA KUNO ASTANA GEDE KAWALI 

Kawali tidak akan menjadi tempat penting dalam sejarah sunda jika di tempat ini tidak terdapat peninggalan sejarah yang sudah diakui keabsahannya. Baik sumber primer seperti prasasti dari abad 14 M yang terdapat di Astana Gede, maupun sumber sekunder lainnya berupa catatan atau naskah yang ditulis dengan cara ditoreh atau digores dalam daun lontar atau nipah dengan menggunakan peso pengot. Kegiatan menulis dengan menggunakan daun lontar dan pisau pengot rupanya sudah menjadi budaya pada waktu untuk melahirkan karya-karya sastra sunda buhun. Umumnya naskah yang ditulis di dalam lontar, bahasa maupun aksaranya, lebih muda usianya dari inskripsi (Kata-kata yang diukir pada batu, monument dsb.Red) yang tercatat pada batu tulis yang menggunakan hurup Pallawa dengan bahasa Sansekerta dan Sunda kuno.

Menurut para peneliti naskah Sunda seperti Prof.Dr. Edi S. Ekadjati, Drs. Undang A.Darsa dan Mamat Ruhimat S.S. sebetulnya keberadaan naskah sunda diperkirakan jumlahnya cukup banyak, lebih dari 2000 naskah yang tersebar menjadi koleksi lembaga penyimpanan naskah di dalam maupun di luar negeri. Sebagian lagi terdapat di perorangan. Sebagian besar naskah-naskah tersebut usianya lebih muda dan terbuat dari bahan seperti janur, daun enau, pandan, daluang maupun dari kertas Belanda. Dengan jenis aksara Arab, Carakan, Pegon, dan Latin. Sedangkan bahasanya menggunakan Bahasa Arab, Jawa Tengahan, Sunda Baru, Melayu dan Belanda.

Sedangkan jumlah naskah kuno yang ditulis diatas daun lontar kurang lebih berjumlah 100 naskah dan hampir 80 % belum tersentuh oleh peneliti (Filolog). Dan naskah-naskah sunda kuna yang ditulis dalam lontar tersebut merupakan naskah yang memiliki tingkat kesulitan paling tinggi karena factor bahasa dan aksaranya yang menggunakan bahasa Sunda kuno dan Jawa Kuno karena lebih dari 250 tahun kedua bahasa dan aksara tersebut tidak dipergunakan lagi oleh masyarakat sunda.

Disamping itu pemilik perorangan naskah sunda kuno umumnya masih ketakutan untuk menyetorkan naskah tersebut ke pemerintah dikarenakan sebagai peninggalan leluhurnya harus dipusti-pusti sebaik-baiknya tanpa pernah membuka atau mempelajari isi teksnya. Padahal naskah-naskah tersebut sangat penting untuk diteliti dan disebarkan kepada masyarakat, sebagai bukti adanya tingkat peradaban sunda di masa silam yang tertuang dalam isinya, baik itu berupa hasil pemikiran maupun referensi sejarah yang tercatat.

Naskah-Naskan Kuno yang berhasil ditemukan di Kawali dan kini disimpan di Bagian Naskah Perpustakaan Nasional dengan menggunakan no kode kropak. Dan yang sudah di terjemahkan serta diberi judul diantaranya ialah Carita Parahyangan (kropak406), Sang Sewaka Darma (kropak 408), Sunan Gunung Jati (kropak 420), Naskah yang berisi teks campuran atau Gemenged (kropak 421), Naskah Jatiraga (kropak422) dan Darmajati (kropak 23). Sedangkan yang belum teridentifikasi adalah naskah kropak 407, Kropak 409, kropak 411, Kropak 412, Kropak 413, Kropak 414, dan Kropak 415.

Semua naskah kuno tersebut ditulis antara tahun 1099 M sampai tahun 1579 M yaitu maswa sebelum pra Islam. Dalam naskah Carita Parahyangan tertulis candrasangkala ekadasi suklapaksa wesakamasa 1591 ikang sakakala atau sekitar 6 Mei 1979 M yang merupakan masa setelah Pajajaran Sirna Ing Bumi. Sedangkan naskah Sewaka Darma tertulis candrasangkala nanu namas haba jaja atau sekitar tahun 1099 M. Khusus mengenai Naskah Sunan Gunung Jati ternyata isinya bukanlah menceritakan tentang pendiri kerajaan Islam di Cirebon yang bernama Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Kandungan teksnya sama sekali tidak mengemukakan tentang ajaran Islam sedikitpun melainkan membahas tentang pengaruh ajaran Hindu-Budha . Nama Gunung Jati ternyata merujuk pada nama lokasi tempat kedudukan Bungawari di alam kahyangan.

KABUYUTAN ASTANA GEDE PUSAT KEAGAMAAN DAN INTELEKTUAL

Naskah-naskah sunda kuno selama ini keberadaannya kurang terpublikasikan sehingga masyarakatpun banyak yang tidak tahu tentang gambaran lengkap kebudayaan sunda di masa lalu. Padahal kandungan naskah-naskah tersebut selain catatan nama-nama penguasa dan kejadian pada jamannya juga berisi ajaran dan petuah yang isinya masih kontekstual dengan jaman kiwari. Salah satu naskah tersebut adalah Naskah Sanghiang Siksa Kandang Karesian yang berisi ajaran bimbingan hidup agar mencapai kebahagiaan. Naskah ini mempunyai candrasangkala nora catur sagara wulan atau tahun 1518 M. Selain berisi ajaran kehidupan, naskah ini juga dapat disebut semacam ensiklopedia tentang pemerintahan, kebudayaan, kepercayaan, kesusastraan, pertanian, etika, militer, dan lain-lainnya.

Menurut Saleh Danasasmita Siksa Kandang Karesian ditulis pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja Pajajaran atau dikenal Prabu Siliwangi (1482-1521 M) dan berfungsi juga sebagai pedoman dalam tatacara kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sri Baduga adalah cucu dari Prabu Niskala Wastu Kancana yang berkuasa di Galuh dan Sunda . Saat masih kecil Sri Baduga tinggal yaitu di Keraton Surawisesa yang terletak di Kawali. Sedangkan Kawali pada abad 14 dan 15 merupakan ibukota kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda. Wastu Kancana merupakan salah satu raja yang terkenal dengan ajaran karahayuannya sehingga berhasil meneruskan kebesaran nama ayahnya Prabu Linggabuana (Prabu Wangi) yang gugur di Bubat.

Ajaran atau filsafat kakeknya yang sarat dengan kebijakan dan kebajikan itu turut mempengaruhi jalan pikirannya dalam memimpin kerajaan Pajajaran dikemudian hari. Hal itu terbukti, Sri Baduga atau Sang Pamanah Rasa atau Jayadewata menjadi salah satu raja besar sunda yang sukses mengelola negaranya. Siksa Kandang Karesian boleh jadi berisi pemikiran-pemikiran Sri Baduga yang dirangkum oleh seseorang dalam sebuah buku. Sri Baduga kemudian lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi.

Ditemukannnya naskah-naskah sunda kuno dari Astana Gede karena tempat tersebut dulunya merupakan kabuyutan atau mandala sebagai pusat kegiatan keagamaan dan intelektual. Salah satu kegiatan intelektual tersebut adalah menyusun dan menulis sesuatu yang menghasilkan naskah lontar. Selain itu kabuyutan berfungsi juga menyimpan naskah-naskah yang berasal dari kabuyutan lain. Seperti dari Kabuyutan Panjalu, Kabuyutan Pakuan Pajajaran, Kabuyutan Ciburuy Bayongbong Garut, maupun Kabuyutan Cikuray dan kabuyutan Karangkamulyan.

Indikasi tersebut salah satunya dapat dilihat dari penulis naskahnya. Kai Raga adalah penulis naskah Carita Ratu Pakuan (Kropak 410) Darmajati (Kropak 423), Carita Purnawijaya (kropak 416), Kropak 411 dan kropak 419. tokoh ini menyusun naskah-naskah tersebut di pertapaan Suta Nangtung di Gunung Larang Srimanganti yang merupakan salah satu Puncak Gunung Cikuray. Namun ternyata salah satu naskahnya ( Darmajati) ditemukan di Kabuyutan Astana Gede Kawali.

Adanya naskah-naskah di Kabuyutan Kawali pertama kali diketahui umum setelah muncul buku berjudul Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indie karangan seorang Pejabat Pemerintah Hindia Belanda yang bekerja di Al-gemene Secretrie (Sekretris Negara) bernama J.Olivier. Dalam bukunya, ia bersama rombongannya menyaksikan keberadaan naskah-naskah berbahasa kawi ketika mengunjungi Kawali dan wilayah priangan lainnya (Desember 1821 – 1827). Naskah beserta benda budaya lainnya dikatakan berasal dari peninggalan-raja-raja Pajajaran dan saat itu pemeliharaannya berada dibawah perlindungan Raden Tumenggung Adipati Adikusumah sebagai bupati Galuh yang memerintah pada tahun 1819 – 1839. Seluruh Anggota rombongan tidak ada yang mampu membaca naskah-naskah tersebut. tetapi ada salah seorang anggota rombongan yang bernama J.H. Domis menyalin 12 judul Naskah tersebut.

R.A.A. KUSUMADININGRAT PENYELAMAT NASKAH SUNDA KUNO

Salah satu penyebab banyaknya naskah-naskah sunda kuno yang tersimpan di kabuyutan Astana Gede Kawali dikarenakan pada saat Pakuan Pajajaran yang menjadi ibu kota kerajaan sunda mulai dihancurkan oleh pasukan Islam dari Cirebon dan Demak banyak pembesar kerajaan dan rakyatnya yang mengungsi ke Kawali dan keturunannya menjadi bagian dari penduduk Kawali. Hal ini berdasarkan keterangan Pejabat Pemerintah Hindia Belanda yang bernama J.Olivier dalam bukunya yang berjudul berjudul Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indie (Kejadian-kejadian dan Hal-hal Menarik dari Hindia Timur). Ia sendiri masih menyaksikan keberadaan sejumlah prabotan dan barang lainya yang dibawa oleh pengungsi, termasuk diantaranya adalah naskah-naskah kuno.

Agaknya pejabat Belanda inilah yang memberitakan keberadaan naskah kuno tersebut kepada C.M. Pleyte. Akhirnya Pleyte berhasil mengkoleksi 13 naskah kuno dari Kabuyutan Astana Gede. Naskah-naskah tersebut diserahkan oleh Raden Aria Adipati Kusumadiningrat yang saat itu memerintah sebagai Bupati Galuh tahun 1839-1886. R.A.A. Kusumahdiningrat adalah seorang bupati yang memiliki haluan maju serta memiliki perhatian besar terhadap pembangunan termasuk bidang kebudayaan. Penyerahan naskah tersebut diperkirakan terjadi sesudah tanggal 10 Mei 1851 saat Kusumadiningrat berpangkat Adipati Aria. Sebelumnya tokoh ini berpangkat Raden Tumenggung bernama Kusumadinata IV. Ayahnya adalah Raden Tumenggung Adipati Adikusumah yang memerintah Galuh pada tahun 1819–1839 dan sempat bertemu dengan J.Olivier

Tahun 1800-an di Batavia telah berdiri Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Masyarakat Batavia Pencinta Kesenian dan Ilmu Pengetahuan) atau yang biasa disingkat BGKW. Koleksi Pleyte kemudian di serahkan kepada lembaga ini untuk diteliti. Ternyata selain R.A.A. Kusumadiningrat tokoh lainnya yang mengkoleksi dan kemudian menyerahkan naskah-naskah sunda kuno dari wilayah Priangan terutama dari Kawali ke BGKW adalah pelukis terkenal Raden Saleh. Hal tersebut diumumkan oleh K.F. Holle dalam artikelnya yang berjudul Vlugtig Berigt omtrent Eenige Lontar-Handschriften Afkomstig uit de soenda-landen, door Radhen Saleh aan het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen ten geschenke gegeven met toepassing of de inscriptie van Kawali. (Berita Singkat tentang beberapa Naskah Lontar yang Berasal dari Tatar Sunda, yang diberikan Raden Saleh sebagai hadiah kepada BGKW beserta salinan Prasasti Kawali).

Artikel tersebut diterbitkan oleh majalah TBG tahun 1867 di Batavia (Jakarta). Adapun 3 naskah lontar yang disebut dalam article K.F. Holle ternyata adalah Naskah Amanat Galunggung (Kropak 632), Sanghiang Siksa Kandang Karesian (Kropak 630) dan Naskah Candrakirana (Kropak 631). Prasasti Kabantenan dan naskah lontar kropak 410 juga merupakan hasil pengumpulan Raden Saleh yang diserahkan kepada BGKW. Institusi ini memang sejak tahun 1845 melakukan kegiatan rutin untuk mencari dan mengkoleksi benda-benda budaya termasuk prasasti dan naskah.

Setelah Belanda hengkang dari Indonesia, maka tanggal 26 Januari 1950 BGKW diubah menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Dan nama museum yang dimilikinya berubah menjadi Museum Pusat dan terakhir menjadi Musium Nasional. Sedangkan perpustakaan yang ada di bawahnya dipisahkan menjadi lembaga yang berdiri sendiri dan dinamai Perpustakaan Nasional. Di tempat itulah kini naskah-naskah sunda kuno yang berasal dari Kabuyutan Astana Gede tersimpan dengan keheningannya.

Sumber : HU. Kabar Prianga
Salasahiji lembaga nu neundeun koléksi naskah Sunda téh nyaéta Perpustakaan Nasional Républik IndonésiaI (PNRI). Leuwih kurang aya kana lima ratusna naskah Sunda nu jadi koléksi PNRI téh. Sok sanajan koléksina teu saloba jeung nu aya di Universitas Bibliotheek Leiden, tapi réa naskah Sunda nu kawilang penting diteundeun di ieu lembaga. Sebut baé Carita Parahiyangan, Siksa Kandang Karesian, jeung Séwaka Darma pikeun naskah Sunda kuna (saterusna disingget NSK), atawa Babad Cirebon, Carita Ki Sabeulah, Babad Timbanganten, Kamus Melayu – Sunda yasana R.A.A. Kusumahningrat pikeun naskah Sunda kabéhdieunakeun.

Dumasar kana tempat diteundeunna, naskah Sunda koléksi PNRI téh sacara basajan mah bisa dibagi dua, nyaéta koléksi nu diteundeun dina rak jeung koléksi nu diteundeun dina peti. Unggal naskah ditandaan ku kode naskah jeung nomor koléksi. Koléksi nu diteundeun dina rak umumna mangrupa koléksi naskah nu geus dijilid, ngawengku (1) koléksi utama naskah Sunda (SD), (2) koléksi utama Koninklijk Bataviaasch Genootschap (KBG), jeung (3) koléksi naskah jilidan J.L.A. Brandes (BR). Sedengkeun koléksi naskah nu diteundeun dina peti, sumebar dina sababaraha sub koléksi nyaéta (1) koléksi arsip jeung catetan C.M. Pleyte (PLT), (2) koléksi arsip jeung catetan K.F. Holle (KFH), (3) koléksi lambaran arsip Brandes (NBR), (4) koléksi arsip nu diteundeun dina lomari Brandes (LBR), jeung (5) koléksi naskah Sunda kuna nu ditulis dina daun lontar, nipah jeung awi.

Kajaba ti bungkeuleukan naskahna téh, PNRI mibanda koléksi mikrofilm deuih, ngawengku leuwih kurang 147 naskah Sunda koléksi PNRI jeung naskah-naskah koléksi Lima Lembaga Jawa Barat (dina 50 rol mikrofilm). Di antara naskah-naskah Sunda koléksi PNRI, naskah Sunda kuna can dimikrofilmkeun.

Ku tungtutan kamajuan téknologi informasi, kiwari PNRI geus ngadigitalkeun sababaraha naskah Sunda, jeung sabagian di antarana bisa diaksés ku saha waé kalawan gratis ngaliwatan jaringan internét. Naskah bisa dipulut (didownload) dina format PDF jeung Flash HTML kalawan babari tur gancang dina ramatloka http://digilib.pnri.go.id.

Pikeun maluruh naskah-naskah Sunda nu aya di PNRI, panalungtik naskah bisa ngamangpaatkeun rupa-rupa katalog naskah Sunda, boh anu geus diterbitkeun boh anu can diterbitkeun. Katalog naskah Sunda koléksi PNRI nu geus diterbitkeun di antarana Naskah Sunda susunan Edi S. Ekadjati (Wedalan LKUP, 1988), Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid IV: Perpustakaan Nasional RI susunan T.E. Behrend spk. (Wedalan Yayasan Obor Indonésia jeung École Francaise d’Extremê-Orient, 1998), jeung Jawa Barat: Koléksi Lima Lembaga susunan Edi S. Ekadjati jeung Undang A. Darsa (Yayasan Obor Indonésia jeung École Francaise d’Extremê-Orient, 1999). Sedengkeun katalog Naskah Sunda Koléksi PNRI nu can diterbitkeun atawa mangrupa sténsilan di antarana Katalog Naskah Sunda susunan R. Memed Sastrahadiprawira (1928), Fisik Naskah Sunda Koléksi PNRI susunan Ruhaliah (2003), jeung Naskah Sunda Koléksi PNRI susunan Ruhaliah (2004).

Husus pikeun NSK mah, nepi ka danget ieu can aya katalog anu lengkep tur informatif. Bacaan nu hésé tur merlukeun waktu nu lain sakeudeung jigana jadi salah sahiji faktor utama. Ekadjati ogé nétélakeun ieu pasualan nalika anjeunna nyusun katalog naskah Sunda.

Beberapa naskah yang ditemukan, belum disertakan dalam daftar naskah di sini, karena belum dapat diketahui isinya. Hal itu disebabkan oleh belum diperolehnya izin penelitian/pembacaan atas naskah-naskah tersebut, baik dengan alasan birokrasi ataupun alasan tabu dibaca pada sembarang waktu maupun dengan alasan pembacaannya memerlukan waktu yang khusus dan lama. (Ekadjati, 1988: 4)

Sajaba ti éta, nu jadi pasualanana nyaéta tempat neundeun NSK téh sumebar dina peti sacara acak. Upamana kropak 407 ayana dina peti 86, kropak 406 dina peti 15 (Carita Parahiangan) jeung 408 dina peti 16 (Séwaka Darma) bisa jadi tempat neundeunna baheula mah dina sapeti.
Ku éta perkara, bawirasa kacida perluna data ngeunaan kaayaan NSK di PNRI téh pikeun panaratas jalan panalungtikan nu leuwih nyosok jero.

Nu Nyampak
Saméméh miang ngajugjug ka nu dituju, aya hadéna mariksa deui bebekelan urang. Naon saéstuna nu geus nyampak di urang ayeuna nu bisa dijieun tuduh jalan pikeun nyaangan jalan sorangeun patali jeung kapentingan ngaguar NSK? Panalungtikan-panalungtikan NSK nu geus ditaratas ku para ahli téh saéstuna geus bisa dijieun tatapakan enggoning ngagarap NSK ka hareupna. Nepi ka danget ayeuna, sahenteuna kacatet aya 21 NSK nu geus ditalungtik téh, jeung 15 di antarana mangrupa koléksi PNRI. Lengkepna NSK koléksi PNRI nu geus ditalungtik bisa dititénan dina lampiran 1.

Panalungtikan-panalungtikan NSK lumangsung jero saabad leuwih, ti serek tengah abad ka-19 nepi ka awal abad ka-21. Nu mimiti ngagulang-gapér NSK réréana mah para ahli Walanda nu neundeun minat kana budaya Sunda. Panalungtikan-panalungtikanana lolobana medal dina média basa Walanda saperti Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkunde uitgeven door Koninklijk Bataviaasche Genootschap (TBG) jeung Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië nu hésé diaksés ku nu teu bisa basa Walanda.

Tarékah urang Walanda ngaguar kabudayaan Sunda buhun nu nyampak dina NSK dituluykeun ku urang Sunda kalawan hasil nu leuwih nyugemakeun, di antarana Carita Parahiyangan édisi Atja (1968); Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Séwaka Darma, jeung Amanat Galunggung édisi Saleh Danasasmita spk. (1981 & 1987); Sanghyang Hayu édisi Undang A. Darsa (1998); jeung Kosmologi urang Sunda édisi Undang A. Darsa (2006), mangrupa cecekelan nu bisa dimangpaatkeun ku nu boga karep ngulik NSK.

Naon nu dipigawé ku Noorduyn jeung Teeuw ngaliwatan panalungtikanana kana Pantun Ramayana, Sri Ajñana, jeung Bujangga Manik ogé geus méré sumbangan nu pohara gedéna dina panalungtikan NSK. Éta tilu téks Sunda kuna téh ku aranjeunna diguar dikali-cacingkeun nepi ka ngajanggélék mangrupa buku nu dijudulan Three Old Sundanese Poem (Noorduyn & Teeuw, 2006). Kajaba ti transliterasi jeung tarjamahan téks sakumaha ilaharna, ieu buku nu kandelna 495 kaca téh dieuyeuban ogé ku catetan-catetan nu imeut patali jeung naskah nu digarapna, saperti ulikan struktur basa Sunda kuna, babandingan basa Sunda kuna jeung basa Sunda kiwari, babandingan basa Sunda kuna jeung basa Jawa kuna, kaasup ajén-inajén sastra Sunda buhun nu nyangkaruk dina téks-téks nu digarapna. Kiwari ieu buku geus medal dina basa Indonésia nu dijudulan Tiga Pesona Sunda Kuna beunang narjamahkeun Hawé Setiawan, Undang A. Darsa jeung Tien Wartini (wedalan Pustaka Jaya, 2009). Usaha narjamahkeun buku panalungtikan NSK nu ‘daria’ tangtuna bakal méré mangpaat nu gedé.

Usaha munggaran nu dilakonan panalungtik patali jeung basa Sunda kuno nu geus carem nyaéta ngumpulkeun kekecapan katut hartina. Dina emprona, panalungtikan-panalungtikan NSK geus ngahasilkeun sababaraha kamus Sunda kuna nu sakabéhna mangrupa kamus dwi-bahasa (Sunda Kuna – Indonésia), di antarana: Kamus Bahasa Sunda Kuna - Indonésia (Hermansoemantri, spk.: 1986-1987), Kamus Bahasa Naskah dan Prasasti Sunda Abad 11 s.d 18 (Suryani spk., 2001), Kamus Bahasa Sunda Kuna-Indonesia (Suryani & Undang A. Darsa, 2003), jeung Kamus Bahasa dan Seni Budaya Sunda Buhun (Suryani, 2008).

Basa Sunda kuna nu nyampak dina téks-téks Sunda kuna raket patalina jeung basa Jawa kuna. Ku kituna, kajaba ulikan léksikografi nu geus ditaratas ku cara ngumpulkeun kecap-kecap tina NSK, bawirasa perlu ogé dieuyeuban ku kamus Jawa kuna nu geus nyampak. Kamus Jawa Kuna Zoetmulder (mimiti medal taun 1982, mangrupa Kamus Jawa Kuna – Inggris) nu disusun salila 25 taun, kawilang rada nenggang dibanding kamus nu séjénna. Dina ieu kamus, Zoetmulder rikip jeung satia pisan kana téks. Unggal éntry kecapna teu weléh ditandaan ku judul téks Jawa Kuna nu ngandung hiji kecap dina léma. Cindekna, kecap ‘anu’ kapanggih dina teks ‘anu’ baris ka sa-‘anu’, conto larapna ‘kieu’, jst. Ku alatan kitu, panalungtik bisa nyusud hiji kecap kana naskah nu dijieun rujukan kecap. Emuch Hérmansoemantri saparakanca saéstuna geus naratas kamus samodél kitu nalika nyusun Kamus Basa Sunda Kuna Indonésia (1986-1987), hanjakalna, NSK nu dijadikeun sumber ukur tilu naskah nyaéta Carita Ratu Pakuan, Carita Parahiyangan, jeung Siksa Kandang Karesian.

Kajaba ti kamus dwi-bahasa, ulikan-ulikan filologi, épigrafi, paléografi, arkéologi, jsté. teu kurang ogé nu geus nyampak deuih. Sumbangan paléografi Holle dina bukuna Tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten (1882) bisa dijieun cecekelan penting ogé pikeun panalungtik upama nimu kasus patali jeung aksara dina NSK. Laporan Kapurbakalaan N.J. Krom dina Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch Indie (1914) bisa dimangpaatkeun ku panalungtik enggoning nyukcruk galur raratan naskah sagédéngeun arsip-arsip BGKW dina Notulen van de algemeene en directievergaderingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (NBG), Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkunde uitgeven door Koninklijk Bataviaasche Genootschap (TBG), jeung Verhadelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (VBG).

Nu ditataan di luhur téh keur saheulaanan mah bawirasa bisa dijieun tatapakan enggoning nalungtik NSK nu masih kénéh ‘nyumput’ téa.

Nu Nyumput
Dina jero sataun (2008-2009), panalungtik naskah Sunda kuna nu datang ka PNRI téh ngan aya tiluan. Nu hiji, mahasiswa ITHB nu rék nalungtik Aksara Sunda patali jeung seni grafisna. Nu kadua, mahasiswa S1 Unpad jurusan Sastra Indonésia, jeung nu katilu Rahmat, Mahasiswa S2 ti Unpad nu nalungtik Bimaswarga (kropak 623) pikeun bahan tésis. Iwal ti Rahmat, nu séjénna mah bangun pugag. Mahasiswa ITHB pabeulit jeung référénsi nu kurang ngeunaan tipologi aksara Sunda kuna, nepi ka pindah pileumpangan nalungtik aksara Palawa. Mahasiswa S1 Unpad Sastra Indonésia, boboléh sanggeus dibéré 5 foto NSK pikeun dibaca. Boa ieu téh jadi tanda, yén panalungtikan NSK téh mémang ngahudang minatna ukur mimitina hungkul, da kadituna mah, sanggeus nyanghareupan pirang-pirang pasualan nu témbong tina NSK, karéréaan magol.

Ulah waka nalungtikna, dalah maluruh NSK dumasar katalog nu aya, teu jadi jaminan yén data nu nyampak téh bisa dipiandel. Sumawonna NSK, nu méh sakabéhna can kadata kalawan enya-enya dina katalog, da nu nyusun katalogna réréana ogé lain urang Sunda. Pamustunganana, moal héran mun aya naskah nu dijudulan ‘Lontar Sunda Kuno’ (maké tanda tanya di tukangna) atawa ‘Sundaasch’ (mun nu méré judul urang Walanda), samalah aya nu dina labelna ditulisan ‘tanpa judul’ atawa tanda tanya hungkul. Tina data nu sakitu heureutna, naha bisa ngahudang kapanasaran nu boga minat nalungtik NSK? Kapan nu jadi udagannana naskah dikatalogkeun téh nyaéta pikeun méré gambaran umum saheulaanan kana naskah sangkan bisa ngahudang kapanasaran panalungtik naskah.

Ningali pasualan kitu, ti serek bulan Méi nepi ka bulan Juli taun 2008, PNRI ngayakeun kagiatan stock opname kana koléksi naskah. Éta kagiatan téh dilaksanakeun pikeun maluruh kaayaan fisik naskah. Tina éta kagiatan téh, kapanggih ogé sababaraha NSK nu salila ieu teu kasebut-sebut, teu kadaftar dina katalog, atawa tacan ditalungtik ku para ahli. Lebah nangtukeun hiji naskah bisa digolongkeun kana NSK sakurang-kurangna dipaké sababaraha tinimbangan, di antarana:
  1. bahan naskahna tina daun lontar, daun nipah , jeung awi;
  2. nu digunakeun nyaéta aksara Sunda kuna jeung aksara Buda atawa Gunung. Aksara Sunda kuna ditulis dina daun lontar jeung awi, sedeng aksara Buda atawa Gunung ditulis dina daun nipah;
  3. nu digunakeun nyaéta basa Sunda kuna atawa basa Jawa kuna;
  4. naskah ilaharna mangrupa gambaran urang Sunda saméméh kapangaruhan ku Islam (pra-Islam) ;
  5. nu ngajéntrékeun ngeunaan iraha jeung dimana éta naskah ditulis atawa disalin (kolofon); jeung
  6. kapanggihna éta naskah méméh asup jadi koléksi BGKW.
Saéstuna, dina sababaraha peti kapanggih ogé sababaraha naskah nu ditulis dina kertas Éropa ngagunakeun aksara Latin, mangrupa hasil transliterasi Holle, Pleyte, jeung Brandes kana NSK. Naskah nu samodél kieu teu diasupkeun kana katégori NSK, tapi sahenteuna bisa dimangpaatkeun ku panalungtik pikeun babandingan nalika maca NSK.

Dumasar kana tinimbangan-tinimbangan nu ditataan di luhur, bisa ditangtukeun – sok sanajan saheulaanan – yén leuwih kurang aya 55 naskah koléksi NSK di PNRI téh. Tina jumlah sakitu leuwih kurang 40 naskah (72%) nu can kagarap téh, ngawengku 1214 kaca. Upama nilik kana aksarana, 24 naskah ngagunakeun aksara Sunda kuna jeung 16 Naskah ngagunakeun aksara Buda. Dumasar kana bahanna, 22 naskah ditulis dina lontar, 15 naskah ditulis dina nipah, jeung 3 naskah ditulis dina awi. Teu sakabéh naskah bisa kapaluruh eusina, kusabab merlukeun waktu nu lain sakeudeung. Tapi saheulaanan bisa ditangtukeun yén eusi naskah téh rupa-rupa, ngawengku kaagamaan, élmu pangaweruh, sastra, mitologi, jlld. Demi daptar naskahna bisa diilikan dina lampiran 2.

Agénda
Tina naon nu nyampak jeung ngungkab nu masih nyumput téh sahenteuna bisa ditarékahan nyusun rupa-rupa léngkah ka hareupna dina raraga ngungkulan pasualan dina NSK. Keur saheulaanan, dumasar tinimbangan data-data nu geus nyampak, sawatara usul bawirasa perlu diasongkeun patali jeung kapentingan panalungtikan NSK, di antarana:

  1. Nepungkeun deui sing saha nu boga karep ngagarap NSK nepi ka ngawangun hiji tim anu solid. Tim bisa diwangun ku ahli akademis jeung téknis. Périodeu 80-an minangka périodeu nu nyongcolang dina raraga prosés ngagarap NSK bawirasa bisa dijieun panyileukan. Ieu hal teu leupas tina pokalna Sundanologi mangsa harita. Pangna kitu, dina éta périodeu, panalungtikan NSK dipigawé ku cara dirempug babarengan dina beungkeutan tim. Cindekna, ieu bagéan macana, itu bagéan narjamahkeunana, réréncangan ieu bagéan napsirkeunana, réréncangan itu bagéan nyieun panganteurna, dunungan ieu nu ngusahakeun piwaragadeunana, jsté.
  2. Maluruh data-data NSK nu nyampak bari nyieun déskripsi kodikologi nu lengkep. Lajuning lakuna, bisa disusun skala prioritas garapan. NSK mana nu kudu diheulakeun, NSK mana nu bisa diengkékeun. Naha naskah kaagamaan, pangaweruh umum, sastra, sajarah, jsté.
  3. Ngadokuméntasikeun NSK koléksi PNRI ku cara digitalisasi. Ku cara kieu, pasualan téknis garapan bisa kaungkulan. Copélna aya 3 mangpaat tina digitalisasi NSK téh, nyaéta (1) eusi naskah bisa kasalametkeun upama naskah aslina geus ruksak, (2) ngahémat waragad (3) ngahémat waktu & tanaga. Hasil digitalisasi bisa dibuka aksésna sacara umum ngaliwatan média internét. Digitalisasi naskah nu bisa dijieun panyileukan upamana baé digitalisasi Naskah Acéh (bisa ditoong di http://acehms.dl.uni-leipzig.de/ nu dilaksanakeun dina raraga nyalametkeun naskah sabada Tsunami), digitalisasi Naskah Islam Leipzig Jerman (http://islamic-manuscripts.net/), digitalisasi Naskah Universitas Princeton Inggris: (http://digilib.princeton.edu/), jsté. Digitalisasi naskah nu aksésna dibuka pikeun umum dilengkepan ogé ku déskripsi naskah nu lengkep.
  4. Perlu ditarékahan nyusun palanggeran panalungtikan NSK nu idéal tur konsistén nu bisa dimangpaatkeun ku panalungtik minangka cecekelan standar diluyukeun jeung kaayaan garapan Naskah Sunda Kuna nu tinangtu béda jeung naskah-naskah ti luareun Sunda. Upamana, palanggeran transliterasi, éjahan, tarjamahan, sistematika, jsté. Panalungtikan nu saméméhna bisa dijieun cecekelan ogé.
  5. Nalungtik naskah (transliterasi, tarjamahan, analisis, jsté) kalawan jejem dumasar palanggeran konvensional nu geus dirumuskeun babarengan. Palanggeranna nu teu matok teuing, tapi copélna bisa méré standar minimal panalungtikan NSK.
  6. Publikasi panalungtikan NSK nu éféktif. Ulah nepi ka NSK jeung panalungtikanana alus, ku sabab publikasi panalungtikan nu sahayuna, nepi ka hasil panalungtikannana kurang bisa dimangpaatkeun ku balaréa kalawan optimal.
Tangtuna, unggal agénda aya waé hahalangna. Tapi copélna, naon nu geus ditaratas saméméhna dina ngagarap NSK téh perlu dituluykeun, ulah nepi ka pareumeun obor cénah gé. Ku kituna, meureun geus waktuna NSK ‘nu nyumput’ téh dicaangan.

Ieu bahan diskusi téh ukur panglalanyah. Étang-étang hasil évaluasi digawé salila sataun di PNRI. Upama ti ditu ti dieu seueur kakirangan, hapunten anu kasuhun. Dipiharep pisan sawangan sareng kamandang ti sadayana. Leuwih luangan, kurang tinabeuhan. Pun.

Salémba, Mei 2009

Daptar Pustaka
  • Behrend (ed.), T.E., 1998, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Katalog induk naskah-naskah Nusantara Jilid 4. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Ecole Francaise d’Extreme Orient.
  • Ekadjati, Edi S., 1988, Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran dengan The Toyota Foundation.
  • Ekadjati, Edi S. jeung Undang A. Darsa, 1999, Jawa Barat: Koleksi Lima Lembaga. Katalog induk naskah-naskah Nusantara Jilid 5. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Ecole Francaise d’Extreme Orient.
  • Darsa, Undang A., 1998, Sanghyang Hayu: Kajian Filologi Naskah Bahasa Jawa Kuno di Sunda pada Abad XVI. Tesis. Bandung: Universitas Padjadjaran.
  • Danasasmita, Saleh spk., 1987, Sewaka Darma (Kropak 408), Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630), Amanat Galunggung (Kropak 632): Transkripsi dan Terjemahan”. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Direktorat Jendral Kebudayaan Dep. Pendidikan Dan Kebudayaan.
  • Holle, K.F., 1882 Tabel van Oud-en Nieuw-Indische Alphabetten. Bijdrage tot de Paleographie van Nederlandsch-Indie. Batavia: s’Hage.
  • Hermansoemantri, Emuch, A. Marzuki, Elis Suryani, 1987, Kamus bahasa Sunda kuna Indonesia. Proyek penunjang Sundanologi Dinas P dan K Prop. Daerah Tingkat 1 Jawa Barat.
  • Krom, N.J & F.D.K. Bosch, 1914, Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch Indie. Weltevreden: Albrecht & co.
  • Sastrahadiprawira, Memed, 1928, Katalog Naskah Sunda. Sténsilan, teu diterbitkeun.
  • Noorduyn, J. dan A. Teeuw, 2006, Three old Sundanese poems. Leiden: KITLV Press.
  • Ruhaliah, 2004, Naskah Sunda Koléksi PNRI. Diklat penunjang Mata Kuliah Filologi, UPI Bandung.
  • ------------, 2003, Fisik Naskah Sunda Koléksi PNRI. Sténsilan, teu diterbitkeun.
  • Suryani, Elis N.S. jeung Undang A. Darsa KBSKI, 2003, Kamus Sunda Kuno Indonesia. Sumedang: Alqaprint Jatinangor.
  • Suryani, Elis spk., 2001, Kamus Bahasa Naskah dan Prasasti Sunda abad 11 s.d 18, cetakan kedua. Kerjasama Komunitas Pernaskahan Sunda Purbatisti dengan Pemerintah Kota Bandung.
  • Zoetmulder, P.J., 2006, Kamus Jawa kuna – Indonesia. Cetakan kelima. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
·         Dalam periodisasi sejarah kebudayaan Sunda, masa-masa peralihan selalu menampilkan sisi menarik untuk dikaji lebih jauh. Tengok saja, misalnya, studi Mikihiro Moriyama tentang perubahan konfigurasi tulisan dari budaya naskah (manuskrip) ke budaya cetak di Tatar Sunda pada abad ke-19. Dalam hasil kajiannya itu dapat diperoleh gambaran bahwa pada periode tersebut terjadi ketegangan, tarik-menarik kepentingan, antara yang lama dan yang baru. Fenomena menarik misalnya ketika kegiatan membaca dengan didaraskan yang populer di Tatar Sunda waktu itu perlahan digantikan oleh kegiatan membaca dalam hati. Atau pengarang teks yang sebelumnya ‘malu-malu’ menunjukkan dirinya di era manuskrip, mulai menorehkan identitasnya yang jelas di sampul buku. Dengan kata lain, aktifitas sosial digantikan oleh aktifitas individual.
·          
·         Demikian pula halnya jika kita melihat dinamika perubahan yang terjadi pada masa yang jauh lebih lampau, ketika pengaruh Islam pertama kali masuk ke Tatar Sunda menggantikan, di sisi lain meneruskan, tradisi Hindu-Budha yang sebelumnya telah mengakar kuat di Tatar Sunda. Tradisi yang penulis maksud adalah tradisi menulis (menyalin) naskah di kabuyutan.
·          
·         Pengkajian-pengkajian mutakhir atas naskah Sunda Kuna yang ditulis diatas daun dan daluang, mulai mengungkapkan informasi bahwa naskah-naskah itu tidak hanya berisi ajaran agama yang dianut masyarakat Sunda Pra-Islam (sinkretisme Pribumi-Hindu-Budha), tetapi juga berisi teks-teks Keislaman dari masa peralihan. Secara paleografis cirinya menyolok: aksara yang digunakannya bukan aksara Arab atau Arab Pégon, melainkan aksara Sunda Kuna. Ciri yang hampir sama juga terjadi di Merapi-Merbabu yang memiliki khazanah naskah keislaman yang cukup kaya. Di wilayah tersebut naskah Islam ditulis diatas lontar dengan menggunakan aksara Buda (Setyawati dkk., 2002).
·          
·         Naskah-naskah Islam Sunda Kuno
·         Dari puluhan naskah Sunda Kuno yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI (PNRI), terdapat beberapa di antaranya berisi teks-teks keislaman yang penting untuk dikaji, meski jumlahnya tidak banyak. Teks “Carita Waruga Guru” (CWG) yang diumumkan oleh C.M. Pleyte (1913) adalah salah satu contohnya. Dalam sejumlah detail, kita menemukan istilah Arab yang mulai memperkaya bahasa Sunda Kuno dalam teks, seperti istilah kitab yang menggantikan istilah apus atau pustaka dalam naskah-naskah sebelumnya. Atau istilah-istilah Arab yang bertalian dengan konsep keislaman yang kuat seperti gaib (mungkin mengganti niskala?), Jamalullah (ungkapan atas sifat-sifat Allah Yang Agung serta nama-nama-Nya yang erat akan keindahan), dan Jabalkap (Gunung Kaf).
·          
·         Dapat dipastikan bahwa penulis teks CWG beragama Islam, serta memahami tauhid dengan baik. Hal ini terlihat jelas ketika pengarang menggambarkan manusia di Nusa Jawa yang menyembah gunung dan menjadikannya tempat pemujaan “Mangka urang Nusa Jawa pada su(ju)d ka gunung antég dijieun pamujaan. Mangka katingallan ku malékat yén ruksak umatna kabéh sujud ka kayu ka batu, mangka dipanah ku gugutuk batu.” (Lalu orang Nusa Jawa semua sujud kepada gunung, dijadikan pemujaan. Lalu terlihat oleh malaikat (yang menganggap) bahwa akan rusak semua umatnya karena sujud kepada batu, lalu dipanahlah oleh bebatuan). Dari batu-batu yang berserakan itulah, dalam pandangan pengarang, kabuyutan tercipta. Pengarang seolah-olah ingin menegaskan bahwa batu-batu (situs) yang terdapat di gunung adalah anak panah berupa batu yang dihujamkan Malaikat (baca: Islam) yang marah dengan kebiasaan masyarakat Nusa Jawa yang musyrik. Dengan menciptakan mitos ini, secara tersirat, kabuyutan telah dilegitimasi oleh Islam.
·          
·         Bukan hanya Tauhid, Syare’at pun rupanya telah dipahami oleh masyarakat Sunda Kuna. Hal itu tampak pada salah satu teks dari kropak 421 (Undang A. Darsa & Edi S. Ekadjati, 2004) yang berisi bacaan sholat, dengan keunikan transkipsi dari bahasa Arab ke dalam aksara Sunda Kuna. Umpamanya kata Arab walhamdulillah ditulis walkamdu lilahhi, attahiyat menjadi atasiyat, dll. Teks yang berisi bacaan shalat ini didasarkan pada risalah Kangjeng Pangeran Sumanagara. Melihat kentalnya pengaruh bahasa Jawa (baru) pada teks ini, agaknya Pangeran Sumanagara adalah seorang penyebar Islam di Tatar Sunda ketika Mataram menguasai Priangan. Uniknya lagi, teks ini diawali dengan dua kalimat syahadat. Mungkin teks ini merupakan teks tertua di Jawa Barat yang menuliskan dua kalimat syahadat dan bacaan shalat.
·          
·         Dalam kropak 413 dan 414 yang berjudul “Pakéling dan mantra” pun diterangkan tentang bab fiqih, termasuk iman dan amal, bab halal dan haram, makruh, sunat dan wenang. Teks ini berisi peringatan kepada manusia yang hendak menjalankan daulat Allah. Menariknya, teksnya sendiri ditulis dalam bentuk puisi yang terdiri dari delapan suku kata, meneruskan tradisi lisan pantun Sunda yang telah berakar jauh sebelum Islam masuk ke Tatar Sunda.
·          
·         Islam dan Kabuyutan
·         Sebagaimana telah dikemukakan, teks-teks yang terselamatkan dan dapat sampai kepada kita saat ini pada umumnya berasal dari sebuah kabuyutan di Tatar Sunda. Untunglah ada kabuyutan Ciburuy yang masih menyimpan naskah peninggalan karuhun. Walaupun ahli warisnya tidak dapat membacanya, tetapi naskahnya dapat terawat melalui ritual pada bulan Maulud.
·          
·         Pada masa dahulu, kabuyutan memiliki seorang sarjana yang cukup dikenal sebagai penyalin produktif teks-teks Sunda Kuna. Ia bernama Kai Raga. Bukan hanya teks-teks bernafaskan Hindu Budha saja yang ditulisnya, teks keislaman pun ditulisnya. “Tapel Adam”, teks yang mengisahkan kejadian terciptanya alam dunia dan nabi Adam (Naskah KBG 75 koleksi PNRI) adalah goresan dari peso pangot-nya. Hal ini menimbulkan beberapa kemungkinan. Pertama, Kai Raga berpindah agama menjadi Islam. Kedua, Kai Raga hanya bertugas menyalin naskah-naskah dari sumber yang lain, baik naskah Pra-Islam maupun Islam. Ketiga, nama-nama Kai Raga itu hanyalah istilah untuk juru tulis, yang boleh jadi merupakan orang yang berbeda. Tetapi kemungkinan itu hanya melahirkan hipotesis belaka. Satu yang pasti, Kai Raga dari Gunung Cikuray membuka dirinya untuk Islam.
·          
·         Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa kabuyutan pada masanya tidak hanya difungsikan sebagai sarana pendidikan agama jaman Pra-Islam. Lebih dari itu, kabuyutan menjadi lembaga akademis sekaligus skriptorium yang mampu ngigelan jaman, tidak menutup dirinya pada anasir baru yang datang dari luar, terutama Islam. Para sarjana kabuyutan seperti Kai Raga giat menulis dan menyalin naskah, serta mempelajari segala pengetahuan (termasuk Islam) yang tertera di atas daun lontar, gebang, dan kertas daluang itu. Hal ini setidaknya terjadi sampai Netscher, pada tahun 1853 memberitakan bahwa tradisi ini tidak lagi hidup di masyarakat, dan ketika ditemukan, tidak ada seorang pun yang dapat membacanya.
·        
dimuat dalam TRIBUN JABAR, Sabtu, 12 Maret 2011
Penulis, Filolog Naskah Sunda di Perpustakaan Nasional RI
·         Menakjubkan! Mungkin itulah kata-kata disertai decak kagum yang terlontar dari mulut para kiai dan alim ulama, yang berasal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota dan Kabupaten Tasikmalaya serta ulama dari Garut, ketika mendatangi dan menyaksikan ’skriptorium’ Naskah Sunda Buhun (kuno) yang berada di Kabuyutan Ciburuy Bayongbong Kabupaten Garut. Di lokasi itu tersimpan naskah Sunda berupa lontar yang ditulis dengan menggunakan aksara dan bahasa Sunda kuno, ataupun naskah-naskah Sunda lainnya yang ditulis dengan menggunakan aksara Pegon (naskah Sunda yang beraksara Arab tetapi berbahasa Sunda).
·          
·         Pertemuan alim ulama dan kiai serta ilmuwan dan budayawan pada tanggal 7-8 Januari 2010 di Cipanas Garut, digagas atas prakarsa mantan Kapolwil Priangan Komisaris Besar Drs. Anton Charliyan, M.P.K.N. yang sebentar lagi menjabat Wakapolda Kalimantan Tengah. Tujuan mulia beliau intinya sebenarnya silaturahim, sekaligus mempertemukan para alim ulama dan kiai dengan ilmuwan dan budayawan se-Polwil Priangan untuk duduk bersama, urun rembug, serta membedah kitab atau yang secara filologis disebut naskah (kitab/buku yang ditulis tangan) peninggalan karuhun orang Sunda masa lampau, yang bernuansa Islami serta terungkap di Kabuyutan Bayongbong Garut, yang disinyalir merupakan peninggalan para wali.
·          
·         ”Kabuyutan Ciburuy” yang berada di Bayongbong Garut, sampai saat ini belum diketahui banyak orang. Baru segelintir ilmuwan, khususnya filolog yang mengetahui ada apa, di mana, dan menyimpan khazanah apa saja di Kabuyutan Ciburuy tersebut? Mungkin para pelaku budaya, lembaga swadaya masyarakat, serta para pejabat Garut sendiri belum begitu tahu dan mengerti bahkan belum paham benar, terkait keberadaan ”Kabuyutan Ciburuy” sebagai ”skriptorium” naskah Sunda kuno di Garut, Jawa Barat, Indonesia, bahkan di dunia, yang sudah barang tentu harus kita pelihara dan kita lestarikan dengan sebaik-baiknya.
·          
·         Sungguh sayang memang, di era globalisasi canggih saat ini, masyarakat lebih memperhatikan dan menghargai budaya asing ketimbang budaya pituin sendiri. Untuk itu, sudah saatnya kita sebagai pewaris bangsa ”ngeuh” dan memperhatikan warisan peninggalan budaya kita sendiri, dalam upaya ngaraksa, ngariksa, tur ngamumule budaya Sunda, terutama naskah-naskah Sunda kuno, baik naskah dalam bentuk lontar berbahasa Sunda kuno maupun naskah-naskah beraksara Arab dan berbahasa Sunda (Pegon) berbahan saeh, yang ditengarai sebagai jejak-jejak peninggalan para wali masa lampau.
·          
·         Mengapa naskah-naskah Sunda perlu diraksa, diriksa, tur dimumule bahkan harus dikembangkan? Karena jika kita teliti secara seksama, naskah sebagai dokumen budaya berisi berbagai data dan informasi ide, pikiran, perasaan, dan pengetahuan sejarah, serta budaya dari bangsa atau sekelompok sosial budaya tertentu. Sebagai sumber informasi, dapat dipastikan bahwa naskah-naskah kuno termasuk salah satu unsur budaya yang erat kaitannya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat yang melahirkan dan mendukungnya, yang ditulis pada kertas, daun lontar, kulit kayu, saeh, bilahan bambu, atau rotan. Secara umum isinya mengungkapkan peristiwa masa lampau yang menyiratkan aspek kehidupan masyarakat, terutama tentang keadaan sosial dan budaya, yang meliputi: sistem religi, teknologi, ekonomi, kemasyarakatan, pendidikan, bahasa, dan seni.
·          
·         Garapan ilmiah dalam bidang naskah Sunda kuno hingga saat ini masih sangat sedikit. Hal ini terbukti dari hasil para filolog yang telah dipublikasikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Benar adanya, jika dikatakan bahwa banyak kendala yang dihadapi dalam menggarap naskah-naskah Sunda Kuno. Akan tetapi, harus disadari bahwa di dalam naskah-naskah Sunda kuno tersebut terdapat nilai-nilai kehidupan bangsa yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat masa kini. Dengan demikian, penggarapan naskah-naskah kuno perlu dilakukan secara sungguh-sungguh dan berkesinambungan, dari berbagai sudut pandang ilmu secara integral dan menyeluruh, termasuk kajian dari para alim ulama.
·          
·         Jika naskah-naskah Sunda kuno tidak digarap dan ditangani dengan segera, melalui transliterasi (alihaksara) dan terjemahan, dikhawatirkan akan semakin rusak, akhirnya musnah ditelan zaman, sehingga tidak bisa diketahui isi yang terkandung di dalamnya.
·          
·         Selama ini, sebagian orang yang menyimpan naskah, dapat dikatakan seperti layaknya monyet ngagugulung kalapa, sekadar menyimpan dan melestarikan, tetapi tanpa mengetahui apa isinya. Dengan mengkaji sebuah naskah, kita akan tahu isi yang dikandung oleh naskah tersebut, di samping ikut serta merumat dan melestarikan intelektualitas, kecerdasan, serta kearifan budaya generasi pendahulu kita yang sangat berharga, serta tidak bisa diukur dengan materi semata.
·          
·         Untuk tujuan itulah pertemuan para alim ulama dengan para ilmuwan dan budayawan kemarin di Cipanas Garut itu digelar, yang dihadiri oleh K.H. Achef Nur Mubaroq, Ketua MUI Kota Tasikmalaya K.H. Amin, K.H. Udin, K.H. Faqih, K.H. Akiq, K.H. Heri, K.H. Ma’mun, K.H. Aef Saefulah, Pontren Cintawana, K.H. Ae Bunyamin, K.H. Dudung M.H., H. Dedi Tamansari, Hj. Momoh Fatimah, dkk., Majelis Taklim Masjid Agung Tasikmalaya, K.H. Aceng Naufal Minar, sesepuh Pontren Al Faizin Garut dan para santri, K.H. A. Baehaqy, dan Dodi dari Graha Liman Kencana, Perintis Padepokan Rakean Sancang, Radio Satria, filolog dan pembahas dari Universitas Padjadjaran yakni Undang Ahmad Darsa dan penulis, serta Majelis Taklim Polwil Priangan, dalam upaya membuka wawasan dan cakrawala serta adanya kesepahaman untuk lebih mengenal, mengetahui, dan memahami isi dari naskah Islami yang ditengarai sebagai jejak peninggalan para wali yang berada di Kabuyutan Ciburuy, yang merupakan syiar Islam, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para wali, sesuai dengan tradisi dan adat istiadat budaya pada zamannya. Yang tentu saja, bila dihubungkan dengan keadaan masa kini masih sangat relevan, karena selama ini belum ada syiar Islam yang berdasar budaya.
·          
·         Naskah-naskah Sunda kuno selain tersimpan di Kabuyutan Ciburuy dan di perpustakaan serta museum-museum, tersimpan juga di beberapa tempat secara perseorangan ataupun kelompok, seperti halnya naskah/ Kitab Alquran kuno yang masih tersimpan di Maqom Prabu Keansantang alias Sunan Rachmat di Godog Garut.
·          
·         Berkaitan dengan pemeliharaan dan pelestarian naskah-naskah Sunda Kuno di Kabuyutan Ciburuy dan Ciela Bayongbong Garut, atas inisiatif, prakarsa, dan kecintaan mantan Kapolwil Priangan terhadap peninggalan karuhun budaya Sunda, agar tetap aman dan terpelihara, kini naskah-naskah itu berada dalam ”peti besi tahan api”, yang merupakan sumbangan dari Anton Charliyan sendiri. Hal ini sebagai antisipasi yang sangat baik terhadap hal-hal yang tidak diinginkan, sebagaimana pernah terjadi pada naskah-naskah warisan karuhun pendahulu kita masa lalu, yang terbakar seperti di Kampung Adat Naga Tasikmalaya dan Kampung Adat Dukuh Garut pada masa DI/TII.
·          
·         Apa yang telah digagas dan dilakukan mantan Kapolwil Priangan beserta para alim ulama, kiai, kaum cendekia, ilmuwan, dan budayawan se-Polwil Priangan tersebut dapat membuka jalan dan mengungkap isi yang terkandung dalam ”Kitab Alquran Kuno” ataupun naskah syiar/islami lainnya yang tersimpan di Kabuyutan Ciburuy khususnya, dan Jawa Barat pada umunya. Selain itu, mudah-mudahan dapat menjadi contoh dan diikuti oleh tempat lainnya di seluruh nusantara. Karena sebagaimana kita ketahui, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan budayanya sendiri.
·         (Elis Suryani N.S., dosen dan peneliti Universitas Padjadjaran Bandung)
·         Buyut Ni Dawit adalah pertapa perempuan. Berdasarkan data pada kolofon
·         naskah Sewaka Darma (Kropak 408), ia bertapa di Pertapaan Ni Teja Puru
·         Bancana. Pertapaan ini berada di Gunung Kumbang, yang menurut beberapa
·         keterangan ada di wilayah Priangan Timur.
·          
·         Sementara Sang Bujangga Resi Laksha menurut kolofon naskah Serat
·         Buwana Pitu (Kropak 636) besar kemungkinan juga se-orang pertapa atau
·         bahkan raja yang mundur dari kerajaannya dan menjadi seorang resi.
·         Naskah Serat Buwana sendiri ditulis di Giri Sunya (Gunung Sunya).
·          
·         Namun yang penting dicatat di sini adalah peran Kai Raga. Mengapa
·         penting dicatat? Karena sejauh ini, Kai Raga telah menuliskan lebih
·         dari tiga naskah Sunda kuno. Bahkan bisa jadi bertambah banyak lagi,
·         mengingat naskah-naskah Sunda kuna yang belum diteliti banyak. Hingga
·         kini 50-an naskah Sunda kuna yang ada di Perpustakaan Nasional dan
·         Kabuyutan Ciburuy, Garut, masih belum tergarap.
·          
·         Adapun profil Kai Raga dapat kita baca keterangannya dari Ratu Pakuan
·         (1970) karya Atja dan Tiga Pesona Sunda Kuna (2009) susunan J.
·         Noorduyn dan A. Teeuw. Berdasarkan kedua buku tersebut, Kai Raga
·         adalah pertapa yang tinggal di sekitar Sutanangtung, Gunung Larang
·         Srimanganti. Gunung ini merupakan nama kuno Gunung Cikuray, Garut,
·         dewasa ini.
·          
·         Melalui penelusuran dan penafsiran Pleyte yang ada pada Ratu Pakuan
·         dan Tiga Pesona Sunda Kuna, Kai Raga diperkirakan hidup pada awal abad
·         ke-18. Penelusuran dan penafsiran Pleyte ini didasarkan atas
·         perbandingan naskah-naskah yang ditulisnya dengan naskah Carita Waruga
·         Guru yang menunjukkan kesamaan corak huruf.
·          
·         Karya-karya tulis dan koleksi Kai Raga diturunkan kepada kerabatnya.
·         Ia sendiri tidak meninggalkan keturunan. Dan, ketika Raden Saleh pada
·         tahun 1856 mencari-cari peninggalan purbakala atas inisiatif
·         Masyarakat Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia (BGKW), naskah-naskah
·         peninggalan Kai Raga diserahkan kepada pelukis tersebut.
·          
·         Kolofon
·          
·         Hingga kini baru ada lima naskah Sunda yang dinisbatkan kepada Kai
·         Raga. Kelima naskah tersebut adalah: Carita Ratu Pakuan (Kropak 410),
·         Kropak 411, Carita Purnawijaya (Kropak 416), Kawih Paningkes (Kropak
·         419), Gambaran Kosmologi Sunda (Kropak 420), dan Darmajati (Kropak
·         423).
·          
·         Bukti kepenulisan Kai Raga dinyatakannya dalam bentuk kolofon pada
·         masing-masing naskah di atas dan posisinya biasanya berada di akhir
·         teks. Pada Kropak 410 dan 411, ada keterangan: sadu pun, sugan aya
·         sastra leuwih sudaan, kurang wuwuhan. Beunang diajar nulis di Gunung
·         Larang Srimanganti dan beunang nganggeuskeun di sukra wage
·         gununglarang srimanganti. Ini carik kai raga. (Maaflah, bila ada
·         tulisan berlebih, mohon dikurangi, jika kurang tambahi. Hasil belajar
·         menulis di Gunung Larang Srimanganti dan telah selesai dituliskan pada
·         hari Jumat wage di Gununglarang Srimanganti. Ini juru tulis Kai Raga)
·         (Atja, 1970 dan Undang A. Darsa, 2007).
·          
·         Demikian pula Carita Purnawijaya (Kropak 416) dan Darmajati (Kropak
·         423), keduanya menunjukkan keterangan yang sama. Kata-kata yang
·         dimaksud adalah: sugan aya sastra ala de ma, sugan salah gantian,
·         sugan kurang wuwuhan. Beunang Kai Raga nulis, di gunung Larang Sri
·         Manganti (kalaulah ada tulisan jelek dan sia-sia, jika keliru
·         perbaikilah, apabila kurang harap dilengkapi. Tulisan hasil Kai Raga,
·         di Gunung Larang Srimanganti) (Undang A. Darsa, dkk. 2004).
·          
·         Sementara menurut Atja (1970), Kawih Paningkes (Kropak 419) diakhiri
·         dengan kata-kata: ini kang nulis kai raga nu keur tapa di
·         sutanangtung. Sedangkan Gambaran Kosmologi Sunda (Kropak 420), menurut
·         Undang A. Darsa dan Edi S. Ekadjati (2006) diakhiri dengan kata-kata:
·         ini kang anulis Kai Raga, eukeur tapa di Sutanangtung. Sugan kurang
·         wuwuhan, leuwih sudaan (inilah penulis bernama Kai Raga, tengah
·         bertapa di Suta Nangtung. Bila ada kekurangan mohon ditambah, jika
·         berlebihan mohon dikurangi).
·          
·         Isi Karya
·          
·         Secara garis besar, karya tulis Kai Raga dapat dibagi ke dalam dua
·         bagian. Pertama, yang masuk ke rumpun sejarah. Kedua, masuk ke rumpun
·         keagaamaan. Naskah Sunda kuno karya Kai Raga yang mewakili rumpun
·         sejarah adalah Carita Ratu Pakuan (Kropak 410). Sementara yang
·         mewakili keagaamaan adalah Carita Purnawijaya (Kropak 416), Kawih
·         Paningkes (Kropak 419), Gambaran Kosmologi Sunda (Kropak 420), dan
·         Darmajati (Kropak 423).
·          
·         Sementara Kropak 411, sejauh ini belum diketahui keberadaannya. Karena
·         dalam Perpustakaan Nasional Republik Indonesia: Katalog induk
·         naskah-naskah Nusantara jilid 4 (1998), naskah tersebut tidak
·         didapatkan lagi datanya. Akan tetapi, catatan Pleyte dalam
·         Poernawidjaja’s Hellevaart, of de Volledigeverlossing, Vierde bijdrage
·         tot de kennis van het oude Soenda (1914),  jelas menyebutkan
·         keberadaan naskah tersebut. Dengan demikian, besar kemungkinan naskah
·         tersebut telah raib dari koleksi Perpustakaan Nasional.
·          
·         Carita Ratu Pakuan, sebagaimana catatan Atja (1970), dibagi dua
·         bagian. Pertama, me-ngenai gunung-gunung pertapaan para pohaci yang
·         akan menitis kepada para putri pejabat calon istri Ratu Pakuan atau
·         Prabu Siliwangi. Kedua, mengenai kisah Putri Ngambetkasih diperistri
·         Ratu Pakuan.
·          
·         Carita Purnawijaya (Poernawidjaja’s Hellevaart) merupakan adaptasi
·         naskah Jawa kuno yang bernapaskan agama Buddha, Kunjarakarna. Isinya
·         menerangkan Purnawijaya yang mendapatkan pencerahan dari Dewa Utama,
·         perjalanannya ke neraka, dan serta uraian masalah-masalah filosofis
·         yang dia dapatkan. Naskah ini mirip sekali isinya dengan Darmajati,
·         meski di beberapa bagian ada yang berbeda.
·          
·         Selanjutnya, naskah Kawih Paningkes dan Gambaran Kosmologi Sunda pada
·         dasarnya berisi tentang segala macam renungan mengenai masalah-masalah
·         keagamaan. Gambaran Kosmologi Sunda berisi dialog antara Pendeta Utama
·         dengan Pwah Batari Sri me-ngenai bagaimana semua mahluk menjalankan
·         tugasnya masing-masing sesuai bayu, sabda, dan hedap anugerah dari
·         Sang Pencipta. Selain itu, juga ada disebutkan me-ngenai tuntunan
·         peribadatan yang harus dilakukan.
·          
·         Sementara, Kawih Paningkes, menurut Ayatrohaedi, dkk. (1987), berisi
·         embaran mengenai ajaran agama yang bercampur antara kepercayaan Hindu
·         dengan kepercayaan pribumi. Hal tersebut terbukti dengan disebutkannya
·         nama dewa dan dewi agama Hindu dengan nama-nama pohaci dan apsari yang
·         khas Pasundan.
·          
·         Demikianlah Kai Raga dan karya-karyanya. Dengan gambaran tersebut,
·         tampak pentingnya pembacaan, transkripsi, serta alih bahasa
·         naskah-naskah Sunda kuno. Upaya penggalian naskah-naskah Sunda kuno,
·         yang kini masih banyak yang belum tergarap, bisa jadi kita akan
·         memperoleh sejumlah data yang menyangkut nama penulis dan penyalin,
·         wilayah, serta titimangsa kapan naskah ditulis. Dengan demikian akan
·         kian jelaslah pemetaan literasi orang Sunda di masa lalu.. (Atep
·         Kurnia, penulis lepas, bergiat di Pusat Studi Sunda/PSS)***
Orang Sunda sangat memuliakan perempuan. Buktinya, antara lain, dapat kita baca melalui pantun Lutung Kasarung, sebagaimana dikutip Jakob Sumardjo: "Leut dewata opat puluh, pohaci opat puluh, bujangga nu opat purah pulang anting." Ya, dalam Simbol-simbol Artefak Budaya Sunda: Tafsir-tafsir Pantun Sunda (2003: 239-243), guru besar dari STSI Bandung ini membahas tentang pohaci. Apa pohaci itu? Dalam Kamus Bahasa Sunda Kuno-Indonesia susunan Elis Suryani NS dan Undang Ahmad Darsa (2003: 95), arti pohaci atau pwahaci adalah sebutan untuk para dewi; makhluk halus yang berwujud wanita dalam alam gaib, kahiyangan dan bertalian erat dengan pertanian serta kegiatan wanita pada umumnya.
 

Adapun dari segi etimologinya, kata pohaci atau puhaci merupakan gabungan dua kata bahasa Sunda kuno: pwah dan aci. Pwah berarti sebutan untuk wanita dewasa, sedangkan aci merujuk pada arti inti. Walhasil, pwahaci berarti esensi perempuan, atau barangkali perempuan inti.
Kembali ke Jakob Sumardjo. Menurut kritikus sastra kelahiran Klaten, 26 Agustus 1939, ini, pohaci adalah pelaksana perintah Sunan Ambu untuk menolong kebutuhan hidup manusia di bumi (Pancatengah), terutama yang menyangkut kebutuhan primer, yakni makanan (padi), pakaian, dan tempat tinggal.
Jadi, setiap sisi yang berhubungan dengan hajat tersebut ada pohaci yang khusus menjaganya. Misalnya, setiap perkembangan dari tumbuhan padi, penumbukan padi, proses menanak nasi, menenun kain, semuanya memiliki pohaci masing-masing. Contohnya, pohaci yang menjaga lisung adalah Sorowong Jati. Pohaci yang menjaga kapas adalah Ulesan Jati. Namun, yang menjadi pemimpin para pohaci adalah Girang Candoli.
Jadi, tidak mengherankan, orang Kanekes sangat menghormati pohaci. Hal itu tecermin dalam sebuah ungkapan orang Kanekes: "Hirup turun ti Nu Rahayu, hurip lalaran Pohaci" (Saleh Danasasmita dan Anis Djatisunda, Kehidupan Masyarakat Kanekes, 1986: 75-83).
Oleh karena itu, berbakti kepada pohaci, khususnya Nyi Pohaci Sang Hyang Asri, menjadi salah satu kewajiban masyarakat Kanekes. Untuk itu, ada pemujaan masyarakat Kanekes yang diperuntukkan bagi pohaci, yakni upacara kawalu.
Menurut Jakob Sumardjo, sebagaimana yang ia temukan dalam pantun Lutung Kasarung, ada 40 pohaci dalam kosmologi Sunda lama. Jumlah itu sebanyak jumlah para dewata. Temuan yang dimaksud adalah kutipan di awal tulisan: "Leut dewata opat puluh, pohaci opat puluh, bujangga nu opat purah pulang anting."
Namun, selain dari pantun Sunda, kita juga dapat menelusuri pohaci dari naskah Sunda kuno. Bagaimana dan siapa saja pohaci dalam naskah Sunda kuno itu?
Naskah Sunda kuno sejauh yang saya baca, kebanyakan pohaci yang terdapat dalam naskah Sunda kuno berhubungan dengan kalepasan atau moksa. Walhasil, mereka biasanya bersemayam di surga atau kahiangan. Di antara naskah Sunda kuno pun ada juga yang menyebutkan posisi pohaci di bumi, terutama yang berkaitan dengan reinkarnasi.
Naskah Sunda kuno yang menyebut-nyebut pohaci, antara lain, adalah Sewaka Darma (naskah Lontar Kropak 408), Carita Ratu Pakuan (Kropak 410), Kawih Paningkes (Kropak 419), Gambaran Kosmologis Sunda (Kropak 420), Jatiraga (Kropak 422), Darmajati (Kropak 423), dan Sri Ajnyana (Kropak 625).
Dalam naskah Sewaka Darma yang ditransliterasi, direkonstruksi, disunting, dan diterjemahkan oleh Saleh Danasasmita dan kawan-kawan (1987), disebutkan bahwa di atas kahiangan dewa Hindu (Isora, Brahma, Mahadewa, Wisnu, Siwa) ada kahiangan Sari Dewata yang berpenghuni Ni Dang Larang Nuwati, Wirumananggay, Pwah Langkawang Tidar, Pwah Sekar Dewata. Setingkat di atasnya, ada kahiangan Bungawari. Di sinilah bersemayam Pwah Sanghiyang Sri, Pwah Naga Nagini.
Adapun dalam Carita Ratu Pakuan (suntingan dan terjemahan Undang A Darsa, 2007), khususnya di bagian awal naskah baris 1-135, disebutkan, gunung-gunung merupakan tempat bertapanya para pohaci yang bereinkarnasi kepada para calon istri Ratu Pakuan. Dalam naskah ini disebutkan paling tidak lima pohaci: Mambang Siyang, Niwarti, Manireka, Hinten Mananggay, dan Raga Pwah Herang Manik. Kawih Paningkes atau Kawih Panikis, yang ditransliterasi dan diterjemahkan Ayatrohaedi dan Munawar Holil (1995), menyebut beberapa nama pohaci, yaitu Pwah Sang Hyang Sri, Batari Sri Kala, Pwah Wirumananggay, dan Dayang Tresnawati.
Dalam Gambaran Kosmologis Sunda (transliterasi, rekonstruksi, suntingan, dan terjemahan Edi S Ekadjati dkk, 2004), ada Pwah Batari Sri sebagai penguasa tertinggi di kayangan; Pwah Lekawati; Pwah Wiru Mananggay dan Danghyang Trusnawati, pemelihara Bungawari di Pasekulan bukit Tri Jantra si Jatri Palasari di Gunung Jati.
"Pohaci"
Naskah Darmajati (Undang A Darsa, dkk, 2004) paling tidak menampilkan dua nama pohaci yang menghuni kahiangan. Keduanya adalah Nagawati yang bertanggung jawab atas seluruh apsari (Nagawatti nu nangkes aksari kalih) dan Nyi Tulaat yang diciptakan lebih awal oleh Sanghyang Maha (hal 85 dan 100).
Kemudian dalam naskah Sri Ajnyana (J Noorduyn dan A Teeuw, 2006), diceritakan bahwa dalam perjalanannya ke surga, Sri Ajyana, yang dibuang ke bumi bersama adiknya pohaci Pwah Aci Kembang, menemui beberapa pohaci, yaitu Puah Aci Kuning, Sanghiang Sri, Wirumananggay, dan Puah Lakawati.
Namun, naskah Jatiraga atau Jatiniskala (transliterasi, rekonstruksi, suntingan, dan terjemahan Edi S Ekadjati, dkk, 2004) kiranya banyak memberi informasi seputar pohaci. Dalam naskah itu disebutkan ada tujuh pohaci: Pwah Sri Tunjungherang, Pwah Sri Tunjunglenggang, Pwah Sri Tunjunghung, Pwah Sri Tunjungmanik, Pwah Sri Tunjungputih, Pwah Sri Tunjungbumi, dan Pwah Sri Tunjungbuwana. Selain itu, tentu saja ada juga pohaci Pwah Wirumananggay.
Ketujuh pohaci itu masing-masing mempunyai apsari, yakni apsari Tunjungmaba, Tunjungmabra, Tunjungsiang, Tunjungkuning, Nagawali, dan Naganagini. Ada juga Pwah Sri Sari Banawati, Pwah Aksari Manikmaya, Mayalara, Atastista, Madongkap, Aksari Nilasi, Mayati, Wadingin, Kumbakeling, Maya Yuwana, Jana Loka, Manon Hireng, Madwada, Kunti, Titisari, Kindya Manik, Madipwak, Maya, Jabung, Galetwar, Werawati, Rumawangi, Kinasihan, Kamwawati, Kemang, Kujati dan Pwah Bintang Kukus, Jatilawang, Ratnakusumah, Hening Hinisjati, Nongton Manik, Gendang, Kalasan, Kamadipi, Endah Patala, Sedajati, Imitjati, Jlag Sabumi, Pada Ni Wangi, Keling, Goda Bancana, dan Saresehkane.
Bila membaca banyaknya nama dan peranan pohaci di kahiangan dan pertapaan dari naskah-naskah Sunda kuno di atas, saya kian yakin bahwa orang Sunda sangat memuliakan perempuan. Apalagi, dalam Jatiraga tertulis, "Aci pwah ma Sang Hyiang Sri Wisesa" (Hakikat kewanitaan itu ialah kekuasaan Sang Hyiang Sri).
Orang Sunda Memuliakan Perempuan
Sabtu, 7 Maret 2009 | 15:48 WIB
Oleh Atep Kurnia
ATEP KURNIA Penulis Lepas; Bergiat dalam Sawala Bulanan Pusat Studi Sunda
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/07/1548023/orang.sunda.memuliakan.perempuan
Last Updated on Monday, 07 December 2009 03:35
 Sabtu, 24 Agustus 2002Menyikapi Penggalian Situs BatutulisOleh REIZA D DIENAPUTRATANPA diduga, berita yang semula terkesan biasa-biasa saja, dalam waktu relatif singkat segera berubah menjadi demikian menghebohkan. Bermula dari adanya informasi penggalian di Situs Prasasti Batutulis, yang terletak di Kelurahan Batutulis, KecamatanBogor Selatan, berita berkembang menjadi menarik ketika diketahui bahwa penggaliantersebut dikomandani langsung oleh Menteri Agama Said Agil Husin Al Munawar.Adapun tujuannya, dan ini yang membuat informasi dari Jalan Batutulis menjadi semakinmenarik adalah untuk mencari harta karun. Konon kabarnya (bukan kata Mbah Dukun),harta karun tersebut bila berhasil ditemukan akan mampu menutup seluruh utang negara.Dengan demikian nilai harta karun tersebut setidaknya berjumlah 36,4 miliar dollar AS.Itupun bila angka yang digunakan adalah jumlah total utang luar negeri Indonesia yang jatuh tempo pada tahun 2002.Disadari atau tidak, upaya penggalian situs-situs purbakala untuk tujuan mencari hartakarun sebenarnya bukanlah merupakan fenomena baru. Termasuk bagi bangsa yangtengah dilanda krisis multidimensional ini. Namun, upaya pencarian harta karun diseputar Situs Prasasti Batutulis ini menjadi istimewa karena 'petunjuk' ke arah penggaliannya tidak didasarkan atas bukti-bukti ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkantetapi hanya didasarkan atas informasi 'orang pintar'. Di balik itu semua, yang justru tidak kalah menarik untuk diamati adalah penyikapan yang diberikan oleh berbagai elemenmasyarakat, khususnya masyarakat yang berasal dan atau tinggal di Jawa Barat.Prasasti BatutulisBerbicara tentang Prasasti Batutulis berarti berbicara tentang sebuah kerajaan HinduBudha yang pernah manggung di tatar Sunda, sekaligus kerajaan Hindu Budah yang paling lama eksis di Indonesia, yakni Kerajaan Sunda Pajajaran. Prasasti Batutulis sendirisebenarnya hanyalah salah satu dari sekian banyak prasasti yang ditinggalkan kerajaanSunda Pajajaran selama 909 tahun eksistensinya (670 M-1579 M). Adapun jumlahkeseluruhan prasasti yang berasal dari Kerajaan Sunda Pajajaran adalah 25 prasasti; 19 prasasti terbuat dari batu dan sisanya terbuat dari tembaga.Di samping Prasasti Batutulis, prasasati-prasasti lainnya yang merupakan peninggalanKerajaan Sunda Pajajaran di antaranya adalah Prasasti Rakryan Juru Pangambat, PrasastiSanghyang Tapak, dan Prasasti Kabantenan. Prasasti Rakryan Juru Pangambat, yang berangka tahun 654 Saka (932 M) dapat dikatakan merupakan prasasti tertua yangmenyebut nama Sunda. Prasasti yang ditemukan di Desa Kebon Kopi, Bogor ini, antaralain menyebut keterangan, ...ini sabdakalanda rakryang juru pangambat i kawihaji panyca pasagi marcandeca barpulihkan haji sunda, yang artinya, (... ini tanda ucapan rakryan juru pangambat dalam tahun saka 854 bahwa pemerintahan daerah dipulihkan kepada rajasunda). Prasasti Sanghyang Tapak yang berasal dari tahun 952 Saka atau 1030 M ditulisdalam bahasa Jawa Kuno dan huruf Kawi. Prasasti ini isinya antara lain menyebutkan
bahwa pada tahun 1030, Maharaja Sri Jayabhupati ... magaway tepek i purwwasanghyang tapak ... (membuat tepek atau daerah larangan di sebelah Timur SanghyangTapak ...). Daerah larangan itu berupa sebagian dari sungai yang dinyatakan tertutupuntuk segala macam penangkapan ikan dan penghuni sungai lainnya. Bila melanggar larangan tersebut akan termakan sumpah yang berlaku sepanjang masa, seperti, terbelahkepalanya, terminum darahnya, terpotong-potong ususnya, terhisap otaknya, dan terbelahdadanya. Prasasti Kabantenan termasuk jenis tamra prasasti, yaitu prasasti yang ditulis pada lempengan tembaga. Dalam Prasasti Kabantenan yang berjumlah lima buah tersebut pada intinya memuat pesan yang sama, yakni mengenai penetapan wilayah-wilayahtertentu menjadi daerah yang dibebaskan dari pajak atas dasar kesucian atau kepentingankeagamaan.Prasasti Batutulis yang berangka tahun 1455 Saka (1533 M) ditulis dalam bahasa danhuruf Sunda Kuno. Dibanding prasasti-prasasti lainnya, prasasti ini dapat dikatakanmerupakan prasasti yang paling banyak menyebut nama raja Kerajaan Sunda Pajajaran.Setidaknya ada tiga nama raja yang tertulis dalam prasasti ini, yaitu, Prabu GuruDewataprana alias Sri Baduga Maharaja atau Sri Ratu Dewata, Rahiyang Dewa Niskala,dan Rahiyang Niskala Wastu Kancana. Ketiga nama raja ini, memiliki hubungan sebagaianak, ayah, dan kakek. Adapun terjemahan isi prasasti tersebut, sebagaimanadikemukakan Saleh Danasasmita, adalah sebagai berikut. 'Semoga selamat. Ini tanda peringatan untuk (peninggalan dari) Prabu Ratu Suwargi. Ia dinobatkan dengan gelar Prabu Guru Dewataprana. Dinobatkan (lagi) ia dengan gelar Sri Baduga Maharaja RatuAji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (di) Pakuan.Dia anak Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang di Guna Tiga; cucu Rahiyang NiskalaWastu Kancana yang mendiang di Nusa Larang. Dialah yang membuat tanda peringatan(berupa) gunung-gunungan, membangun jalan yang diperkras dengan batu, membuatsamida, membuat Sanghiyang Talaga Rena Mahawijaya. Ya dialah (yang membuatsegala itu), (dibuat) dalam (tahun) saka 1455 (sic.)'. Melihat tahun pembuatannya, yakni1455 Saka atau 1533 M, maka dapat dipastikan bahwa pembangunan Prasasati Batutulisini dilakukan pada masa pemerintahan Sang Prabu Surawisesa (Ratu Sangiang). PrabuSurawisesa yang merupakan anak kandung Sri Baduga Maharaja memerintah dari tahun1521 M hingga 1535 M.Melihat isi yang terkandung dalam Prasasti Batutulis secara eksplisit terlihat bahwa pembuatan prasasti tersebut hanyalah sebagai sebuah monumen peringatan atas jasa besar yang telah dilakukan Sri Baduga Maharaja. Dengan demikian, Prasasti Batutulis tersebutsama sekali tidak memuat suatu 'pesan' yang dapat dijadikan alasan untuk menjadikan prasasti atau tempat dimana prasasti tersebut berada dikeramatkan atau disakralkan. Haltersebut jelas berbeda dengan Prasasti Sanghyang Tapak. Melihat isi yang terkandung didalamnya, Prasasti Sanghyang Tapak memuat pesan yang jelas tentang adanya daerahlarangan dan sanksi bagi yang melanggarnya.Bentuk PenyikapanDilihat dari panjangnya rentang waktu pejalanan sejarah Kerajaan Sunda Pajajaran,Prasasti Batutulis, sebagaimana prasasti-prasasti Kerajaan Sunda Pajajaran lainnya yangtelah berhasil ditemukan, hanya memberi sedikit informasi
tentang Kerajaan SundaPajajaran. Dalam kondisi seperti itu, maka setiap upaya penelitian, termasuk di dalamnya penggalian situs, yang ditujukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belumterungkap seputar Kerajaan Sunda Pajajaran pada dasarnya perlu disikapi secara positif.Penyikapan yang sama sebenarnya patut diberikan pada penggalian situs yang terjadi pada tanggal 14 Agustus 2002. Penyikapan yang berupa dukungan ini tentunya, sekalilagi, perlu diberikan apabila penggalian situs tersebut ditujukan untuk meneliti lebihlanjut berbagai misteri yang menyelimuti Situs Prasasti Batutulis. Namun, bentuk  penyikapan tersebut bisa menjadi lain tampilannya manakala tujuan penggalian tersebutadalah bukan untuk tujuan penelitian atau pengungkapan sejarah Kerajaan SundaPajajaran.Penjelasan gamblang menteri agama bahwa penggalian situs Prasasti Batutulis adalahuntuk tujuan mencari harta karun, benar-benar telah membuat banyak orang terperangah.Tidak sedikit di antaranya yang sulit untuk mempercayai bahwa ucapan tersebut munculdari pejabat publik setingkat menteri. Terlebih manakala dikatakan bahwa petunjuk untuk melakukan penggalian di sekitar situs tersebut diperoleh atas informasi dari seorang ustazyang diyakini sang menteri sebagai orang pintar. Untuk memberi legitimasi lebih kuatatas prakarsa penggaliannya tersebut, meskipun kemudian dibantahnya sendiri dalam jumpa pers tanggal 21 Agustus 2002, menteri agama juga mengatakan bahwa ia telahmemperoleh izin presiden. Akibatnya, hebohlah berita penggalian tersebut. Berbagaireaksi pun segera muncul. Namun demikian, sangat disayangkan komentar-komentar yang muncul di seputar  penggalian tersebut sebagian di antaranya cenderung emosional dan tidak proporsional.Bahkan, yang lebih ironis lagi, perilaku irasional yang dituduhkan terhadap menteriagama justru ditanggapi dengan cara-cara yang (sebenarnya) irasional pula. Termasuk  penyikapan yang kemudian memandang situs tersebut sebagai tempat keramat dan sakralsehingga tidak boleh diusik sedikit pun juga. Bahkan adapula yang kemudianmenghubungkan akibat penggalian tersebut dengan berbagai kejadian yang menimpakota Bogor pasca terjadinya penggalian.Sebenarnya, apabila mau berpikir jernih dan lebih hati-hati, dampak positif pascaterjadinya penggalian akan lebih banyak muncul. Sebelum penyikapan diberikan,tentunya perlu dipertanyakan dulu, apa tujuan sebenarnya penggalian tersebut? Benarkahmemang tujuannya hanya untuk mencari harta karun? Kalau memang untuk mencariharta karun, jenis harta karun apa yang sebenarnya tengah dicari menteri agama?Tidakkah ada kemungkinan bahwa dibalik semua itu sebenarnya ada skenario pentingyang tengah digulirkan menteri agama?Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tentu banyak kemungkinan jawabanyang dapat dikedepankan. Namun demikian, bila kasus tersebut dilihat dari perspektif lain bisa jadi di balik perilaku irasional yang jelas-jelas ditampilkan menteri agama adasatu misi besar yang sebenarnya ingin dilakukan menteri agama, yakni ingin mengikis perilaku irasional yang kini demikian mewabah pada bangsa ini. Bukan rahasia umum
·         lagi bahwa di tengah krisis multidimensional ini banyak pihak yang kemudianmemanfaatkannya untuk menjual program-program pencarian harta karun, baik itu hartakarun para mantan raja, mantan presiden, sampai mantan pemberontak sekalipun.Program-program pencarian harta karun yang sudah demikian mewabah ini anehnyatermasuk komoditi yang laku dijual sehingga mendapat sambutan penuh antusias darisebagian masyarakat, bahkan dukungan terkadang muncul dari mereka-mereka yang berasal dari kalangan terdidik. Untuk meyakinkan para 'korbannya', tidak hanya tempat-tempat tertentu yang ada di darat yang diindikasikan menyimpan harta karun tersebut,termasuk sejumlah bank, khususnya bank di luar negeri, tetapi juga tempat-tempat disekitar perairan Indonesia. Para bobotoh harta karun ini biasanya baru akan tersadarkan bahwa program tersebut hanya bualan belaka apabila waktu yang dijanjikan untuk menerima pembagian harta karun telah lewat sementara mereka belum memperoleh bagian atau para seller program menghilang entah kemana rimbanya.Dalam kaitan itulah tampaknya menteri agama ingin membuka mata semua pihak melalui penggalian yang dilakukan di Situs Prasasti Batutulis, meskipun untuk itu iaharus menuai badai kritik dan cercaan. Mengapa Situs Prasasti Batutulis yang menjadiobjek perburuan harta karun? Jawabannya tegas, karena Situs Prasasti Batutulis termasuk salah satu lokasi yang sering disebutkan banyak menyimpan harta karun, termasuk oleh para seller program perburuan harta karun. Tujuan akhirnya jelas, dengan memilihsampel di lokasi yang banyak diisukan, menteri agama tampaknya ingin memperlihatkankepada masyarakat bahwa program-program pencarian harta karun tersebut hanyalah bualan belaka. Dengan cara ini, masyarakat yang selama ini telah termakan oleh mimpi-mimpi tentang adanya sejumlah harta karun di sekitar Situs Prasasti Batutulis dapatsecepatnya tersadarkan karena bukti yang ditampilkan adalah bukti konkrit.Kalau tujuannya memang seperti itu maka jelas kesalahan terbesar menteri agama adalahia kurang cerdik dalam memainkan skenario tersebut. Sebagai orang terdidik, ulama,sekaligus pejabat negara, menteri agama seharusnya memperhatikan berbagai prosedur yang dipersyaratkan untuk melakukan penggalian. Prosedur perizinan dan pengunaanmetode ilmiah dalam penggalian seyogianya ditempuh menteri agama. Bahkan pemetaanlokasi dengan geo electric prospecting sebelum penggalian dimulai sudah seharusnyadilakukan terlebih dahulu.Selanjutnya, bila ide pencerahan ini memang menjadi tujuan sebenarnya menteri agama, betapapun pada akhirnya kita perlu menyikapinya secara positif. Penggalian perluditeruskan tetapi dengan memperhatikan kaidah-kaidah ilmiah yang dapatdipertanggungjawabkan. Bisa jadi dibalik ide pencerahan tersebut, justru pada akhirnyaakan muncul blessing in disguise. Harta karun benar-benar akan ditemukan di SitusPrasasti Batutulis. Namun, harta karun tersebut bukan barang yang bernilai jual tinggisebagaimana yang selama ini diisukan, tetapi justru harta karun yang memiliki nilaisejarah dan budaya tinggi, yakni bukti-bukti yang lebih lengkap tentang eksistensiKerajaan Sunda Pajajaran.Berdasarkan perspektif pemikiran tersebut jelaslah penyikapan yang bersifat emosionaldan irasional jelas perlu dihindari dalam 'membaca' kasus Batutulis ini. Terkadang apa
·          
yang tersurat tidak selalu sama dengan apa yang tersirat. Penghormatan terhadap peninggalan leluhur memang perlu dilakukan namun penghormatan tersebut tetap harusdilakukan secara proporsional. Penyikapan secara berlebihan, termasuk menjadikannyasebagai benda atau tempat keramat dan sakral pada dasarnya hanya akan semakinmemperkokoh perilaku irasional yang kini menghantui bangsa ini. Lebih dari itu, akanlebih indah kiranya bila penyikapan (baca, penghormatan) terhadap peninggalan leluhur tersebut tidak sekedar ditampilkan hanya pada saat kasus model Batutulis ini terjadi tetapi justru ditampilkan dalam perilaku sehari-hari sebagaimana di antaranya diajarkan dalamnaskah Sewaka Darma (1021 Saka/1099 M), tentang larangan dan perintah; melarangorang untuk salah langkah, salah ambil, salah dengar, dan salah cium, sertamemerintahkan orang untuk memiliki keberanian, kepribadian, kewaspadaan, dankegembiraan (rasa optimis). Sementara dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian(1440 Saka/1518 M) di antaranya diajarkan pula tentang sepuluh kebaktian, .... nihansinangguh dasa prebakti ngaranya: anak bakti di bapa, ewe bakti di laki, hulun bakti di pacandaan, sisya bakti di guru, wong tani bakti di wado, wado bakti di mantri, mantri bakti di nunangganan, nunangganan bakti di mangkubumi, mangkubumi bakti di ratu,ratu bakti di dewata, dewata bakti di hyang ... (... inilah peringatan yang disebut sepuluhkebaktian: anak bakti kepada bapa, istri bakti kepada suami, rakyat bakti kepada pacandaan (=tempat bersandar), murid bakti kepada guru, petani bakti kepada wado(=pegawai rendahan), mantri bakti kepada nu nangganan, nu nangganan bakti kepadamangkubumi, mangkubumi bakti kepada raja, raja bakti kepada dewata, dewata baktikepada hyang ...).***Penulis adalah Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.Selasa, 08 Oktober 2002Kepemimpinan dalam Masyarakat SundaOleh AYATROHAEDIPERILAKU para pemimpin di jalan moderen ini sangat membingungkan masyarakat.Ada pejabat yang dalam setiap kesempatan mengubah pernyataan sebelumya, ada yangsering mengatakan lupa mengenai suatu hal jika sekiranya akan memojokkannya. Ada pula para pejabat yang saling salahkan atau saling lindungi, tergantung situasi dansuasana. Di samping itu, para atasan hampir selalu menganggap dirinya benar dan bawahan kurang memahami saran, perintah, atau nasihat yang disampaikannya.Semuanya ternyata mempunyai satu tujuan: menyelamatkan diri, baik kedudukanmaupun penghasilan. Semuanya ternyata mempunyai satu sasaran: mengorbankan bawahan yang pasti tidak akan membant ah karena mereka pun perlu kedudukan dan penghasilan.Lalu, ke mana keteladanan harus dicari? Mungkinkah teladan itu dapat ditemukan dalam berbagai warisan budaya yang umumnya sudah diabaikan karena tidak menjanjikan hidupyang lebih dari segi sosial dan ekonomi? Mungkinkah teladan itu justru masih dapaditemukan pada masyarakat "primitif" atau sekurang-kurangnya "terbelakang"dibandingkan cara dan gaya hidup sehari-hari massa kini?Sejumlah naskah berbahasa Sunda Buhun mengandung rucita (konsep) kepemimpinanyang dapat dijadikan rujukan dalam upaya memahami citra kepemimpinan tradisionalSunda berdasarkan naskah dan prasasti. Di antara naskah itu, yang terpenting adalahSanghyang Siksa Kandang Karesian (SSKK) dari tahun 1518 (Aca, 1972) dan olehSuhamir (1961) disebut sebagai 'ensikpoledi Sunda'. naskah lainnya adalah CaritaParahyangan (CP) dari tahun 1580 (Aca 1967), berupa sebuah "ikhtisar sejarah" Tatar Sunda sejak masa kerajaan Galuh dan Sunda hingga keruntuhan kerajaan Pajajaran (669-1579), dan Sewakadarma (SD) yang tanpa tahun (Saleh Danasasmita dkk. 1987) namundiperkirakan berasal dari masa yang hampir sama atau bahkan lebih tua (Ayatrohaedi2001).Ini beberapa kutipan dari naskah SSKK:1.nihan sinangguh dasaprebakti ngaranya, anak bakti di bapa, ewe bakti di salaki, hulun bakti di pacandaan, sisya bakti di guru, wang tani bakti di wado, waso bakti di mantri,mantri bakti di nu nangganan, nu nangganan bakti di mangkubumi, mangkubumi bakti diratu, ratu di dewata, dewata bakti di hyang, ya ta sinangguh dasaprebakti ngaranna.(Inilah yang disebut Dasarprebakti 'sepuluh kebaktian': Anak berbakti kepada ayah, istri berbakti kepada suami, hamba berbakti kepada majikan, siswa berbakti kepada guru, petani berbakti kepada wado, wado berbakti kepada nu nangganan, nu nangganan berbakti kepada mantri, mantri berbakti kepada mangkabumi, mangkabumi berbaktikepada raja, raja berbakti kepada dewata, dewata berbakti kepada hyang. Ya itulah yangdisebut Dasaprebakti namanya).2. ini twah ing jnma, pigunaon na urang reya. ulah mo turut sanghyang siksa kandangkaresian, jaga rang dek luput ing pancagati, sangsara, mulah carut mulah sarereh, mulahnyangcarutkon maneh, kalinganya nyangcarutkon maneh ma ngaranya: nu aya dipajar hanto, nu hanto dipajar waya, nu inya dipajar lain, nu lain dipajar inya, nya karah edapnama kira-kira, budi-budi ngajerum mijahotan, eta byaktana nyangcarutkon manehngaranna. nyangcarutkon sakalih ma ngaranna, mipit mi amit, ngala mo menta, ngajuputmo sadu; makanguni tu tunumpu, maling, ngetal, ngabegal, sing sawatek cekap carut, yanyangcarutkon sakalih ngaranna. (Inilah perilaku manusia yang akan berguna bagi orang banyak. Ikutilah Sanghyang Siksa Kandang karesian. Waspadalah, agar kita terluput dari pancagati ('lima penyakit: keserakahan, kebododohan, kejahatan, ketekeburan,keangkuhan) sehingga tidak sengsara. Janganah berkhianat, jangan culas, janganmengkhisnati diri sendiri. Yang dikatakan mengkhianati diri sendiri ialah jika yang adadikatakan tiada, yang tiada dikatakan ada, yang benar dikatakan salah, yang salahdikatakan benar. Begitulah, tekadnya penuh dengan muslihat. Perbuatan memitnah,menyakiti hati (orang lain), itulah kenyataannya yang disebut mengkhianati diri sendiri.Yang disebut mengkhianati orang lain ialah memetik (milik orang lain) tanpa perkenan,mengambil tanpa meminta, memungut tanpa memberi tahu. Demikian pula halnyadengan merampas, mencari, merampok, menodong; segala macam perbuatan khianat, ymengkhianati orang lain namanya).3. ini ujar sang sadu, basana drebyana. ini tritangtu di bumi. bayu kita pinaka prebu,sabda kita pinaka rama, hedap kita pinaka resi. ya tritangtu di bumi, ya kangken pineguhning bwana ngaranna. (Inilah nasihat Sang Budman ketika menyentosakan pribadinya.Inilah tiga ketentuan di dunia: kesentosaan kita bagaikan raja, ucap kita ibarat tetua, budikita ibarat resi. Itulah tritangtu dibumi, yang disebut (sebagai) peneguh dunia).4. ini triwarga di lamba. wisnu kangken prabu, brahma kangken rama, isora kangkengresi. nya mana tritangtu pineguh ning bwana, triwarga hurip ning jagat. ya sinangguhtritangtu di nu reya ngaranya. (Inilah triwarga di lamba 'tiga golongan dalam kehidupan'.Wisnu ibarat raja, Brahma ibarat tetua (=rama), Isora (Iswara) ibarat resi. Karena itulahtritangtu menjadi peneguh dunia, triwarga menjadi kehidupan di dunia. Ya disebutsebagai tritangtu pada orang banyak namanya).5. teguhkon pagohkon sahingga ning tuhu, pepet, byakta warta manah. mana kreta na bwana, mana hayu ikang jagat, kena twah ning janma kapahayu. (Teguhkan, kukuhkan batas-batas kebenaran, penuh kenyataan sikap baik dalam jiwa sehigga dunia menjadi baik sebagai akibat dari perbuatan manusia yang baik).6. kitu keh, sang pandita pogoh dipakanditaanana, kreta; sang wiku pogoh dikawikianana, kreta; sang manguyu pagoh di kamanguanana, kreta; sang paliken pagoh dikapaliikennana, kreta; sang tetega pagoh di kategaanana, kreta; sang ameng pagoh dikaamenganana, kreta; sang wasi pagoh di kawasianana, kreta; sang ebon pogoh dikaebonana, kreta; makanguni sang walka pagoh di kawalkaanana, kreta; sang wong tani pagoh di katanianana, kreta; sang owah pagoh di kaowahanana, kreta; sang gusit pagoh dikagusitanana, kreta; sang mantri pagoh di kamantrianana, kreta; sang masang pagoh dikamangsaanana, kreta; sang bujangga pagoh di kabujanganana, kreta; sang tarahan pogohdi katarahanana, kreta; sang disi pagoh di kadisianana, kreta; sang rama pagoh dikaramaanana, kreta; sang resi pagoh di keresianana, kreta; prebu pagoh di kapreuanana,kreta. (Demikianlah, sang pendeta kukuh dalam kependetaannya, sejahtera; sang wiku(ahli agama) teguh dalam kewikuannya, sejahtera; manguyu (ahli gamelan) kukuhdengan kemanguyuannya, sejahtera; paliken (senirupawan) kukuh dalam kepalikenannya,sejahtera; ameng (pelayan biara) kukuh dalam keamengannya, sejahtera; wasi (cantik, pengikut agama) teguh dalam kewasiannya, sejahtera; ebon (biarawati) kukuh dalamkeebonannya, sejahtera; tetega (biarawan) kukuh dalam ketegaannya, sejahtera; demikian juga jika sang walka (petapa berpakaian kulit kayu) teguh dalam kewalkaannya,sejahtera; petani teguh dalam kepetaniannya, sejahtera; owah (penjaga ladang) teguhdalam keowahannya, sejahtera; gusti (tuan tanah) kukuh dalam kegustiannya, sejahtera;mantri (menteri) kukuh dalam kemantriannya, sejahtera; sang masang (penjerat binatang)kukuh dalam kemasangannya, sejahtera; bujangga (ahli agama) kukuh dalamkebujanggaannya, sejahtera; sang tarahan (penambang perahu) kukuh dalamketarahannyal sejahtera; sang disi (ahli obat) teguh dalam kedisiannya, sejahtera; rama(tetua desa) kukuh dalam keramaannya, sejahtera; resi (utuma) kukuh dalam keresiannya,sejahtera; dan prebu (raja) kukuh dalam keprebuannya, sejahtera) 7. nguni sang pandita kalawan sang dewaratu pagoh ngretakon ing bwana, nya manalreta lor kidul kuln wetan, saka kasangga dening pretiwi, saka kakurung dening akasa; pahi manghurip ikang sarwo janma kabeh. (Demikianlah, jika penderita dan rajasungguh-sungguh berupaya menyejahterakan dunia, maka sejahteralah di utara, selatan, barat, dan timur; semua yang tersangga (terpikul) oleh bumi, semua yang ternaungilangit, sejahteralah hidup sekalian makhluk (manusia).Dalam pada itu, paparan naskah SD umumnya berkenan dengan kehidupan keagamaan.SD merupakan salah satu bukti tentang pernah berkembangnya aliran Tantrayana di Tatar Sunda. Ajaran itu menampilkan campuran aliran Siwasidanta yang menganggap semuadewa sebagai penjelmaan Dewa Siwa, dengan agama Buda Mahayana. Di antara kerajaanatau negara di Tatar Sunda yang meninggalkan bekasnya dalam hal ajaran itu adalahkerajaan Talagamanggung yang berdiri sekitar abad ke-14 dan merupakan kerajaan beragama Buda aliran Stwawirawada; di daerah pusat kerajaan Sunda terdapat batumandala yang membuktikan pernah berkembangnya agama Buda Wijrayana di daerah itu(Saleh Danasasmita dkk.). Campuran agama Siwa dan Buda itu masih berbaur dengan"agama pribumi" karena ternyata unsur hyang tetap dibedakan dengan dewata, walaupuntempat tinggal para dewata juga disebut kahyangan. Jika dikaji lebih mendalam, akandapat diketahui bahwa kedudukan hyang dan dewata pada naskah SD (Kropak 408)masih seimbang, sedangkan dalam SSKK (Kropak 630) sudah ditemukan dewa bakti dihyang. Hal itu menunjukkan bahwa pada saat SSKK ditulis, anasir Hindu sudah kianterdesak oleh anasir "pribumi" atau Nusantara, sekaligus menjadi petunjuk bahwa SD,walaupun tanpa angka tahun, lebih tua dari SSKK (Ayatrohaedi).Kehidupan masyarakat dan kepemimpinan Naskah SSKK merupakan salah satu sumber penting dalam upaya memahami kehidupanmasyarakat Sunda masa silam, terutama pada masa sebelum masuknya pengaruh Islam.Dilengkapi berbagai embaran yang terdapat dalam naskah lain (CP, SD, Carita RatuPakuan, Galungung, Bujangga Manik, Waruga Jagat), dapat diperoleh gambaran hal-halyang berkenaan dengan kehidupan masyarakat Sunda Islam itu. Hal-hal yang agak jelasterdapat dalam naskah-naskah itu antara lain yang berkenaan dengan "birokrasi" dan pembagian kekuasaan, pelapisan masyarakat, kesehatan dan lingkungan, dan hubunganyang terjadi dalam tata masyarakat pada masa itu (kys.).Menurut sumber Portugis, perjanjian antara Suanda dan Portugis berlangsung padatanggal 22 Agustus 1522. Dari pihak Sunda, penandatangan adalah Ratu Samiam yangsebelumnya penguasa daerah Sangiang dengan bandar Kalapanya. Dihubungkan dengan berita CP, berarti bahwa Ratu Samiam adalah Prabu Surawisesa yang berkuasa selama 14tahun (1521-35) di kerajaan Sunda.Dari berbagai sumber, antara lain CP, dapat diketahui bahwa kerajaan Sunda berkembang sekira 900 tahun (669-1579). Negara itu terdiri atas sejumlah wilayah lebihkecil, namun pada umumnya tetap mengakui kekuasaan kerajaan Sunda. Pada dasarnyakerajaan Sunda merupakan "negara kembar", terdiri atas dua negara dengan wilayah yangluasnya berimbang, yaitu Sunda di barat dan Galur di timur. Di wilayah kedua negara ituterdapat sejumlah negara bawahan dengan para penguasa yang umumnya masih kerabatraja "pusat". Bahkan, dalam beberapa hal tertentu, sering calon raja "dilatih" denganmemberinya kekuasaan di negara bawahan.Rucita Dasaprebakti dalam SSKK menggambarkan bahwa pejabat yang paling dekathubungannya di bawah raja adalah mangkubumi 'perdana menteri'. Ia bertanggungjawabatas segala sesuatu yang terjadi atau dilakukan oleh bawahannya, nu nangganan, lalu berturut-turut ke bawah ada mantri dan wado. Jabatan nu nangganan juga tercatat dalamnaskah Carita Ratu Pakuan: /10b/ (....) tan liyan girang nangganan nu / I Ia/ nangganan para putri nu golis (....) 'tidak lain (daripada) girang nangganan yang menangani(mengasuh?) para putri yang jelita' (Aca 1970). Jadi, nu nangganan adalah pejabat yangcukup memperoleh kepercayaan dari raja.Dengan demikian, barangkali struktur kerajaan Suanda dapat dibinaulang sebagai berikut: Di tingkat pemerintahan pusat, kekuasaan tertinggi berada di tangan raja. Dalam pelaksanaan tugasnya sehar-hari, raja dibantu oleh mangkubumi yang membawahi beberapa orang nu nangganan. Di samping itu, ada putra makuta yang akanmenggantikan kedudukan raja jika raja meninggal atau mengundurkan diri. Untuk mengelola wilayah yang sangat luas itu, raja dibantu oleh beberapa orang raja bawahanatau raja daerah. Raja-raja itu melaksanakan tugas mereka sehari-hari bertindak sebagairaja yang merdeka, namun mereka tetap mengakui raja Sunda sebagai jungjunan mereka.Dalam hal raja tidak mempunyai anak laki-laki yang berhak menggantikannya sebagairaja, tahta dapat beralih kepada menantunya. Jika putra makuta masih terlalu muda untuk memegang tampuk pemerintahan, mangkubumi dapat bertindak sebagai pejabatsementara raja. Dalam pada itu, untuk masalah perniagaan, di bandar-bandar kerajaanraja diwakili oleh syahbandar yang bertindak untuk dan atas nama raja Sunda di bandar yang dikuasakan kepada mereka.Struktur kerajaan itulah yang dianggap paling sesuai dengan kerajaan Sunda. Berbagaicarita pantun juga pada umumnya mengisahkan seorang anak raja Pajajaran yangmengembara, dan dalam pengembaraannya ia menaklukkan berbagai raja kecil. Setelahraja-raja itu takluk, diangkat kembali sebagai penguasa di daerahnya, dengan syarat harusmengakui kekuasaan tertinggi yang berada di Pakuan Pajajaran.Dalam CP dikisahkan bahwa selama rentang waktu yang sangat panjang itu, ada beberapa orang raja Sunda yang berhasil membawa negaranya ke dalam masa keemasankena rampes na agama, kretayuga 'karena sempurna mengamalkan agama, makatercapailah keadaan yang serba sejahtera' (Saleh Danasasmita 1984). Secara khusus, berkenaan dengan masa pemerintahan Niskala Wastukancana (1371-1475) CPmengembarkan, .... nya mana sang rama enak amangan, sang resi enak ngaresianana,ngawakan na purbatisti-purbajati. sang distri enak masini ngawakan na manusasana,ngaduman alas pari alas. ku beet hamo diukih, ku gede diukih. nya mana sang tarahanenak lalayaran ngawakan manurajasasana. sanghyang apah, teja, bayu, akasa, sangbuenak-enak ngalungguh di sanghiyang jagatpalaka, ngawakan sanghiyang rajasasana,angadeg disanghiyang linggawesi, brata siya puja tan palum. sang wiku enakngadewasanana, ngawakan sanghiyang watang agong, enak mangadeg manurajasunyi....'Dengan demikian, sang rama (sesepuh desa) dapat leluasa mengemong (membimbing)rakyat, sang resi dapat leluasa melaksanakan tugas sebagai pendeta mengamalkan adat-istiadat warisan leluhur. Sang disri dapat leluasa mengatur pembagian wilayah,mengamalkan hukum Manu, membagikan hutan dan daerah sekitarnya. Yang kecilmaupun yang besar tidak ada yang menggugat. Karena itulah sang tarahan dapat leluasanmengurangi perairan mengamalkan peraturan raja. Air, cahaya, angin, angkara, "eter"merasa betah berada dalam naungan sang pelindung dunia. Wastu Kancana) menerapkanundang-undang kerajaan, menetap (?) di sanghyang linggawesi (nama ajaran atau AstanaGede?). Ia melakukan tapa dan puja tiada henti-hentinya. Sang Wiku (Wastu Kancana)dengan leluasa melaksanakan undang-undang dewa, mengamalkan sanghyang watangageung (ajaran yang disusun oleh Sang Kandiawan, ayahanda Wretikandayun). Dengantenang ia melaksanakan manurajasuniya ('bertapa setelah turun tahta').Seperti ditegaskan dalam SSKK, terdapat "trias politika" Sunda di masa lampau.Pedoman itu disebut tritangtu(di bumi) yang pelaksanaannya muncul dalam wujudtriwarga di lamba. Pedoman itu mengatur dan menata fungsi, kedudukan, dan peran yangmelekat pada unsur-unsur tritangtu itu. Tujuannya adalah untuk menyentosakan pribadi(seseorang). Ia harus sentosa bagaikan raja, ucapannya harus dapat dipegang bagaikan petuah para tetua, sedangkan budinya haruslah bagaikan budi seorang resi. Tritangtuitulah yang disebut sebagai peneguh dunia.Dalam pada itu, dalam kehidupan sehari-hari pun ada tiga hal yang nyatanya merupakan perwujudan rucita tritangtu itu. Ketiganya dikembalikan perumpamaannya kepadaTrimurti (Brahma, Wisnu, Siwa). Sesuai dengan fungsinya, raja diibaratkan Wisnu, paratetua diibaratkan Brahma, sementara resi diibaratkan Siwa atau Iswara. Tritangtu menjadi peneguh dunia, triwarga menjadi kehidupan di dunia.Agar semuanya itu berlangsung dengan bai, maka setiap orang, sesuai dengankedudukannya, harus kukuh berpegang dan menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawab dan kudratnya. Pendeta, misalnya, harus kukuh sebagai pendeta, raja harus kukuhsebagai raja, dan resi pun harus kukuh sebagai resi.Ternyata, rucita tritangtu itu tetap bertahan atau dipertahankan pada masa yang jauhlebih kemudian. Namun, karena ungkapannya disampaikan dalam bahasa Jawa, padaumumnya rucita itu dianggap berasal dari kebudayaan Jawa sehingga "umurnya" barusekira 400 tahun (Mataram pertengahan abad ke-178). Ungkapan yang berbunyi guru ratuwong atua karo wajib sinembah 'guru, raja, dan kedua orang tua wajib dijunjung tinggi'itu, apa bedanya dengan prebu 'raja, pemimpin', rama 'orang tua, tetua', dan resi 'guru'menurut SSKK?Maka, sejauh manakah kita masih dapat berpegang pada pedoman lama yang ternyatatetap baru itu? Jika upaya penyadaran akan warisan budaya (baik jasadi maupun ruhani)tetap dilakukan seperti sekarang, pada masanya yang mungkin tidak terlalu lama lagi, kita pun tidak tahu lagi bagaimana harus bersikap dan bertindak menghadapi segala kemelutyang kian memuncak ini.***
 
 Prof. Dr. H. Ayatrohaedi adalah pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan BudayaUniversitas Indonesia, Depok.Kamis, 30 Januari 2003Islam-Sunda Bersahaja di Kampung NagaOleh AHMAD GIBSON AL-BUSTOMICuntang gantang guratgaret papetelan,nyieun tali keukeumbingan,nyieun gantar pupuntungan,nyieun bom tali kerta.TAHUN ini adalah tahun kambing. Ini bukan ramalan shio China, tapi hasil perhitunganastronomi masyarakat adat Kampung Naga, Tasikmalaya. Sebagai masyarakat agraris, penamaan tahun ini dikaitkan dengan curah hujan dan curah matahari. Tahun kambing berada berada di bawah bayang-bayang Dewa Tumpekmindo, yang menandai karakter tahun yang kadang-kadang hujan, kadang-kadang kemarau. Perhitungan tahunmasyarakat Kampung Naga menggunakan penanggalan Hijriah, lewat analisis terhadap jenis hari yang bertepatan dengan 1 Muharam, mereka menemukan jejak-jejak cuaca bagikelangsungan kehidupan agraris mereka. Tahun 1423 H yang jatuh pada Sabtudirumuskan berada dalam karakter kambing, sesekali saja membutuhkan air.Setiap bulan dalam setiap tahun, bisa juga dihitung arah cuacanya. Ada karakter darimasing-masing bulan. Bulan ini, sebagai contoh, tanggal 1 Hapit jatuh pada Minggu,Hapit bernaktu 1 ditambah dengan naktu tahun 1423: 4; berada di bawah bayangan DewaDiktekapata (atau congcorang, belalang sembah), merupakan bulan yang jarang turunhujan.Masyarakat adat Kampung Naga, tepatnya di wilayah Desa Neglasari Kecamatan SalawuTasikmalaya, merupakan masyarakat Muslim yang secara ketat masih menjadikan adatSunda sebagai rujukan kehidupannya. Hitungan waktu mereka merujuk pada hitungansistem hijriah, namun disisipkan dengan kepercayaan lokal mengenai kekuatan kala(makhluk halus yang menempati horison langit) yang selalu berpindah-pindah dan posisinya menentukan curah hujan. Mereka membuat delapan kategori tahun, dengankategori yang dikenal dalam penanggalan Islam sufi yaitu: tahun alif, tahun he, jim awal,ze, dal, be, wau, dan jim ahir; sekaligus juga memercayai adanya Dewa-dewaDiktekapata, Somamarocita, Angarakata, Budhaintuna, Laspatimariha, Sukramangkara,dan Tumpekmindo. Nama-nama dewa itu bukan untuk disembah, namun diabstraksikankarakternya dan dijadikan pedoman bagi cara bertanam. Prof. Dr. H. Ayatrohaedi adalah pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan BudayaUniversitas Indonesia, Depok.Kamis, 30 Januari 2003Islam-Sunda Bersahaja di Kampung NagaOleh AHMAD GIBSON AL-BUSTOMICuntang gantang guratgaret papetelan,nyieun tali keukeumbingan,nyieun gantar pupuntungan,nyieun bom tali kerta.TAHUN ini adalah tahun kambing. Ini bukan ramalan shio China, tapi hasil perhitunganastronomi masyarakat adat Kampung Naga, Tasikmalaya. Sebagai masyarakat agraris, penamaan tahun ini dikaitkan dengan curah hujan dan curah matahari. Tahun kambing berada berada di bawah bayang-bayang Dewa Tumpekmindo, yang menandai karakter tahun yang kadang-kadang hujan, kadang-kadang kemarau. Perhitungan tahunmasyarakat Kampung Naga menggunakan penanggalan Hijriah, lewat analisis terhadap jenis hari yang bertepatan dengan 1 Muharam, mereka menemukan jejak-jejak cuaca bagikelangsungan kehidupan agraris mereka. Tahun 1423 H yang jatuh pada Sabtudirumuskan berada dalam karakter kambing, sesekali saja membutuhkan air.Setiap bulan dalam setiap tahun, bisa juga dihitung arah cuacanya. Ada karakter darimasing-masing bulan. Bulan ini, sebagai contoh, tanggal 1 Hapit jatuh pada Minggu,Hapit bernaktu 1 ditambah dengan naktu tahun 1423: 4; berada di bawah bayangan DewaDiktekapata (atau congcorang, belalang sembah), merupakan bulan yang jarang turunhujan.Masyarakat adat Kampung Naga, tepatnya di wilayah Desa Neglasari Kecamatan SalawuTasikmalaya, merupakan masyarakat Muslim yang secara ketat masih menjadikan adatSunda sebagai rujukan kehidupannya. Hitungan waktu mereka merujuk pada hitungansistem hijriah, namun disisipkan dengan kepercayaan lokal mengenai kekuatan kala(makhluk halus yang menempati horison langit) yang selalu berpindah-pindah dan posisinya menentukan curah hujan. Mereka membuat delapan kategori tahun, dengankategori yang dikenal dalam penanggalan Islam sufi yaitu: tahun alif, tahun he, jim awal,ze, dal, be, wau, dan jim ahir; sekaligus juga memercayai adanya Dewa-dewaDiktekapata, Somamarocita, Angarakata, Budhaintuna, Laspatimariha, Sukramangkara,dan Tumpekmindo. Nama-nama dewa itu bukan untuk disembah, namun diabstraksikankarakternya dan dijadikan pedoman bagi cara bertanama
Harmonisasi kepercayaan lokal dengan sistem ajaran Islam tidak jarang membuatmereka dipojokan sebagai komunitas yang berada di luar kebenaran (Islam). Apalagi,mereka menyarankan warganya yang sudah berhaji untuk tidak tinggal di wilayahnya,yang berhaji dianggap telah berziarah pada roh yang lebih suci ketimbang penghuniKampung Naga karena itu tidak pantas lagi tinggal di wilayah Kampung Naga.Serangan terhadap keunikan tradisi kehidupan Kampung Naga ini berpuncak pada tahun1956. Kampung Naga dibakar oleh gerombolan DI/TII yang menyebabkan seluruh benda-benda pusaka hangus terbakar. Ada kisah lain yang menarik mengenai soal ini.Konon (seperti ditulis Syukriadi Sambas dalam tesisnya "Pemimpin Adat dan KosmologiWaktu") pada tahun 1966 ada seorang warga Kampung Naga yang pulang dari pesantren.Ajaran Islam yang didapatkan dari pesantren membuat ia menyimpulkan bahwa itung-itungan masyarakatnya bertentangan dengan akidah Islam. Pemimpin adat waktu itu,Djaja Sutidja menerima kritik dan melakukan perubahan sesuai dengan keinginan santrimuda tersebut. Untuk tanam padi tahun itu, ia menyerukan warganya untuk menggunakan penghitungan masyarakat umum (tidak menggunakan itung-itunganKampung Naga). Namun, anehnya hasil pertanian gagal dipanen, ada hama wereng yangmerusak tanaman mereka.Waktu tanam memang tidak diatur dalam Alquran dan Hadis karena itu mereka merasa bukan soal besar jika menggunakan sistem penghitungan dari luar batas ajaran Islam ataumereka tak lagi menyoalkan kategori benar-salah, hidup membutuhkan kategori lain yanglebih membantu, yaitu bermanfaat-tidak bermanfaat. Upaya untuk mengategorikankehidupan dalam batas salah-benar, seperti kasus santri muda, membuat kehidupan jadi berantakan. Walaupun demikian, secara sadar, warga Kampung Naga memulai perhitungannya dengan doa:Allahumma puter giling tulak balaSaking gumiling aya di wetanBilih balai aya di wetanPulang deui ka wetanTunggal hurip ku kersaning AllahLa Ilaha IllallahSelametKampung Naga, menurut kepercayaan masyarakatnya, adalah keturunan kerajaanGalunggung masa Islam. Mereka keturunan dari Sembah Dalem Singaparana, anak dariPrabu Rajadipuntang, Raja Galunggung VII. Prabu Rajadipuntang adalah RajaGalunggung terakhir yang menyingkir ke arah daerah Linggawangi. Menurut catatansejarah, buraknya Kerajaan Galunggung di tangan Prabu Rajadipuntang pada tahun 1520-an karena diserang oleh Kerajaan Pajajaran di bawah Prabu Surawisesa (1535-1543). Saatitu ada perebutan kuasa antara kerajaan Islam dan asli. Kerajaan Galunggung telahmenjadi pemeluk agama Islam dan berarti tidak lagi menjadikan Pajajaran sebagai pusat.Menghadapi serangan itu, Prabu Rajadipuntang menyelamatkan harta pusaka damenyerahkannya pada anak bungsunya yang bernama Singaparana. Untuk melaksanakantugas itu Singaparana dibekali ilmu kebodohan yang membuat dirinya bisa nyumput bunidina caang (bersembunyi di keramaian).Kampung Naga terletak diantara dua buah bukit dan di sisi Sungai Ciwulan. Ada sekira420 takikan anak tangga di lereng perbukitan itu (konon pada penghitungan kali lain jumlahnya bisa berubah). Kita harus menuruni anak tangga itu sampai di tepian SungaiCiwulan. Sungai itu melintasi Kampung Naga. Dengan menelusuri jalan di pinggir Sungai Ciwulan tidak lebih dari dua ratus meter, sampailah kita ke wilayah Kampung Naga yang dikelilingi pagar bambu. Di seberang sungai berdiri kokoh hutan kecil, sebuah bukit yang dipenuhi oleh pohon-pohon yang tampaknya berumur sangat tua. LeuweungLarangan itulah nama yang dikenal oleh masyarakat Kampung Naga. Leweung Larangan berada di seberang Sungai Ciwulan, sebelah timur perkampungan; di sebelah barat (tepatdi belakang) perkampungan terdapat Leuweung Keramat.Leuweung Larangan, yang terletak di sebelah timur pemukiman, disebut sebagai hutantempat para dedemit. Para dedemit dipindahkan oleh Mbah Dalem Singaparana dariwilayah yang akan ditempatinya, yang kini menjadi wilayah yang ditempati masyarakatKampung Naga. Leuweung Larangan merupakan tempat yang sama-sekali dilarang untuk diinjak oleh siapa pun, khususnya warga Kampung Naga. Jangankan memasukinya,menginjakkan sebelah kakinya di hutan tersebut merupakan pantangan yang sangat keras.Dengan demikian secara kosmologis, memilah dunia dalam tiga wilayah, yaitu LeuweungKeramat (tempat nenek moyang mereka dimakamkan) yang ada di sebelah barat, perkampungan tempat mereka hidup dan bercocok tanam di tengah-tengah, danLeuweung Larangan (tempat para dedemit) di sebelah timur. Posisi perkampungan tidak secara langsung berhubungan dengan kedua hutan tersebut. Leuweung Larangan dibatasioleh sebuah Sungai Ciwulan, sedangkan Leuweung Keramat dibatasi oleh tempat masjid,ruang pertemuan dan Bumi Ageung (tempat penyimpanan harta pusaka).Berdasarkan pembagian wilayah tersebut, bila menggunakan kerangka teori antropologi budaya, mereka membangun kosmologi ruang: atas-tengah-bawah; atau baik-netral- buruk. Lueweung Larangan di arah timur dan leweung Keramat di arah barat sebagaisumber kekuatan sakral kehidupan keseharian mereka. Leuweung Larangan sebagaiwilayah chaos, tempat semua dedemit dan roh jahat berada. Leweung Karamat berada disebelah barat adalah sumber kebaikan; masjid dan harta pusaka menjadi penghubunguntuk mengalirkan kesakralan ke arah barat.Hutan Keramat dan Bumi Ageung yang berada di bagian barat masjid, di posisi kiblat,secara simbolis menunjukkan negosiasi ajaran Islam dan tradisi lokal. Menghadap kekiblat berarti membayangkan penghadapan pada Kabah yang harus melalui penghadapanterhadap harta pusaka dan hutan keramat. Keinginan mendapatkan kesakralan Kabahdidahului oleh penghubungan diri terhadap nenek moyang yang dikuburkan di LeuweungKeramat. Kosmologi ruang seperti ini barangkali yang menjadi dasar penolakan merekaterhadap warganya yang telah berhaji. Berhaji berarti berziarah secara langsung kemakam Orang Suci. Yang berhaji telah secara langsung berhubungan karena itu tak lagimembutuhkan kiblat yang dibungkus Bumi Ageung dan Leuweung KeramatMelihat kompisisi dan kedudukan Bumi Ageung tersebut memperlihatkan gariskosmologis yang tegas, yaitu bahwa seluruh rumah berpusat pada Bumi Ageung danBumi Ageung berhubungan atau berpusat pada Leuweung Keramat, tempat nenek moyang atau makam para Karuhun. Pandangan kosmologis yang menempatkan manusia(bumi tempat manusia berada) dalam impitan antara yang sakral (Leuweung Keramat)dan yang chaos (Leuweung Larangan), telah memosisikan manusia di antara dua keadaantersebut. Hal tersebut tampak pada pandangan mereka tentang kosmologi waktu, yangsecara umum dibagi dua, yaitu waktu nahas (tidak baik) dan waktu hade, baik. Keadaankehidupan (dunia) manusia yang terimpit antara Leuweung Larangan (kebaikan, YangSakral) dan Leuweung Keramat (Ketidakbaikan, Yang Chaos) tersebut mengharuskanmanusia untuk teliti dan hati-hati dalam menjalani kehidupan karena kedua dunia yangmengimpit tersebut telah pula memengaruhi waktu kehidupan manusia, waktu baik danwaktu tidak baik.Terhadap waktu mereka membuat tiga patokan aktivitas, yaitu: Bismillah, berhubungandengan awal dan asal (Yang Sakral), bernilai satu; Alhamdulillah, berhubungan denganharapan hidup manusia yang baik (Dunia Tengah), dengan nilai dua; dan, Astaghfirullah, berhubungan dengan dunia yang tidak baik, bernilai tiga. Patokan ini menjadi dasar aktivitas mereka dalam mencari keselamatan, kemakmuran, dan penghindaran darimalapetaka. Misalnya, bagi orang yang hendak berobat disarankan untuk mulai berangkat pada hari yang bernaktu satu, sedangkan terhadap ruang (alam) mereka memiliki patokannyangcang munding dina batu ku tambang sajeungkal, seug mun eling moal luput haminyangcang kuda sabatekan begung; gaduh satapak munding seug mun eling moal luputmahi.Di Kampung Naga, dialog Islam-Sunda menunjukkan bentuknya yang khas. Hirup kudutungkul ka jukut tanggah ka sadapan, demikian patokan kebersahajaan mereka.****) Penulis adalah kontributor Program Dialog Islam-Sunda, Laboratorium BudayaDESANTARA Institut for Cultural Studies.**Sabtu, 14 Juni 2003Memprihatinkan, Penulisan Sejarahnya Hanya Warisan PenjajahPerjumpaan Islam dengan Tradisi SundaOleh ENGKUS RUSWANA K.BELAKANGAN ini agak sering muncul tulisan maupun pandangan mengenai perjumpaan Islam dengan budaya Sunda. Penulis merasa terusik untuk mengkaji ulangklaim-klaim sebagian masyarakat yang mengatakan Islam identik dengan Sunda danSunda identik dengan Islam.Ada masyarakat yang mengungkapkan bahwa di masyarakat Sunda terdapat juga penganut agama Sunda Wiwitan, komunitas pengikut Madrais dan komunitas pengikutMei Kartawinata yang masih mempertahankan ajaran leluhurnya. Menurut pengetahuan penulis, penghayat atau kelompok masyarakat yang masih menghormati danmelaksanakan ajaran leluhur Sunda tidak hanya terdapat di Kanekes Baduy, Ciptagelar Sukabumi, Cigugur Kuningan, dan Ciparay Bandung. Banyak sekali masyarakat yangmemegang teguh ajaran leluhurnya, tapi karena pertimbangan tertentu belum beranimengungkapkan keyakinannya.Penulis merasa perlu memberikan ulasan sehubungan dengan ada kajian yang tidak lengkap yang mengundang penafsiran negatif dan pandangan yang keliru terhadapmasalah tersebut di atas. Bahkan, ada bahasan yang tidak didukung oleh kajian mendalamkhususnya yang berkaitan dengan ajaran Madrais dan ajaran Mei Kartawinata.Hal pertama, jika ada pihak yang menyimpulkan bahwa Kerajaan Galuh dan KerajaanSunda Padjadjaran menganut Hindu, masih patut diragukan kebenarannya sebab sampaidengan saat ini belum ada bukti sejarah yang dapat mendukung kesimpulan tersebut.Hingga saat ini masih terjadi perdebatan apakah Galuh dan Pajajaran menganut Hindu-Buddha atau agama/kepercayaan asli Sunda.Beberapa komunitas Sunda, termasuk Sunda Wiwitan, Cigugur, Ciparay dan beberapakomunitas lainnya, berkeyakinan kepercayaan yang dianut kedua kerajaan tersebut adalahagama/kepercayaan asli Sunda. Hal ini sejalan dengan penelitian antropolog NanangSaptono dalam tulisan berjudul "Di Jateng Ada Candi, di jabar Kabuyutan" yang dimuatdalam Harian Kompas, 3 September 2001 yang menyatakan, "Dalam Carita Parahyangan juga menunjuk bahwa kepercayaan umum raja-raja di Galuh ialah sewabakti ring bataraupati yang berorientasi kepada kepercayaan asli".Hal kedua adalah mengenai kepercayaan leluhur bangsa yang disebut menganutanimisme dan dinamisme. Dalam hal ini, kita perlu arif dan berpandangan luas, kenapatimbul kedua istilah yang seolah-olah merendahkan derajat dan kepercayaan leluhur kita,yang pengertiannya secara harfiah adalah menyembah nenek moyang dan menyembahkebendaan.Kiranya patut direnungkan sedangkal itukah penghayatan leluhur kita terhadap arti danhakikat ketuhanan, kemanusiaan, dan alam. Padahal, leluhur kita tinggal di buminusantara yang subur makmur loh jinawi. Sumber pangan yang disediakan alam lebihdari cukup dan tinggal ambil apalagi penduduknya masih sedikit sehingga cukup banyak waktu untuk merenung, berpikir, berdialog, dan mengkaji tentang alam dan penciptanyaserta berkreasi untuk mengembangkan budayanya.Terbukti dari hasil penelitian Nandang Rusnandar (peneliti dari Jarahnitra Jawa Barat) bahwa di tatar Sunda telah ditemukan 54 jenis huruf (wanda aksara) dalam budaya tulisandan penelitian Ali Sastramijaya yang menyimpulkan leluhur bangsa kita sudah sejak ribuan tahun telah mengenal budaya sistem penanggalan yang didasarkan atas perhitungan matahari (Kala Surya), perhitungnan bulan (Kala Candra), dan perhitungan bintang (Kala Sukra) dengan presisi tinggi yang notabene didasarkan atas penelitian/pengkajian alam secara seksama dan terus menerus selama puluhan tahunbahkan ratusan tahun melewati berbagai generasi.Dengan demikian, budaya tulisan tentunya dikenal jauh lebih tua lagi sebelumdikenalnya budaya penanggalan. Alasannya, untuk mencatatkan penelitian peristiwaalam, tentunya disimpan dalam bentuk tulisan.Selain itu, telah ditemukan sejenis alat cor logam di sekitar Dago Bandung yang menurut penelitian van Bemmelen (peneliti Belanda) usianya telah mencapai 125.000 tahun. Halitu berarti sejak zaman prasejarah orang Sunda telah memiliki keterampilan teknologilogam (alat tersebut kini tersimpan di Musium Geologi Bandung). Dalam hal inihendaknya diingat, sejarah nasional dibuat oleh sebagian besar sejarawan Belanda padamasa penjajahan, yang tentunya akan terkait dengan kepentingan penjajah Belandasehingga adalah suatu keniscayaan untuk merendahkan bangsa yang dijajahnya dengan berbagai cara, termasuk penulisan sejarah.Dengan demikian, fakta dapat diputarbalikkan dan opini dunia dapat dibangun bahwamereka tidak menjajah, melainkan berjasa dalam membudayakan bangsa yang masih primitif dan biadab. Kenyataannya, banyak bukti-bukti sejarah yang menurut informasidibawa dan disimpan di negeri Belanda sejak masa penjajahan. Bukan hal yang tidak mungkin bukti-bukti sejarah yang menguatkan kebesaran bangsa kita pada masa laluhilang atau sengaja dihilangkan (dalam hal ini penulis sependapat dengan tulisan Ari J.Adipurwawidjana yang menyimpulkan berbagai pengaruh yang datang dari luar nusantara begitu besar sehingga kebudayaan yang sebelumnya berkembang tergeser kedudukannya dari wacana dominan menjadi wacana limbahan). Apalagi Belandamenjajah nusantara ratusan tahun dan sebelumnya Hindu, Buddha, dan Islam pernahmendominasi nusantara sehingga kita mangalami kegamangan akan jati diri bangsa yanghakiki karena memang banyak kehilangan akar sejarahnya.Hal lain yang mungkin perlu dijadikan pertimbangan adalah perbedaan budaya baratyang lebih mengandalkan rasional dan simbol-simbol nyata yang nampak di permukaandibandingkan dengan budaya timur khususnya nusantara/Sunda yang religius dan banyak mengandung falsafah yang tidak tampak ke permukaan (tersirat/ngandung siloka),kemungkinan tidak mampu ditangkap sejarawan masa itu. Akibatnya, kepercayaanleluhur kita yang sebetulnya cukup arif -- kita lahir dan hidup karena jasa ibu-bapak, ibu- bapak ada karena nenek-kakek dan seterusnya (dalam budaya Sunda-Jawa dikenal penamaan sampai tujuh turunan) --, demikian seterusnya dikenal sebagai leluhur ataunenek moyang yang pada akhirnya bermuara ke Tuhan YME. Jadi wajar apabila kitamenghormati leluhur yang diwujudkan dalam bentuk tata-cara adat budaya sebagai bentuk penghormatan.Demikian pula halnya dengan kearifan leluhur kita atas kedekatannya terhadap alam danlingkungannya. Kesadaran bahwa mereka hidup dan bermukim ditopang oleh alamlingkungannya, baik berupa batu, kayu, tanah, air, gunung, hutan, dan bermacam bahan pangan khususnya padi sebagai bahan pokok menimbulkan kesadaran akan perlunya berterima kasih dan penghormatan terhadap alam dan lingkungannya. Hal itu diwujudkandalam bentuk tata cara adat budaya sehingga untuk memanfaatkan apa pun yang daralam, terlebih dahulu harus dilakukan upacara adat (mipit kudu amit, ngala kudu menta).Misalnya pada waktu panen, menebang pohon, bongkar batu, bangun ruma,h dansebagainya, serta untuk menjaga daerah yang sensitif dikenal daerah terlarang (pamali), begitu pula pepatah-pepatah yang sarat dengan pesan bagaimana memperlakukan alam.Perilaku adat budaya tersebut di ataslah yang barangkali melahirkan vonis atau sengajadidiskreditkan sebagai animisme dan dinamisme. Padahal, ini jusrtu sesunggungnyamerupakan bentuk perwujudan keluhuran budi pekerti leluhur kita, yang seharusnyadilestarikan. Kalau demikian, apakah mungkin leluhur kita tidak mengenal Tuhannya?Dalam pemahaman penulis yang juga sedang menghayati dan menggali kepercayaan asliSunda, dipahami bahwa kasih sayang Tuhan ada yang langsung, yaitu yang melekat padadiri kita dan ada yang tidak langsung melalui orang tua dan seterusnya, ada yang lewatsesama hidup (termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan) serta yang lewat alam (tanah, air,udara, dan api) yang menjadikan diri kita dan memelihara hidup kita. Selain itu, setiap zatdi bumi alam ini punya lahir dan punya batin (misal gula, wujud gula adalah lahirnya,sedangkan manis adalah batinnya; bibit ditanam hidup dan membesar karena tanah ada batinnya). Begitu pula pada setiap kegiatan yang berhubungan dengan proses kehidupanmanusia (kelahiran, perkawinan, dan kematian) dikenal tata cara adat budaya yang saratdengan muatan religius sebagai perwujudan keluhuran budi pekerti dan pemahamantentang asas Ketuhanan dan Kemanusiaan.Oleh karena itu, seyogianya pendiskreditan bahwa leluhur kita menganut animisme dandinamisme dengan gambaran sebagai masyarakat yang masih belum beradab, menurut penulis sudah waktunya diluruskan (tantangan buat ahli sejarah).Migrasi manusiaHal yang sama berkaitan dengan penulisan periwayatan sejarah kebudayaan nusantara,sebagaimana yang disitir oleh Ari J. Adipurwawidjana dalam makalahnya yangmengemukakan zaman prasejarah; terjadi gelombang migrasi manusia dari daratan Asiake kepulauan nusantara. Pada awal zaman purba ditandai dengan datangnya manusia dariSubbenua India yang memasukkan kebudayaan Hindu-Buddha yang seolah-olah buminusantara belum berpenghuni, belum berbudaya, dan belum beragama.Dalam pemahaman penulis, ini juga terkait dengan kepentingan penjajahan, untuk mengeliminasi bahwa tidak ada bangsa asli karena yang mengaku pribumi pun nyatanya bangsa pendatang. Jadi dapat dijadikan alasan bahwa baik Belanda maupun penduduk nusantara sebelumnya punya hak yang sama dan tidak ada hak-hak istimewa bangsa pribumi. Tinggal bersaing saja, siapa kuat itu yang menang.Padahal, kalau dihubungkan dengan penelitian arkeologi, justru di tanah Jawa ini telahditemukan berbagai fosil manusia purba yang berumur 1,5-1,75 juta tahun yang dikenaldengan sebutan "Java Man" (Misteri "Java Man" oleh Bintoro Gunadi dalam HUKompas) dan penemuan gigi manusia purba oleh Dr. Tony Djubianto di wilayah Rancahdan Tambaksari Kabupaten Ciamis yang usianya lebih tua dari yang ditemukan dSangiran (penulis tidak tahu apakah di belahan dataran Asia yang katanya asal migranzaman purba telah ditemukan fosil yang umurnya lebih tua). Bukti sejarah apa yang dapatmemperkuat kebenaran adanya gelombang migrasi tersebut, suatu perkara yang perlu pengkajian kembali.Oleh karena itu, tidak heran kalau semua pemahaman dari catatan-catatan sejarah sepertidi atas yang ditanamkan ratusan tahun secara turun-temurun sebagai akibat penjajahan,menimbulkan bangsa kita sampai sekarang kehilangan sebagian besar jati diri bangsanya,kehilangan kepercayaan dirinya yang cenderung rendah diri di hadapan bangsa asing.Jadi, semua hal yang datang dari luar selalu dianggap lebih tinggi derajatnyadibandingkan yang datang dan dilahirkan dari tanah airnya sendiri. Kapan akan berubah,mari kita renungkan bersama.Penulis ingin memberi uraian, khususnya yang berkaitan dengan aliran kebatinanPerjalanan. Perlu ditegaskan bahwa ajaran yang dikembangkan Mei Kartawinata bukanlah kepercayaan baru yang dilahirkan sebagai hasil dari perjumpaan Islam dengan budaya Sunda dan bukan merupakan sinkretisme antara ajaran Sunda Wiwitan, Hindu,Buddha, dan Islam, sebagaimana ditulis oleh Dadan Wildan dalam Pikiran Rakyattanggal 26 Maret 2003.Selain itu, ini diunsuri penggalian kepercayaan asli Sunda yang sedikit demi sedikitdikumpulkan, diungkap dan dikaji kembali untuk memisahkan mana yang bersumber dariajaran asli dan mana yang berasal dari luar, yang memang sulit untuk membedakannyakarena sebagian telah terjadi percampuran dan sebagian lainnya sudah terkubur selamaratusan tahun sejak masuknya kepercayaan dari luar. Sampai sekarang pun belumseluruhnya dapat terungkapkan.Ajaran Mei Kartawinata pada dasarnya tidak berbeda dengan ajaran Sunda Wiwitan,hanya sedikit perbedaan dalam istilah dan metode pengajaran serta sedikit berbeda dalam penerapan tata cara adat budaya. Tentunya komunitas Kanekes tidak seutuhnyamenerapkan tata cara adat budaya yang lengkap seperti pada zaman Padjadjaran(komunitas ini pada waktu Islam masuk ke Padjadjaran terpaksa mengasingkan diri kesuatu daerah yang medannya berat dan tidak ingin diketahui keberadaannya dalam rangkamempertahankan keyakinannya sehingga harus menyesuaikan diri dan terpaksameninggalkan sebagian tata cara adat budaya sesuai dengan lingkungan alam danmisinya).Kalaupun dalam buku Budi Daya terdapat sebagian istilah-istilah dalam bahasa Arab,semata-mata didasarkan atas kondisi dan situasi waktu itu para pengikutnya kebanyakan berasal dari kalangan Islam yang menginginkan penjelasan dari apa yang mereka ketahuidan ingin mendalami isi yang terkandung di dalamnya ditinjau dari sudut pandangajaran/kepercayaan Sunda, dan kalaupun terdapat persinggungan/kesamaan adalah wajar adanya. Pasalnya, ilmu Tuhan yang hakiki adalah satu dan bersifat universal, serta berlaku untuk semua umat-Nya.Selain itu, terdapat pula buku-buku dan berbagai tulisan Mei Kartawinata yanmenggunakan istilah-istilah bahasa Belanda bahkan istilah bahasa Cina. Hal ini sesuaidengan kondisi waktu itu yang juga masyarakat banyak memahami bahasa Belanda, yangtentunya tidak dapat disimpulkan sebagai sinkretisme dengan ajaran Belanda.Ungkapan bahwa Budi Daya dijadikan sebagai "kitab suci" oleh para pengikutnya adalahsungguh keliru dan menunjukkan bukti tidak mengetahui banyak tentang ajaran MeiKartawinata. Dalam pemahaman penganut ajaran Mei Kartawinata, kitab suci adalahkumpulan tulisan Tuhan yang tidak bisa dibuat oleh manusia dan berlaku universal dandapat dipelajari oleh semua makhluk tanpa membedakan usia, agama, bangsa/ras maupungender, serta daripadanya kita bisa belajar. Tidak ada seorang pun yang akan mampumenamatkan belajar "Kitab Suci Tuhan" dan tak ada seorang pun yang mampu mengukur kedalaman maupun luasnya isi "Kitab Tuhan" ini, yaitu alam semesta beserta pengisinya.Salah satu bagian kitab suci adalah dunia besar, yaitu alam semesta tempat kita bisa belajar dan menghayati, bagaimana teraturnya alam (nyakra manggilingan). Bagaimanagunung, bukit, lembah, hutan, pepohonan, air, api, tanah, angin/udara telah menjalankankodratnya dan telah memberikan hidup dan kehidupan seluruh makhluk. Begitu pulatumbuh-tumbuhan dan hewan semuanya telah menjalankan kodratnya yang padadasarnya untuk kepentingan dan kesejahteraan umat manusia. Sekarang tinggal tanyaapakah manusia telah melaksanakan kodratnya melaksanakan kemanusiaannya, apakahorang Sunda telah melaksanakan kodrat kesundaannya, apakah orang Jawa tidak ingkar dari kodrat kejawaannya dan sebagainya, namun tidak berarti menganut pahamchauvinisme.Begitu pula bagian kitab suci yang ada pada dunia kecil (diri kita), tidak ada seorangmanusia pun yang mampu membuat diri atau bagian dari diri kita yang sangat sempurnaini. Banyak hal yang dapat dipelajari dari diri kita, bagaimana serasinya tubuh kita, bagaimana saling kerja sama, saling ketergantungan dan tolong antarbagian diri kita yang begitu harmoni, di dalam diri banyak hal yang dapat digali.Kita juga tak akan mampu menamatkan belajar pada diri kita, bahkan sampai hayatmeninggalkan raga, begitu luasnya ilmu yang terkandung di dalam diri kita. Dengandemikian, pernyataan Budi Daya dijadikan sebagai "kitab suci" adalah sama sekali tidak  benar, melainkan dijadikan sebagai buku ajaran biasa sebagaimana ditulis sendiri olehMei Kartawinata sebagai pamendak (penemuan/pendapat). Selain itu, banyak pemikiran- pemikiran dan penemuan Mei Kartawinata yang dituangkan dalam berbagai buku/tulisan/diagram/skema yang punya kedudukan yang sama sebagai buku/materiajaran.Hendaknya dipahami bahwa ajaran Mei Kartawinata banyak mengupas dan mendalamitentang aspek-aspek kemanusiaan. Dalam ajaran Mei Kartawinata yang sepengetahuan penulis juga dianut oleh Sunda Wiwitan maupun pengikut Madrais bahwa kita tidak mungkin dapat mengenal Tuhan apabila tidak mengetahui diri kita sendiri. Untuk mengenali Tuhan, kenalilah dulu diri sendiri "nyungsi diri nyuay badan angelo paesantunggal"Dalam pengkajian diri dan sejarah diri, terungkap 3 unsur, yaitu lahir (wadag), batin(halus/hidup), dan aku (yang punya tekad dan menggerakkan lahir dan batin), atau dalam bahasa Sunda dikenal kuring (aku), jelema (orang) dan hirup (hidup). Ke mana dan bagaimana lahir dan batin akan digunakan tergantung sepenuhnya kepada aku (kuring),aku yang bertindak sebagai pengendali (sopir).Itulah sebabnya timbul istilah "agama kuring" yang sebetulnya sebutan yang bersifatmelecehkan dari kalangan yang tidak menyukai terhadap ajaran Mei Kartawinata, bukantimbul dan dikemukakan oleh pengikut Mei Kartawinata sendiri. Penulis mengira kasusyang sama dialami oleh pengikut Madrais yang juga disebut orang luar lingkungannyasebagai "Agama Jawa-Sunda". Ajaran-ajaran lainnya dari Mei Kartawinata selain saratdengan aspek-aspek spiritual ketuhanan dan kemanusiaan, juga sarat dengan ajaranmengenai kebangsaan dan "nation building". Ini bisa dikaji dalam buku-buku dan tulisan-tulisan yang dibuatnya. Nama Perjalanan memang didasarkan atas pengamatannya terhadap air yang terwujuddari kesatuan tetesan-tetesan air yang tak terhingga banyaknya yang dalam rangka perjalanannya menuju sumbernya di lautan telah memberikan manfaat terlebih dahulusepanjang jalan bagi kehidupan dan penghidupan segala umat Tuhan. Pengikut MeiKartawinata harus terus ingat dan mempertanyakan manfaat apa yang telah kita berikansebagai makhluk paling sempurna untuk kesejahteraan sesama hidup ini. Bagi penulis,kemuliaan seseorang terjadi ketika manusia bersatu dan bekerja sama memberikanmanfaat bagi alam semesta ini, bukan malah merusaknya.Selain itu, penulis merasa prihatin atas penulisan sejarah yang selama ini berlaku dandianut merupakan warisan penjajahan yang niscaya banyak mengalami distorsi yang berdampak terhadap hilangnya jati diri bangsa dan kepercayaan diri bangsa. Oleh karenaitu, penulis mengimbau kepada para sejarawan, antropolog, dan arkeolog, atau siapa punyang berkompeten untuk coba secara objektif dan dibekali dengan hati nurani denganmenjunjung rasa kebangsaan untuk mengkaji kembali dan merevisi sejarah kebudayaannasional kita.***
Penulis adalah pengikut ajaran Mei Kartawinata dan seorang planolog/praktisi konsultan pembangunan daerah/kota.Jumat, 09 Januari 2004Talaga Siliwangi, Bekas Kerajaan Pajajaran yang Jadi Sumber Air Bung Karno dan Para Petinggi Negara Pernah Datang
KANGJENG Prabu Silwangi pernah tinggal di lereng Gungung Ciremai sekira abadXIV. Tepatnya di kawasan hutan Desa Pajajar Kecamatan Rajagaluh, kurang lebih 35 kmarah timur dari pusat kota Majalengka. Di hutan itulah Raja Pajajaran yang dikenal gagah perkasa, bersemedi di sebuah keraton yang dibangunnya Sayang, setalah mendapat gelar kehormatan sebagai Sri Ratu Dewata Wisesa, PrabuSiliwangi lantas menghilang. Bangunan keraton megah dan semua infrastruktur yang adadi kawasan hutan Pajajar lantas burak santak (hancur lebur) menjelma menjadi hutan belantara.Versi lain menurut babad Cirebon, menghilangnya Prabu Siliwangi dari bumi Pajajar karena ia menolak masuk Islam. Kangjeng Sunan Gunungjati alias Syeh Syarif Hidayatullah yang juga cucunya itu, pernah meminta agar Prabu Siliwangi segera masuk Islam dan bersama-sama menyebarkan agama Allah di kawasan Parahiyangan. Namun, permintaan cucunya itu ditolak.Sebagai bukti bahwa Kangjeng Prabu Siliwangi pernah lama tinggal di kawasanMajalengka, ditandai peninggalan sejarahnya. Seperti ada tumpukan bebatuan, bekas bangunan di bukit Pajajar, dan sebuah sumber air bersih di atas bukit Pajajar. Bebatuanitu adalah bekas bangunan keraton Prabu Siliwangi. Sebuah batu besar berukuran 5 X 6 x2,5 meter yang di dalam batu besar itu terpancar sumber air bersih. Konon, batu itu bekastempat bertapa. Sumber pancaran air itu dinamakan Pancuran Talaga Siliwangi."Kalau masih ada yang meragukan tentang sejarah Prabu Siliwangi, silakan bacasilisilahnya di buku sejarah. Bahkan, menurut versi babad Cirebon, Kerajaan Pajajarantempatnya di Desa Pajajar yaitu di sini," kata Tata Solihin, pemimpin adat Desa Pajajar.Dalam sejarah, Desa Pajajar dulu bernama Desa Pajajaran alias Desa Indrakila. Tahun1600 diubah namanya menjadi Desa Pajajar. Perubahan nama itu akibat pertentangan paham sejarah Prabu Siliwangi. Kuwu Pajajaran Mbah Dingklong terpaksa mengubahmenjadi Desa Pajajar karena dia berkeyakinan lokasi Kerajaan Pajajaran di Pakuan Bogor  bukan di Desa Pajajaran Kec. Rajagaluh.Terlepas dari banyaknya paham mengenai sejarah Kerajaan Pajajaran, yang penting bagiTata selaku pemimpin adat dan masyarakat di desa itu, merupakan kewajiban dari nenek moyangnya bahwa hutan Pajajar harus dijaga kelestarian. Hutan Pajajar adalah sebuahtempat sumber air yang mampu membantu jutaan penduduk dari ancaman kekeringan.Sumber air Pajajar berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit dan di bukit Pajajar  bekas Keraton Kerajaan Pajajaran, ada sebuah makam yang memiliki karomah bagi yangmemerlukan bantuannya.Hutan Pajajar yang luasnya sekira 4.5 hektare ditumbuhi ribuan pepohonan besar yangusianya ratusan tahun. Dari sumber air Pajajar telah dimanfaatkan untuk sumber air PDAM Kab. Majalengka. Ratusan hektare sawah di Kec. Rajagaluh, Leuwimunding, danKec. Sukahaji diairi dari sumber air hutan Pajajar. Ribuan rumah penduduk menggunakan air bersih dengan selang plastik dari hutan Pajajar ke rumah-rumah penduduk.Hutan Pajajar dihuni aneka binatang, seperti kera, landak, ular, kelelawar, musang, babihutan, dan anjing hutan (serigala). Bahkan, sering orang menemukan harimau di tengahmalam. Di bawah sumber air terdapat kolam alami dengan bebatuan besar. Di kolam inbanyak dimanfaatkan para wisatawan untuk mandi sambil mengobati penyakit kulit.Konon, bila minum air Pajajar bisa menyembuhkan penyakit lambung, seperti maag,liver, dan mencret. Tak jauh dari kantor Desa Pajajar terdapat sebuah kolam renang yangdilengkapi sarana bermain anak-anak. Kolam renang yang sudah hampir 10 tahun itudikelola Dinas Pariwisata Kab. Majalengka.Aset wisata Pajajar dibagi dua. Untuk kawasan wisata hutan dikelola Kelompok PemudaPariwisata Pajajar (KP3). Hasil tiket wisata, semuanya untuk kas pembangunan desakarena status kepemilikan hutan adalah milik Desa Pajajar. Sementara itu, PemkabMajalengka hanya diberi porsi untuk wisata kolam renang dan jatah sumber air PDAM."Terlepas dari siapa pengelola areal hutan Pajajar, yang penting hutan dan segala isinyaharus dijaga kelestariannya. Demi menjaga amanat Kangjeng Prabu Siliwangi, siapa puntak dibolehkan mengambil, mencuri, merusak, dan menggangu kekayaan hutan dan satwaliar. Bila coba-coba, jangan tanya si pelaku akan klenger dewek," kata Tata yang juga juru kunci makam tetapakan Prabu Siliwangi, mengingatkan.Petapaan pejabatDi dekat batu besar yang sekelilingnya dipagar kawat berduri, konon bekas bertapanyaKangjeng Prabu Siliwangi ada sebuah tulisan "Kayu Soekarno". Tulisan itu menandakan bahwa pada tahun 1944 sebelum Indonesia merdeka, Bung Karno pernah bertapa di dekat batu itu. Setelah bertapa sepuluh hari, Bung Karno menanam sepuluh batang bibit pohonasem yang sekarang sudah besar-besar."Bung Karno pernah berpesan bahwa pepohonan dan binatang yang ada di hutan Pajajar  jangan diganggu manusia. Hutan dan binatang akan bermanfaat bagi kehidupan hajathidup masyarakat," kata Bung Karno yang diucap ulang Sodikun (82) tokoh masyarakatPajajar yang mengaku pernah bertemu Bung Karno ketika menanam bibit asem itu.Bukan hanya Bung Karno, para petinggi negara, para jenderal, para pejabat teras diJawa, Lombok, Sumatra, serta yang lainnya banyak yang pernah bertapa di batu keramatitu. Entah maksudnya apa mereka bertapa di Pajajar. Inti persoalannya bagi para petingginegara yang sengaja datang ke sini, berkeyakinan bahwa di Desa Pajajarlah KangjengPrabu Siliwangi pernah memimpin Kerajaan Pajajaran."Bila Anda tak percaya, silakan lihat arsip nama-nama petinggi negara di buku tamuyang saya simpan di rumah," kata Tata, meyakinkan penulis.Selaku juru kunci alias pemimpin adat, Tata dan para ulama Desa Pajajar seringmenerangkan kepada para peziarah yang datang ke Patilasan Siliwangi. Para peziarahdilarang keras meminta-minta dan memuja-muja, kecuali kepada Allah SWT. Kepadatamu yang datang diwajibkan melapor dan mengisi buku tamu sambil diminta keteranganmaksud kedatangan ke Pajajar."Sebelum berdoa membaca tahlil di petilsan, saya ceramahi dulu, menerangkan sejarahDesa Pajajar. Saya pun titip agar peninggalan sejarah berupa hutan lindung dan segalaisinya dilindungi semua pihak," kata Tata.Selain dijadikan hutan lindung, kawasan hutan Pajajar dimanfaatkan sebagai tamanwisata. Para pelanggan wisata yang mayoritas dari Kab. Cirebon, Majalengka, Kuningan,dan Indramayu itu merasa betah menghidup udara gunung dengan lingkungan bersihalami.Menuju kawasan wisata alami ini sungguh memuaskan hati. Dari kota Rajagaluhmeluncur ke dataran tinggi sejauh 12 km dengan jalan berkelok. Di samping kiri jalan banyak bibit tumbuhan durian, petai, mangga, suguhan bagi para wisatawan. Tentu saja para wisatawan di tatar pantura merasa kagum menikmati alam Pajajar. Ternyata di alammodern sekarang ini masih ada sepercik kekayaan hutan alami yang masih dilindungi danlestari. (H. Undang Sunaryo/"MD")***Minggu, 22 Februari 2004
Peninggalan Prabu Siliwangi di Puncak Gunung TampomasGUNUNG Tampomas dengan kekuatan fenomena alamnya memang begitu unik, penuhmisteri dan mampu menggoda rasa keingintahuan para petualang alam bebas untuk mencapainya. Jangan heran bila di satu sisi gunung ini dikaitkan pada berbagai hal berbau magis. SALAH satu peninggalan sejarah di Gn. Tampomas.*DOK.IMAMGunung Tampomas yang menjulang tinggi di Kab. Sumedang memang tidak setenar gunung-gunung lainnya di Indonesia, tetapi Gunung Tampomas mampu memberikan pesona alam yang indah dan sarat dengan sejumlah cerita sejarah. Salah satu contohnyatapak kaki Prabu Siliwangi sang Raja Pajajaran, makam Rangga Hadi dan istrinya yangmerupakan kerabat Prabu Siliwangi. Ini membuktikan bahwa Gunung Tampomas kayaakan keindahan alam, cagar budaya, serta sejarah dari raja Pajajaran.Rute pendakian kami kali ini melalui Dusun Narimbang Kec. Conggeang Kab.Sumedang. Mentari pagi masih hangat membasuh kami. Geliat kehidupan Dusun Narimbang mulai terasa denyutnya. Satu dua penduduk mulai pergi ke ladang atau kebun.Sepanjang jalan menuju Dusun Narimbang akan ditemui kebun-kebun salak, kolam-kolam ikan yang airnya berasal dari Gunung Tampomas.Sebetulnya ada beberapa rute pendakian menuju puncak Tampomas, lewat DesaCibeureum, Desa Cimalaka atau lewat Dusun Narimbang. Jalur pendakian Dusun Narimbang merupakan jalur yang sering digunakan oleh para pendaki untuk mencapai puncak Tampomas.Pukul 9.00 WIB, kami berdua mulai melakukan pendakian. Belum apa-apa kamidihadapkan dengan tanjakan-tanjakan yang cukup menguras tenaga. Satu jam lebih kamtiba di sebuah pertigaan, yaitu rute dari arah Cibeureum, Narimbang dan dari arah DesaJambu. Dari arah Narimbang terus lurus ke arah puncak, jangan berbelok ke arah kanan,karena kalau berbelok ke arah kanan akan menuju puncak Gunung Narimbang, bukan puncak Gunung Tampomas.Sejenak kami beristirahat sambil memandangi tanjakan yang siap menghadang laju perjalanan kami. Dengan beban berat di punggung akhirnya kami sampai di sebuah batu besar. Penduduk setempat yang tinggal di kaki Gunung Tampomas menyebutnya BatuKukus. Karena menurut cerita penduduk setempat batu ini sering digunakan oleh para peziarah untuk bersemedi atau ngala berkah sebelum melanjutkan ziarah ke tempat yanglebih tinggi, yaitu tapak kaki Prabu Siliwangi, dan makam Rangga Hadi dan istrinya yangmerupakan kerabat Prabu Siliwangi di puncak Gunung Tampomas.Kami beristirahat di Batu Kukus sambil meregangkan kaki yang mulai terasa kaku dan pegal. Sekira sepuluh menit kami beristirahat dengan ditemani kesejukan udara sertakesegaran hembusan angin yang datang dari lembah-lembah sekitar Gunung Tampomas.Badan terasa segar kembali.Kami dihadapkan pada rute yang cukup menanjak dan menantang, terutama ruteTanjakan Taraje. Dengan kemiringan sekitar 80 derajat diperlukan kehati-hatian ekstrakarena jalanan terjal dan berbahaya.Selanjutnya kami harus melewati beberapa rute lagi sebelum mencapai puncak Tampomas seperti melewati Batu Lawang atau Sanghiang Lawang, Sanghiang Tikorodan Tanjakan Taraje, dan terakhir puncak Gunung Tampomas.Hutan Tampomas yang bervariatif serta keharmonisan penghuni Tampomas membuat perjalanan kami terasa begitu indah. Sesekali suara binatang penghuni Tampomas saling bersahutan satu sama lain. Seakan-akan mengucapkan selamat datang dan salam persahabatan di Gunung Tampomas. Dengan semangat dan mental yang kuat untuk meraih puncak Gunung Tampomas, kami tiba di sebuah batu yang ukurannya cukup besar pula, disebut Batu Lawang. sebutan itu muncul karena persis di tengah-tengah batuseperti ada pintunya, maka masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Tampomasmenyebutnya Batu Lawang (Lawang dalam bahasa Sunda berarti jalan masuk). BatuLawang ini sering dikunjungi para peziarah, terutama para peziarah yang datang dariSumedang, Indramayu, Majalengka, Cirebon dan sebagainya.Sekira 500 meter lagi kami akan mencapai puncak Gunung Tampomas. Dengan berjalanmenahan berat beban di pundak, akhirnya kami sampai juga di puncak GunungTampomas yang cuacanya menampakkan rasa persahabatan. Sujud syukur kami persembahkan atas keberhasilan kami mencapai puncak Gunung Tampomas. Naik turun perbukitan merupakan pengalaman yang sangat menguji baik fisik maupun mental, tetapisangat mengasyikan dan terasa begitu indah ketika kami mencapai puncak. Kami merasalebih dekat kepada Tuhan Sang Pencipta AlamTampak dari kejauhan Gunung Ciremai berdiri tegak melambai-lambai seakan-akanmengucapkan selamat atas keberhasilan kami.(Imam Saefudin).***Minggu, 21 Maret 2004
Kawula-GustiOleh Prof. Drs. JAKOB SUMARDJOPARA penggemar pertunjukan pantun Sunda tentu tidak akan melupakan hubungan trioantara Pangeran Pajajaran, Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung. Nama Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung tentu hadir kalau putra Raja Pajajaran sedangmengembara mencari wilayah baru yang akan diperintahnya. Namun setelah pangeranmenjadi raja di tempatnya yang baru, peran Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung biasanya tak disebutkan lagi.Gelap Nyawang dan Kidang pananjung adalah spesialis pengiring sang PangeranPajajaran yang tengah mengembara. Dalam wawacan dan babad tentang Pajajaran yangditulis di Sumedang pada abad 18 dan 19, biasanya Gelap Nyawang dan KidangPananjung ditemani seorang pengiring lagi yang terkenal sebagai Purwa Kalih atauParwa Kali atau Pewakali. Ketiga pengiring serta disebutkan jabatannya masig-masing,yakni Gelap Nyawang sebagai jaksa, Kidang Pananjung sebagai gegedug dan Purwakalih sebagai patih. Dari jabatan itulah kita baru mengetahui makna dari pengiring- pengiring Pangeran Pajajaran.Dalam masyarakat Jawa juga dikenal tiga pengiring kesatria Pandawa yang terkenal,yakni Semar, Gareng dan Petruk. Kadang dilengkapi dengan Bagong. Namun yangterakhir ini rupanya ditambahkan kemudian. Seperti halnya trio pengiring pangeranPajajaran dalam pantun Sunda, trio pengiring kesatria Pandawa ini juga hidup dalam beberapa generasi. Semar Gareng - Petruk diceritakan sebagai pengiring setia Arjuna.Kemudian juga pengiring setia anak Arjuna, yakni Abimanyu. Bahkan sampai cucuArjuna, Parikesit, trio pengiring ini tetap hidup "awet tua" seperti sedia kala. Begitu puladi Sunda, Purwakalih - Gelap Nyawang - Kidang Pananjung terus mengiringi Silihwangi,kakek Sulihwangi, dan anak Silihwangi, yakni Guru Gantangan. Mengapa trio pengiringitu tak pernah mati? Mengapa ketiganya awet tua? Itulah misteri pemikiran nenek moyang kita zaman dahulu kala.Marilah kita mulai dengan nama Purwa Kalih yang disebut sebagai patih. Jabatan ini jelas di bawah raja, atau dapat dikatakan mewakili raja. Kalau dalam rombongan pengembangan sang pangeran Pajajaran mengalami sesuatu persoalan, maka Purwa kalihinilah yang mewakili sang pangeran. Dalam cerita Guru Gantungan, misalnya, ketika putri Mayang Karna bertanya kepada Guru Gantangan yang menyamar sebagai dalangtopeng, siapakah sebenarnya dirinya, maka yang menjawab Purwa Kalih. GuruGantangan yang menyamar Raden Gambuh tetap membisu. Jadi, pengiring Purwa Kalimemang benar-benar mewakili sang pangeran Pajajaran. Purwa Kalih adalah segi aktif dari sang pangeran.Sedangkan Gelap Nyawang disebut sebagai jaksa. Jabatan ini berarti "yangmemutuskan". Dan dalam cerita pantun, tugas Gelap Nyawang adalah pengatur atau pengambil keputusan suatu masalah muncul dalam pengembangan. Gelap Nyawangadalah aspek eksekutif dari rombongan. Gelap Nyawang digambarkan sebagai gemuk- pendek dan memiliki mantra sakti bernama dadali putih. Ini mirip dengan peran Semar yang suka memberikan saran dan nasihat kepada Arjuna yang sedang buntu menghadapisuatu masalah. Gambaran bentuk badan keduanya mirip.Tuan, raja, gustiKIDANG Pananjung disebut sebagai gegedug. Ini jelas istilah Jawa, yang berarti panglima perang. Dan tugas Kidang Pananjung memang merintis jalan pengembaraan. Ia pelindung rombongan dan pelindas musuh-musuh yang menghadang. Tentunya dia iniahli silat ulung.Dari gambaran pantun di atas tampak makna tersembunyi dari trio Purwa Kalih - Gelap Nyawang - Kidang Pananjung dengan Pangeran Pajajaran. Barangkali masih dapatdisamakan dengan pasangan Arjuna dengan Semar - Gareng - Petruk. Gambaran inimenunjukkan adanya pasangan abadi antara Hamba dan Tuan, Kawula dan Gusti, Rajadan Rakyat. Tuan - Raja - Gusti adalah jabatan pemimpin teratas dalam masyarakat.Tubuhnya selalu bagus, wajahnya selalu tampan, begitu digambarkan dalam mitos.Sedangkan Hamba - Kawula - Rakyat digambarkan sebaliknya, yakni tubuhnya penuhcacat, tidak semitris, tidak proporsional, dan selalu di tingkat terbawah masyarakat.Pangeran Pajajaran selalu pasif karena dilindungi sepenuhnya oleh trio pengiring (ataudua pengiring) yang selalu menyertainya ke mana pun sang pangeran itu pergi. Inilah pasangan dualistik yang bersifat saling melengkapi meskipun masing-masing pihak amat bertentangan substasnsinya. Pasangan antagonistik ini adalah pasangan ideal kehidupanini. Itulah etikanya. Majikan tak ada artinya tanpa Hamba. Hamba tak ada artinya tanpaMajikan. Gusti tak ada makna tanpa Kawula. Kawula tak ada makna tanpa Gusti.Dalam Cariosan Prabu Silihwangi terdapat simbol yang demikian itu. Ketika itu PrabuSilihwangi masih berusia 9 tahun dan bernama Pamanahrasa. Kakaknya lain ibu, yakniParbamenak berusia 15 tahun, amat iri kepada adik tirinya ini, karena Pamanahrasa yangakan menggantikan ayah mereka kelak. Setelah Parbamenak menipu Pamanahrasa dalamujian pandadaran sebagai putra mahkota, maka Pamanahrasa dilumuri getah dan jelagalalu dijual kepada Nakoda Palembang. Peristiwa ini dapat terjadi karena trio pengiringdan pengaruh sang pangeran sedang tak ada di tempat, karena Prabu Anggalarang diPajajaran memerintahkan trio pengiring itu mencari obat untuk ibunda Pamanahrasa yangsedang sakit dan hamil.Di sini diagambarkan bagaimana tidak berdayanya Pangeran Pajajaran Pamanahrasakalau tidak didampingi oleh trio pengasuhnya yang tua-tua dan amat berpengalaman ituAkibatnya Pamanahrasa mengalami musibah dijual sebagai budak belian. Nasib jelek Pamanahrasa yang kelak akan menjadi raja terbesar Pajajaran, Silihwangi, terusmenyertainya. Pamanahrasa diambil sebagai pelayan oleh Dewi Ambetkasih diSindangkasih. Tetapi dengan munculnya Pamanahrasa sebagai pelayan budak hitam itu,ajaib, tanam-tanaman dalam taman sang putri selalu rusak tanpa sebab.Sebaliknya terjadi dengan trio Purwa Kalih - Gelap Nyawang - Kidang Pananjung yanterus bersumpah mencari majikan kecilnya itu sampai ditemukan. Mereka mengembaradan tiba di sebuah kampung. Setelah enam bulan berada di kampung tersebut, ajaib,semua tumbuhan yang ditanam para petani kampung tumbuh dengan amat subur.Di sini jelas digambarkan makna dwitunggal pasangan tersebut. Pamanahrasa tanpa trioorang-orang tua itu tak berdaya apa-apa. Sedangkan trio orang tua tanpa Pamanahrasamasih tetap berjaya dalam menyuburkan segala tanaman, Pamanahrasa bernilai kematian,Purwa Kalih - Gelap Nyawang - Kidang Pananjung bernilai kehidupan. Itulah sebabnyaPamanahrasa baru terkuak jati dirinya sebagai Pangeran Pajajaran ketika dua pasangantersebut bertemu kembali di negara Sindangkasih (Telaga?). Dwitunggal menyatukembali Kosmos terbangun seperti sedia kala.Gusti tanpa kawulaAPAKAH artinya Gusti tanpa Kawula? Tidak ada Gusti tanpa Kawula. Tidak ada Rajatanpa Rakyat. Tidak ada pemimpin kalau tidak ada yang di pimpin alias Rakyat.Pamanahrasa (Silihwangi) pun tak berdaya tanpa kehadiran Purwa Kalih - Gelap Nyawang - Kidang Pananjung. Gusti Pamanahrasa yang belia ini malah mendatangkanmalapetaka majikannya Dewi Ambetkasih di Sindangkasih. Raja yang menjadi hambaadalah malapetaka. Gusti menjadi Kawula merusak tanaman di taman negara.Sebaliknya Kawula tanpa Gusti masih berjaya. Kehadiran trio pengiring pangerandimana pun membuat segala tanaman menjadi subur. Rakyat masih dapat hiidup tanpaRaja. Kawula tetap hidup tanpa Gusti. Tetapi Gusti tak berdaya tanpa Kawula. Inilahkearifan lama masyarakat Sunda lama, khususnya di daerah Sumedanglarang.Mengapa Kawula tetap hidup berjaya tanpa Gusti? Karena Kawula, Hamba, Rakyat ituadalah Dewa yang menyamar. Yang namanya Semar - gareng - Petruk dan Purwa Kalih -Gelap Nyawang - Kidang Pananjung itu "awet tua" tidak mati-mati. Mereka selalu hadir mengiringi para pangeran. Trio pengiring itu adalah keabadian itu sendiri. Setiap adaPangeran, trio pengiring selalu hadir. Pangerang Mundinglaya, Guru Gantangan,Silihwangi, selalu memanggil para pengirignya sebagai ua. Yang dituakan.Asal usul Semar kita ketahui. Tetapi asal usul Purwa Kalih cs belum kita temukan.Purwa Kalih ini secara keliru sering disamakan dengan Lampung Jambul atau Nulawas.Kalau dibetulkan, Purwa Kalih juga disebut Nulawas, yakni Yang Lama, Yang Tua, yangsudah ada sebelum kita. Ia sudah ada sebelum yang namanya negara dan raja itu ada.Semar adalah Sang Hyang Ismaya, kakak dari dewanya para dewa, Batara Guru. Ismayaitu hitam legam, tanda keabadian. Ia lebih tua dari Batara GuruPara Wulucumbu Sunda dan Jawa itu sama-sama digambarkan buruk rupa, cacat;sedangkan majikannya selalu tampan dan lelaki sempurna. Namun yang cacat dan buruk rupa itu berasal dari Dunia Atas. Yang tertinggi menjadi yang terendah di dunia ini.Semar itu kalau bicara kepada majikan dunianya selalu memakai bahasa halus, tetapikalau berbicara kepada para dewa justru menggunakan bahasa rakyat. Semar itumengabdi kepada raja dunia, tetapi berani memarahi para dewa. Kalau marah pada paradewa kentutnya tak pernah berhenti.Itulah nilai penguasa yang sejatinya. Gusti itu hamba kawulanya. Raja itu hamba rakyat.Dengan metode ini maka terjadilah dwitunggal kesempurnaan. Gusti manunggal dengankawulanya. Itulah kearifan lama. Seperti Semar Mahadewa yang melayani manusia.Seperti maharaja yang melayani rakyatnya.Pemimpin itu tak berdaya tanpa rakyat. Pemimpin yang kuat adalah yang menghambakepada rakyat. Rakyat tanpa pemimpin tetap hidup, tetapi pemimpin tanpa rakyat tak  bermakna. Itulah kearifan tua yang dapat dipetik dari Cariosan Prabu Silihwangi.***Penulis Guru Besar STSI Bandung. Selain itu dikenal pula sebagai kritikus sastra, juga pengamat film.*Sabtu, 04 September 2004
Menelusuri Situs Gunung NagaraOLEH RONI NUGRAHADALAM peradaban tatar Sunda, Kabupaten Garut pada umumnya, khususnya wilayahGarut selatan kurang begitu diperhatikan. Terlebih jika dikaitkan dengan kerajaan ataudengan isu penyebaran ajaran Islam. Sebab, dipungkiri ataupun tidak, di wilayahKabupaten Garut tidak pernah berdiri kerajaan besar sekaliber Galuh Pakuan, SumedangLarang, Pajajaran, Kasepuhan dan Banten. Akan tetapi, realitas tersebut tidak menutupkemungkinan kalau di wilayah Garut pernah berdiri kerajaan kecil yang dijadikan basis penyebaran agama Islam di wilayah Garut Selatan yang terjadi sekira awal abad ke 13.Situs Gunung NagaraBATU Nisan, salah satu peninggalan yang masih tersisa.*DOK. PRIBADIBerbicara tentang gunung, pikiran kita tertuju pada sebuah gunung cukup tinggi.Sebenarnya, Gunung Nagara bukanlah gunung dalam artian para pecinta alam. Ia lebihmerupakan bukit yang memiliki keragaman flora cukup unik. Di tempat tersebut masih banyak terdapat pohon burahol, menyan, kananga, bintanu, kigaru, binong serta masih banyak jenis tumbuhan lainnya yang mungkin secara ilmiah belum dikenal, dan belumdiketahui manfaatnya bagi kehidupan manusia. Kekayaan fauna juga dimiliki hutan Gunung Nagara. Kalau kebetulan, kita akanmenemukan burung rangkong (Buceros rhinoceros) yang sedang asyik berduaan bersama pasangannya di atas pohon yang cukup tinggi. Tubuhnya yang cukup besar diperindahdengan mahkota oranye di atas kepalanya. Bagi yang pertama kali menemukan burungini, mungkin akan merasa aneh, sebab ketika burung tersebut akan terbang, biasanyamemberi aba-aba dengan suara "gak" yang keras mirip suara monyet. Lantas, ketikasudah tinggal landas, kepakan sayapnya mengeluarkan suara yang dramatis. Selain burung Rangkong, masih terdapat hewan langka lainnya semisal kambing hutan, landak,kucing hutan, macan kumbang, walik, surili, dan beragam jenis kupu-kupu.Secara geografis, ia terletak di wilayah Desa Depok-Cisompet-Garut. Menuju daerahtersebut relatif gampang, dari terminal Garut kita hanya tinggal naik elf jurusanPamengpeuk-Garut dengan membayar ongkos RP 10.000,00, atau jika berangkat dariBandung, kita tinggal naik bus tiga perempat jurusan Bandung-Pameungpeuk denganmembayar ongkos Rp 15.000,00. Kita minta diturunkan di Kampung Pagelaran. Darikampung tersebut, bukit gunung Nagara sudah tampak begitu jelas, namun sekilas tidak ada jalan menuju bukit tersebut, yang terlihat hanyalah tebing cadas yang menurut pemikiran normal tidak mungkin untuk didaki tanpa peralatan panjat.Dari Kampung Pagelaran, kita tinggal berjalan kaki menuju Kampung Depok dengan jarak sekira satu kilometer. Menurut hikayat, nama Depok dikaitkan dengan padepokan.Artinya, perkampungan tersebut pada awalnya merupakan padepokan tempat peristirahatan para gegeden. Sebenarnya, menurut Ki Ecep (sesepuh kampung), pada eraenam puluhan, kampung Depok masih merupakan perkampungan dengan tradisi yangsama dengan Baduy. Akan tetapi, setelah kampung tersebut dibumihanguskangerombolan DI/TII, terjadi perubahan cukup signifikan. Sekarang tidak akan lagi terlihatrumah-rumah panggung berjajar menghadap kiblat.Perjalanan Pagelaran-Depok akan melintasi sungai Cikaso. Bagi mereka yang suka akankeindahan alam, alangkah baiknya terlebih dahulu mengunjungi Batu Opak yang beradakurang lebih setengah kilometer ke arah hulu. Di tempat tersebut kita akan menyaksikanfenomena geologis, yakni batu yang berjajar secara sinergis dari arah bukit menujusungai dengan bentuk mirip seperti opak. Penduduk sekitar menghubungkan fenomenageologis tersebut dengan legenda Sangkuriang. Yaitu, ketika Sangkuriang akan menikah,Embah Rajadilewa (penguasa daerah selatan) mau membantu nyambungan. Akan tetapi, baru saja mereka sampai di Leuwi Tamiang, dari arah timur terlihat fajar, sehinggamereka menyimpan barang bawaannya di tempat tersebut, hingga ia berubah menjadi batu.Bagi mereka yang baru mengunjungi tempat ini, di kampung Depok inilah bisa menemuiKi Sanang (kuncen) untuk minta diantar. Dari Depok, kita melanjutkan perjalananmenuju Cidadap dengan jarak kurang lebih setengah kilometer, perjalanan ini melewati pesawahan yang tidak terlalu luas. Di Cidadap inilah terdapat mata air yangdikeramatkan. Secara nalar, air dapat menyegarkan badan. Perjalanan baru akanmendapat tantangan manakala kita mulai merayap mendaki jalanan setapak yang cukupterjal (Cidadap-Gunung Nagara). Terkadang kita harus melewati jalanan yangkemiringannya mencapai 75 derajat. Dari Cidadap, kita tidak akan menjumpai jalananyang datar, kanan kiri jalan masih terdapat banyak pohon besar, sehingga walaupunkelelahan kita bisa beristirahat cukup santai. Perjalanan ini jika ditempuh dengan santai paling-paling memakan waktu sekira setengah jam.Sesampainya di puncak Gunung Nagara, secara langsung kita telah sampai di kompleks pemakaman. Tempat itu dikenal dengan pusaran ka hiji (kompleks pertama) yang ditempat ini terdapat dua puluh enam kuburan. Kuburan-kuburan tersebut relatif besar- besar. Setiap kuburan dihiasi batu "sakoja" dan batu nisan. Dinamai sakoja, karena batutersebut berasal dari sungai Cikaso diambil dengan menggunakan koja (kantong). Kalaukita perhatikan secara seksama, komplek pekuburan tersebut tersusun secara rapimembentuk sebuah struktur organigram. Lima belas meter ke arah utara, terdapat kubur-an yang dikenal dengan pusaran kadua. Di tempat ini hanya terdapat dua kuburan. Sekiradua kilometer ke arah utara, terdapat kuburan yang dikenal dengan pusaran katilu yanghanya terdiri dari dua kuburan. Konon kabarnya, kuburan ini merupakan kuburan EmbahAgeung Nagara dan patihnya.Menurut Kepala Desa Depok, Abdul Rasyid, tiga pusaran tersebut melambangkanAlquran yang terdiri dari 30 juz. Pusaran pertama yang terdiri dari 26 kuburanmelambangkan bagian Mufassal (surat-surat) pendek, pusaran kedua melambangkan al-mi'un dan pusaran ketiga melambangkan sab'ul matsani. Oleh sebab itu, tidak diperbolehkan menambah kuburan. Lebih lanjut, ia mengatakan kalau pada pusaran pertama itu terdiri dari para pengikut/pengawal yang salah satu di antaranya perempuan, pusaran kedua merupakan kuburan panglima dan pusaran ketiga merupakan kuburan rajadan patih. Sebenarnya, jika kita mau melanjutkan perjalanan ke arah utara, kita akanmenemukan sebuah kuburan yang terpisah, konon kabarnya kuburan tersebut merupakankuburan seorang berbangsa Arab.Lebih jauh, menurut Abdul Rasyid, sebenarnya situs Gunung Nagara terdiri atas beberapa peninggalan dalam bentuk barang. Namun sayang, naskah aslinya terbakar manakala gorombolan (DI/TII) menyerang Kampung Depok, sedangkan beberapa naskahlainnya yang tersisa dan barang-barang peninggalan sudah menjadi milik orang Tasik.Barang-barang yang masih ada, terpencar di perseorangan.Bagi para peziarah yang terbiasa melakukan semedi, disyaratkan baginya untuk melakukan ritual mandi di Sumur Tujuh. Sumur tersebut berada sekira setengahkilometer ke arah lembah. Sumur itu berada tepat di dekat sungai kecil. Sebenarnya,sumur itu merupakan kubangan-kubangan kecil akibat dari resapan air.Legenda Kian SantangMenurut sebagian besar masyarakat Depok, Situs Gunung Nagara erat kaitannya dengan penyebaran Islam di wilayah Garut Selatan yang disebarkan atas jasa Prabu KianSantang. Malahan diklaim kalau sesungguhnya daerah Leuweung Sancang merupakanempat peristirahatan terakhir Prabu Siliwangi (raja pajajaran yang terkenal), sehingga begitu melegenda kalau di leuweung tersebut terdapat harimau jadi-jadian, bekas pasukanPrabu Siliwangi. Sementara itu, walaupun terdapat daerah yang diklaim sebagai tempat peristirahatan terakhir Prabu Siliwangi, penduduk Garut selatan meyakini bahwa kuburanasli Prabu Kian Santang itu berada di kompleks pemakaman Gunung Nagara.Menurut mereka, keberadaan kuburan lainnya hanya merupakan tempat persinggahanPrabu Kian Santang. Misalnya saja pemakaman Godog di daerah Suci-Karangpawitan-Garut. Mereka menyatakan kalau sesungguhnya di tempat tersebut Prabu Kian Santanghanya tinggal berkontemplasi merenungi kekeliruannya dalam melakukan sunat terhadaporang yang masuk Islam. Oleh sebab itu, tempat tersebut dinamakan "Godog" yangmengandung arti tempat penyucian jiwa atau dalam istilah pewayangan "KawahCandradimuka", dan karenanya pula tempat ketika ia turun dari daerah tersebutdinamakan "Suci", yang berarti setelah melakukan kontemplasi ia kembali pada kesucianyang kemudian melanjutkan perjalanan menuju Garut Selatan.Dari data-data sepintas tersebut, rasanya tidak terlalu berlebihan kalau sesungguhnyaGunung Nagara menyimpan rahasia yang harus segera dieksploitasi, baik bagikepentingan pendidikan ataupun bagi kepentingan pariwisata. (Penulis adalah anggotaKPA Jirim)Rabu, 13 Oktober 2004"
Mahkota Binokasih" Bertuah Cinta KasihADA tradisi unik berlaku di sebagian masyarakat Sumedang. Jika keturunan RajaSumedang Larang naik ke pelaminan, kedua mempelai diharuskan mengenakan mahkota. Namun bukan sembarang mahkota. Mereka harus mengenakan sepasang mahkotakeramat dan terbuat dari emas, bernama Binokasih Sanghyang Pake."Pada akhir September, kedua mahkota kuno itu dipakai pada acara perkawinan diYogyakarta, karena ada keturunan Sumedang Larang yang menikah. Bukan hanyamahkota, beberapa senjata kuno lainnya juga dipakai pada acara pernikahan itu," kataAom Ahmad, Wakil Ketua Yayasan Geusan Ulun.Menurut Aom, mahkota keramat tersebut adalah warisan Prabu Ragamulya, RajaPajajaran terakhir, yang diberikan kepada Raja Geusan Ulun, sekira tahun 1579 M. Ada pun makna dari tradisi pengenaan mahkota oleh pasangan mempelai adalah simbolisasidari sebuah harapan agar mereka bisa menjalani kehidupan rumah tangga secara sakinahmawadah wa rahmah."Lebih dari itu, penyematan mahkota oleh pasangan mempelai juga diharapkan agar  barang bersejarah warisan leluhur itu bisa tetap eksis, dicintai, dan dilestarikan paraketurunan Sumedang Larang hingga akhir zaman," tandas Aom. Aom sendiri tidak bisa memberikan jaminan atau data yang bisa membuktikan bahwasetelah mengenakan mahkota, perjalanan rumah tangga keturunan Sumedang Larang benar-benar langgeng dan sakinah mawahdah wa rahmah. Hanya, sepengetahuannya, bagi keturunan Sumedang Larang yang menikah dengan menggunakan mahkota kuno itu,dalam menjalankan bahtera rumah tangganya terlihat runtut raut sauyunan (abadi)."Sangat jarang yang berpisah, di tengah jalan terkecuali ada salah satu pasanganmeninggal dunia. Bagi pasangan keluarga yang tidak sampai bercerai, mungkin karenamereka merasa malu, ketika pernikahan memakai mahkota wasiat itu. Itulah hikmah yang punya arti menuju bahtera rumah tangga yang harmonis," kata Aom.**SALAH seorang warga Sumedang yang pada saat pernikahan pernah memakai mahkotaBinokasih Sanghyang Pake, mengaku ada getaran aneh pada dirinya ketika iamembacakan akad nikah. Getaran aneh itu seolah membawa ketegaran bagi dirinya untuk menggapai rumah tangga abadi. "Getaran mahkota sering kali terjadi bila kebetulan dirumah tangga terjadi pertengkaran antara saya dan istri. Getaran itulah yang bisameredakan emosi kami ketika bertengkar, sehingga pertengkaran itu pudar seketika.Alhamdulillah sudah lebih 35 tahun berumah tangga, kami masih sauyunan," papar Hapid(63), warga Desa Sukajaya, Kec. Sumedang.Bukan saja apa yang menimpa keluarganya, Hapid mengaku saudaranya yang pada saat pernikahan pernah mengenakan mahkota keramat itu, keadaan rumah tangganya tetapabadi. Setidaknya hal itu menurut pengakuan bersangkutan. Namun, Abdus Syukur, salah seorang petugas museum mengatakan lain. Menurutnya,Mahkota Binokasih Sanghyang Pake warisan Kerajaan Pajajaran sudah lama tak digunakan untuk acara pernikahan. Pertimbangannya, agar jangan sampai mahkotatersebut rusak. Mahkota yang sering dipakai untuk acara pernikahan, sebenarnya bukanmahkota asli Raja Pajajaran terakhir. Melainkan replika yang dibuat Pangeran Sugih aliasRaden Suria Kusumahdinata, Bupati Sumedang yang memerintah di tahun 1836 s.d.1882.Mahkota Binokasih Sanghyang Pake yang asli cukup dikeluarkan dari tempatnya untuk dibersihkan pada acara ritual di setiap bulan Maulud. "Meski demikian, khasiat danmaunat dari mahkota (replika yang dibuat) Raden Sugih bagi sang pengantin sama saja,"kata Abdus Syukur.Sejumlah barang pusaka warisan Raja Pajajaran, Raja Sumedang Larang dan para BupatiSumedang, hingga kini masih terawat rapi dan tersimpan di ruangan Museum GeusanUlun, yang terletak di samping Kantor Pemkab Sumedang. Barang pusaka tersebut terdiridari pekakas kerajaan, pakaian para raja, senjata perang, naskah kuno, gamelan, dll.Para keturunan raja, menurut Aom Ahmad, memang punya kewajiban memulasara(memelihara), melestarikan, dan merawat barang pusaka warisan para leluhur. "Namun
ada yang lebih penting, barang pusaka yang tersimpan di museum bukan untuk dilestarikan saja. Lebih dari itu sangat bermanfaat untuk dijadikan bahan penelitiansejarah Sumedang di masa silam," tambah Aom.Seperti Mahkota Binokasih Sanghyang Pake misalnya, merupakan barang hukti peninggalan sejarah yang faktual guna mengkaji dan mempelajari tentang sejarahKerajaan Pajajaran.Menurut kisah, ketika Kerajaan Pajajaran tengah mendapat ancaman dari pasukanKerajaan Banten, Prabu Ragamulya (Raja Pajajaran) tak menghendaki Pajajaran runtuh.Menjelang berakhirnya kerajaan Sunda Pajajaran pada tahun 1579 M, Ragamulya sengajamenitipkannya kepada Raja Sumedang Larang yang pada saat itu dijabat PangeranGeusan Ulun, untuk melanjutkan dinasti Pajajaran.Pada saat itu Prabu Ragamulya mengutus perwira perang Jaya Perkasa bersama empat punggawanya untuk menyerahkan dua buah Mahkota Binokasih Sanghyang Peke kepadaRaden Geusan Ulun. Penyerahan kedua mahkota tersebut sebagai tanda bukti penyerahankekuasaan kerajaan Pajajaran untuk ditindaklanjuti oleh Raden Geusan Ulun."Setelah mahkota pusaka diterima Raden Geusan Ulun, maka runtuh sudah KerajaanPajajaran. Makanya kedua mahkota itu merupakan ciri bukti tentang berakhirnyaKerajaan Pajajaran di abad ke-16 M," kata Aan Merdeka Permana, salah seorangwartawan senior yang sering menulis kisah sejarah Sunda.Menurut Aan, pembuktian sejarah kerajaan Pajajaran, sangat sulit dicari. Soalnya padasaat kerajaan dijabat Prabu Siliwangi bukti-bukti sejarah selalu menghilang tanpa sebab.Malah yang banyak didapat di berbagai tempat adalah tapakan-tapakan atau petilasanSiliwangi yang hingga sekarang oleh kalangan masyarakat sering dimistikkan dandianggap sebagai tempat keramat.(H. Undang Sunaryo/"MD")***Jumat, 14 Januari 2005Silih Asah, Silih Asih, Silih AsuhOleh JAKOB SUMARDJOUNGKAPAN yang amat populer di masyarakat Sunda ini adalah bagian dari konsepTrias Politika Sunda. Umumnya orang menafsirkan ungkapan budaya itu berdasarkan pandangan masa kini, yakni dalam pola berpikir modernnya. Tetapi ungkapan ini bukan berasal dari masa kini Sunda. Ungkapan itu berasal dari masa lampau Sunda, dan dengandemikian harus kita letakkan dalam ekologi budaya Sunda masa lampau juga. Meskipundemikian, karena ini merupakan produk berpikir manusia Sunda, maka ungkapan initetap relevan bagi masyarakat Sunda sekaranSilih asah, apa maksudnya? Artinya saling mengasah, saling mempertajam agar lebih berdaya guna dalam kehidupan, saling mendalami makna. Tentunya ada yang mengasahdan ada yang diasah. Siapa pengasahnya? Siapa yang diasah? Diakronik sejarahmasyarakat Sunda pada awalnya mengenal tritangtu, yang dalam pengertian sosio- budayanya terdiri dari kesatuan tiga kampung utama Baduy, yakni Cikeusik,Cikertawana, dan Cibeo. Kampung paling tua (indung) adalah Cikeusik, yang berperansebagai pemegang atau pewaris norma-norma adat dari karuhun. Cikeusik adalah pemilik mandat kekuasaan.Tetapi pemilik ini tidak menjalankan mandatnya, dan menyerahkan peran memerintah berdasarkan norma-norma sakral itu kepada Cikertawana (si bungsu), dan anak sulungnya, Cibeo, berperan menjaga indung dan si bungsu. Jadi, Cikeusik yang berperanmengasah, Cikertawana yang berperan mengasihi, yakni berbuat, memberi, membina,menyatukan. Dalam ungkapan di atas disebut silih asih. Sedang Cibeo yang berperanmengasuh, melindungi, menjaga. Dalam ungkapan di atas disebut silih asuh.Secara ringkas, Trias Politika Sunda ini terdiri dari Cikeusik (silih asah), Cikertawana(silih asih), dan Cibeo (silih asuh). Dalam pengertian modern, memang seharusnya setiaporang Sunda bersilih asah, bersilih asih, dan bersilih asuh sama lain. Tetapi dalam zamanmodern pun tidak setiap orang mampu mengasah, mengasih, maupun mengasuh.Kenyataan bhinneka diakui oleh budaya Sunda. Bahwa setiap manusia itu berbeda-beda.Yang pandai mengasah yang kurang pandai, yang kaya mengasihi yang miskin, yang kuatmengasuh yang lemah.Perbedaan-perbedaan itu harus disatukan dengan pembagian peran yang salingmelengkapi satu dengan yang lain. Itulah gunanya ika, esa, kesatuan. Ketiganya berbedanamun saling melengkapi satu sama lain, sehingga terjadi homogenisasi yang tetapmempertahankan heterogenitasnya. Inilah kearifan lokal, yang sudah sangat tua usianya.Sebuah kondisi paradoks.Ketika masyarakat Sunda mengenal cara berpikir asing yang masuk bersama sistemkepercayaan Hindu-Budha pada awal abad pertama, pola pikir Trias Politika ini tetapdipertahankan.Siapakah yang berperan sebagai pengasah norma-norma Sunda yang baru? SiapakahCikeusik baru ini? Tak lain adalah Pajajaran dengan figur mitologisnya yang amatmasyhur, Prabu Siliwangi. Kalau dulu, Sunda itu Cikeusik, kini Sunda itu Siliwangi,Pajajaran. Prabu Siliwangi adalah rex otiosus Sunda yang amat dihormati dan disegani.Siapa yang berperan sebagai silih asih Sunda? Yakni pusat-pusat kekuasaan yangtersebar di berbagai daerah antara pedalaman dan pesisir utara Jawa Barat. Mungkin sajaseperti Ciamis, Cianjur, Sumedang, Garut, Tasikmalaya. Inilah pelaksana kekuasaan yangmemperoleh mandat dari pemilik kekuasaan, Pajajaran.Siapakah yang berperan sebagai silih asuh? Tak lain adalah daerah-daerah pesisir yang berhadapan langsung dengan orang-orang luar. Mungkin saja seperti Karawang,
Tangerang, Bekasi, Indramayu. Mereka inilah penjaga Pajajaran dan segenap pelaksana- pelaksana mandatnya. Tugasnya jelas di bidang keamanan dan pelindung kesatuanketiganya.Dari zaman inilah muncul ungkapan resi, ratu, rama. Resi adalah pendeta penguasa ilmudan pengetahuan agama, serta pemimpin dalam upacara-upacara keagamaan. Resi adalah pemegang silih asahnya. Ratu adalah penguasa atau yang melaksanakan kekuasaan praksis. Jadi, ratu atau raja daerah adalah pemegang silih asihnya. Sedangkan daerah-daerah paling luar dari Trias Politika itu adalah pemegang silih asuhnya. Mengapadisebut rama? Rama adalah kepala desa atau pemimpin-pemimpin lokal. Mereka ini benar-benar bagian dari rakyat Sunda. Kesatuan resi, ratu, rama adalah kesatuangolongan pendeta, raja, dan rakyat. Pendeta yang mengasah atau menggarami raja danrakyat dengan norma-norma kesundaan zaman itu, raja-raja yang menjalankan danmengawasi dilaksanakannya norma-norma itu, dan rakyat di desa-desa mengamankan berjalannya kedua peran di atas.Di zaman masuknya pola pikir baru di tanah Sunda bersama tersebarnya agama Islam, pola pikir tritunggal ini masih dipertahankan pula. Pajajaran sebagai pemegang mandatkekuasaan berdasarkan kepercayaan Hindu-Budha-Sunda, tidak dilanjutkan olehmunculnya kerajaan Sunda-Islam. Kerajaan-kerajaan Islam yang muncul di Jawa Barat(Banten dan Cirebon) bukan kelanjutan dari kekuasaan lokal. Sampai sekarang sisa-sisa budaya non-Sunda itu masih hidup dalam masyarakatnya.Dalam alam pikiran Sunda, kelanjutan atau pewaris silih asah ini adalah Kean Santang,yakni putra Prabu Siliwangi sendiri, namun masuk Islam (di Mekah oleh NabiMuhammad saw. sendiri) tetapi tidak membentuk kerajaan Islam Sunda. Beliau ini hanyamendirikan perguruan Islam (semacam pesantren) di desa-desa. Peran silih asah yangdulu dipegang Cikeusik, Pajajaran/Siliwangi, kini berada di pesantren-pesantren. Paraulama adalah penerus ulama pertama Sunda, Kean Santang. Hal ini tidak harus dibacasecara historis-modern. Yang dipentingkan di sini adalah alam pikiran nyata masyarakatSunda, entah itu berdasarkan fakta historis maupun fakta mitologis.Silih asih dipegang oleh kaum menak yang sudah amat dikenal dalam sejarah Sunda.Dan silih asuh ditangani oleh rakyat perdesaan. Pada dasarnya trilogi resi-ratu-ramamasih hidup dalam bentuk baru, yakni ulama-menak-rakyat. Dalam banyak wawacanSunda jelas terlihat garis ini. Wawacan yang berisi ajaran Islam banyak ditulis dalamhuruf Pegon. Wawacan yang berisi cerita-cerita para raja ditulis dalam huruf Jawa dan bahkan ada yang berbahasa Jawa. Sedangkan rakyat menerima dua jenis literatur itusebagai kekayaan rohani mereka.Saya menduga bahwa ungkapan silih asah, silih asih, dan silih asuh ini berasal darizaman ini. Pada waktu itu pengaruh budaya Islam dari kerajaan Mataram cukup besar diSunda. Kosa kata itu cukup dikenal dalam bahasa Jawa juga. Sampai sekarang padanandari ungkapan silih asah, silih asih, dan silih asuh itu ada dalam semboyan pendidikan KiHajar Dewantoro, yakni ing ngarso sun tulodo, ing madya mbangun karso, tut wur 
handayani. Di depan memberi teladan (silih asah), di tengah membangun ataumengarahkan tindakan (silih asih), di belakang menjaga dan melindungi (silih asuh).Meskipun bunyi ungkapannya ada kesamaan dengan budaya Jawa, tetapi ini amat khasSunda. Jadi, bentuknya atau wujudnya bisa beda tetapi pola dan strukturnya tetap sama.Bentuk dan wujud ungkapan yang mengalami proses perubahan, tetapi polanya tetap,yakni pola tripartit Sunda. Jati diri Sunda itu bukan pada wujud ungkapannya, tetapi pada pola tetapnya. Pola tetap Sunda itu adalah tritunggal atau tritangtu.Kini setelah zaman kerajaan atau zaman menak telah lewat di Sunda, apakah terjemahansilih asah, silih asih, dan silih asuh itu? Menurut pendapat saya, peran silih asah tetapdipegang oleh kaum ulama yang berpusat di pesantren-pesantren atau lembaga-lembagakeagamaan lain yang diakui masyarakat Sunda. Peran silih asih dipegang oleh para pejabat pemerintahan modern maupun tradisional. Dan peran silih asuh dilakukan olehrakyat Sunda itu sendiri dengan pimpinan modern lembaga pertahanan nasional.Dalam wawacan roman selalu dikisahkan anak lelaki keluarga menak bertemu anak  perempuan keluarga tani di pesantren, yakni ketika mereka sedang belajar (dengan versi pertemuan yang bereda-beda). Intinya, pesantrenlah yang mempertemukan menak (pejabat) dengan rakyat). Ulama yang mengasah, pejabat yang melaksanakan silih asih,dan rakyat serta tentara yang melaksanakan silih asuh.Peran boleh berbeda-beda, tetapi tidak ada yang saling mendominasi. Peran ketiganyasama besar dan saling melengkapi. Ini tidak berarti bahwa pemegang mandat silih asahdapat semena-mena menekan pemegang silih asih atau silih asuh. Begitu pula sebaliknya.Kuncinya pada asas saling melengkapi. Dalam hal ini berarti saling mengisi kekuranganyang lain.Heterogenitas dalam homogenitas. Sebuah paradoks. Justru kelestarian budaya Sundaakibat dari penciptaan paradoks ini. Tidak ada yang menguasai atau dikuasai dalam silihasah, silih asih, dan silih asuh. Ketiganya menguasai dan dikuasai sekaligus. Salingmelengkapi sama sekali bukan saling menguasai. Ingatlah prinsip silih asih itu. Hukumkeseimbangan selalu dijaga. Bagaimana menjaganya? Ya dengan silih asah, silih asih,dan silih asuh. Ketiga-tiganya dikenai prinsip dasar itu. Jadi bukan silih asah yangmenguasai silih asih dan silih asuh. Pemegang peran silih asih pun juga harus menaatisilih asah, silih asih, dan silih asuh.Kalau pola tritangtu ini sejak zaman dulu kala tidak berubah sampai hari-hari ini,mengapa masa depan Sunda harus berubah dari pola ini? Itulah jati diri Sunda.***Penulis, Budayawan.Senin, 24 Januari 2005
Bianglala Etnis dan Budaya di TangerangOleh EDI S. EKADJATIPERJALANAN sejarah Tangerang ditandai oleh empat hal utama yang saling terkait.Keempat hal itu adalah peranan Sungai Cisadane; lokasi Tangerang di tapal batas antaraBanten dan Jakarta; status bagian terbesar daerah Tangerang sebagai tanah partikelir dalam jangka waktu lama; dan bertemunya beberapa etnis dan budaya dalam masyarakatTangerang.Sungai Cisadane membujur dari selatan di daerah pegunungan ke utara di daerah pesisir.Sungai ini memainkan peranan penting dalam kehidupan masyarakat pemukimnyahingga dewasa ini.Yang berubah hanyalah jenis peranannya. Sejak zaman Kerajaan Tarumanagara (abadke-5) hingga awal zaman Hindia Belanda (awal abad ke-19) sungai ini berperan sebagai jalan lalu lintas air yang menghubungkan daerah pedalaman dengan daerah pesisir, disamping sebagai sumber penghidupan manusia yang bermukim di sepanjang aliransungai ini. Sesudah itu yang lebih menonjol adalah perannya sebagai sumber irigasi bagi pengairan lahan pertanian (pesawahan dan perikanan) di daerah dataran rendah bagianutara Tangerang.Dengan peran yang pertama itu, hasil bumi dari daerah pedalaman (lada, beras, kayu,dan lain-lain) dapat dipasarkan ke daerah pesisir dan luar daerah Tangerang. Sebaliknya,keperluan hidup penduduk pedalaman (garam, kain, keramik, dll.) dapat didatangkan daridaerah pesisir dan luar daerah Tangerang. Sementara peran kedua dapat meningkatkan produksi pertanian, terutama produksi beras, selain mencegah bahaya banjir.Sesungguhnya pada awal abad ke-16, zaman Kerajaan Sunda, Tangerang tampil sebagaikota pelabuhan bersama-sama Banten dan Kalapa (Jakarta kini), sebagaimana disaksikandan dicatat pada tahun 1513 oleh Tome Pires, orang Portugis.Yang berbeda di antara ketiganya hanyalah tingkat kualitas dan kuantitas kegiatannya.Kalapa menempati tingkatan tertinggi karena lokasinya paling dekat dan dapat berhubungan langsung melalui jalan darat dan jalan air (Sungai Ciliwung) dengan PakuanPajajaran yang menjadi ibu kota Kerajaan Sunda. Selain itu, Kalapa menjadi pusat kota pelabuhan Kerajaan Sunda. Di bawahnya adalah kota pelabuhan Banten yang merupakankota pelabuhan paling barat. Banten menempati kedudukan strategis, setelah Malakadiduduki oleh Portugis (1511) karena Selat Sunda dan pesisir barat Sumatra menjadi jalur utama perdagangan.Tangerang menempati kedudukan paling bawah karena lokasinya berada di antara dan berdekatan dengan Banten dan Kalapa. Lokasi ketiga kota pelabuhan tersebut berada disekitar muara sungai, yaitu Sungai Cibanten bagi kota pelabuhan Banten, SungaiCisadane bagi kota pelabuhan Tangerang, dan Sungai Ciliwung bagi kota pelabuhanKalapDalam perjalanannya sejak pertengahan abad ke-16 Banten dan Jayakarta (perubahannama dari Kalapa sejak berada di bawah kuasa Islam pada 1527) mengembangkan dirimenjadi pusat kegiatan pemerintahan dan perdagangan. Didukung oleh Cirebon danDemak, Banten meningkat pesat sebagai pusat penyebaran agama Islam, pemerintahan,dan perniagaan laut (maritim) di Tatar Sunda bagian barat dan Sumatra bagian selatan.Puncak keemasan Kesultanan Banten berlangsung sekira pertengahan abad ke-17, padamasa pemerintahan Sultan Abulmafakhir Mahmud Abdulkadir (1596-1651) dan SultanAgeng Tirtayasa (1651-1684).Adapun Jayakarta yang semula berperan sebagai penutup hubungan Pakuan Pajajaran kedunia luar dan merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Banten, setelah jatuh ke dalamkekuasaan Kompeni Belanda (1619) dan namanya diganti dengan Batavia berhasilmengembangkan diri. Mula-mula Batavia berperan sebagai pusat kedudukan dan pusat perdagangan Kompeni (VOC) di nusantara, kemudian (sejak tahun 1800) menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan internasional pemerintah kolonial Hindia Belanda.Sejak dasawarsa kedua 1600-an antara Banten dan Batavia berlangsung persaingan perdagangan yang keras. Pada satu pihak Kompeni Belanda mendesakkan keinginannyauntuk melakukan monopoli perdagangan di wilayah Kesultanan Banten. Pada pihak lain,Sultan Banten sendiri mempertahankan sistem perdagangan bebas dan kedaulatan negara.Begitu keras persaingan itu sehingga berkembang menjadi konflik politik dan akhirnyakonflik senjata yang mula-mula (1652) berbentuk konflik senjata secara tertutup, namunkemudian (1659) berbentuk perang terbuka.Dalam suasana konflik itulah Tangerang menjadi daerah pertahanan sekaligus medan pertempuran serta daerah rebutan antara Banten dan Batavia. Selanjutnya, pihak Bantenmembangun benteng pertahanan di sebelah barat Sungai Cisadane dan pihak KompeniBelanda membangun benteng pertahanan di sebelah timur Sungai Cisadane. Itulahsebabnya, dulu daerah ini dikenal dengan nama Benteng, baru kemudian muncul namaTangerang.Dengan mengerahkan serdadu Kompeni secara besar-besaran, terutama serdadu sewaanyang berasal dari kalangan orang nusantara sendiri, dan taktik adu-domba (divide etimpera), secara bertahap wilayah Kesultanan Banten jatuh ke tangan kekuasaan KompeniBelanda. Mula-mula (1659) daerah sebelah timur Sungai Cisadane jatuh ke tanganKompeni, kemudian tanah di sepanjang Sungai Cisadane sejak dari daerah hulu sampaike muara dan daerah sebelah selatan Sungai Cisadane sampai ke Laut Kidul (SamudraHindia) ditetapkan masuk ke wilayah Batavia (1684). Akhirnya (1809), KesultananBanten dihapuskan serta seluruh wilayahnya dimasukkan ke wilayah pemerintahanHindia Belanda. Sejak itu berakhirlah kedudukan Tangerang sebagai daerah tapal batasantara Banten dan Jakarta, karena seluruhnya berada di bawah kuasa pemerintah kolonialHindia Belanda.Perubahan pemegang kekuasaan atas daerah Tangerang memberikan jalan bagi perubahan status daerah itu. Semula berstatus sebagai daerah rebutan antara Banten danBatavia, Tangerang menjadi daerah tanah partikelir di bawah Batavia. Sepetak demisepetak tanah di Tangerang dikuasai oleh pihak partikelir secara perseorangan dan perusahaan.Muncullah sejumlah tuan tanah di daerah ini yang umumnya terdiri dari orang Belandadan orang Cina. Di samping menguasai tanah garapan dan lingkungannya, mereka jugamenguasai penduduk yang bermukim di lahan itu. Penduduk setempat berkewajibanmenggarap tanah milik tuan tanah dengan upah kecil, padahal mereka pun harusmembayar berbagai pajak dan pungutan lainnya.Karena itu, terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara tingkat kesejahteraan tuantanah dan tingkat kesejahteraan penduduk pribumi. Selain itu, tuan tanah lebih berkuasadaripada pejabat pemerintahan pribumi. Tuan tanah dilindungi dan dibantu oleh sejumlahmandor yang bertindak sebagai jawara dan berstatus sebagai pegawai tuan tanah.Keberadaan dan fungsi jawara dalam masyarakat Tangerang masa itu menjadi gejalaumum dan ciri khas lingkungan tanah partikelir. Situasi dan kondisi demikianmembentuk struktur dan karakter masyarakat tersendiri di lingkungan tanah partikelir.Pendidikan sekolah hampir tak tersentuh oleh bagian terbesar penduduk pribumi. Merekamengutamakan pendidikan informal dari guru agama Islam secara individual, atau di pesantren-pesantren secara kelembagaan. Peran dan kedudukan orang keturunan Cina dan jawara dalam masyarakat Tangerang demikian berpengaruh besar terhadap suasana dan peristiwa selama revolusi kemerdekaan pada tahun 1945-1949.Pada masa itu orang-orang keturunan Cina di daerah ini pernah menjadi sasaran amuk rakyat sebagai tindak balas dendam, dan amarah terhadap mereka karena dicurigaimembantu pihak kolonial. Pernah pula dibentuk pemerintahan mandiri oleh kalangan jawara yang berjiwa merah dan bersikap kiri. Pemerintahan ini tak mengakui Republik Indonesia. Mereka mendirikan negara di dalam negara.Pada mulanya penduduk Tangerang dapat dikatakan hanya beretnis dan berbudayaSunda. Mereka terdiri atas penduduk asli setempat, serta pendatang dari Banten, Bogor,dan Priangan. Kemudian (sejak 1526) datang penduduk baru dari wilayah pesisir Kesultanan Demak dan Cirebon yang beretnis dan berbudaya Jawa, seiring dengan prosesIslamisasi dan perluasan wilayah kekuasaan kedua kesultanan itu. Mereka menempatidaerah pesisir Tangerang sebelah barat.Keragaman etnis penduduk Batavia sebagai dampak kebijakan Kompeni Belanda di bidang kependudukan di Kota Batavia melahirkan ragam etnis dan budaya MelayuBetawi. Dinamakan demikian karena mereka berbicara dalam bahasa Melayu sebagai alatkomunikasi sosialnya dan bertempat tinggal di daerah Betawi, sebutan orang pribumi bagi Kota Batavia. Penduduk etnis dan budaya Betawi ini menyebar ke daerah sekelilingKota Betawi, termasuk daerah Tangerang. Mereka menempati daerah pesisir sebelahtimur dan daerah pedalaman timur Tangerang.Kebijakan Kompeni tersebut melahirkan pula keturunan orang Cina dalam jumlah
 
 banyak di Kota Batavia yang menyebar ke daerah Tangerang sebagai dampak dari pemberontakan orang-orang Cina di Kota Batavia pada 1740 dan lahirnya status tanah partikelir. Keturunan orang Cina ini tersebar di daerah tanah partikelir, terutama di daerah pesisir Tangerang sebelah timur.Selanjutnya, kebudayaan mereka berasimilasi dengan kebudayaan Melayu Betawi. Dari pertemuan itu lahirlah jenis-jenis budaya yang bercirikan Melayu Betawi dan Cina yangkini populer disebut budaya Betawi, seperti teater lenong, tari topeng, dan lain-lain.Dengan perkembangan penduduk seperti itu, peta penduduk dan budaya di Tangerangterbilang unik. Daerah Tangerang Utara bagian timur berpenduduk etnis Betawi dan Cinaserta berbudaya Melayu Betawi. Daerah Tangerang Timur bagian selatan berpenduduk dan berbudaya Betawi. Daerah Tangerang Selatan berpenduduk dan berbudaya Sunda.Sedang daerah Tangerang Utara sebelah barat berpenduduk dan berbudaya Jawa.Dalam konteks keseluruhan pemerintahan di wilayah Tatar Sunda, kedudukanTangerang mengalami beberapa kali perubahan dalam tingkat dan struktur pemerintahan.Sebagaimana telah dikemukakan, pada awal abad ke-16 Tangerang berstatus sebagaisalah satu kota pelabuhan dalam lingkungan Kerajaan Sunda. Pada masa itu kota pelabuhan berada di bawah kuasa seorang syahbandar yang bertanggung jawab langsungkepada raja Sunda.Pada masa Tangerang di bawah kuasa Kesultanan Banten (sejak tahun 1526), diberitakan bahwa sistem pemerintahannya berbentuk kemaulanaan dan pusat pemerintahannya berada di daerah pedalaman, yaitu di sekitar Tigaraksa sekarang. Ketika sebagian daerahini jatuh ke tangan Kompeni (sejak 1659), demi keamanan pemerintahan di daerah inidipimpin oleh seorang komandan militer (orang Belanda). Namun, ketika seluruh daerahini berada di bawah kuasa Kompeni Belanda dan stabilitas keamanannya telah tercapai(sejak 1682) pemerintahan di daerah ini berbentuk kabupaten (regentschap) yangdipimpin oleh seorang bupati yang berasal dari kalangan penduduk pribumi.Pada 1809 terjadi perubahan sistem pemerintahan secara menyeluruh di Hindia Belandayang ditetapkan oleh Gubernur Jenderal H.W. Daendels. Tingkat dan struktur  pemerintahan di daerah Tangerang berubah lagi. Kini Tangerang berada di bawahwilayah administrasi pemerintahan De stad Batavia, de Ommelanden, en JacatraschePreanger Regentschappen (Kota Batavia dan sekitarnya serta wilayah Jakarta-Priangan)yang kemudian disebut Keresidenan Batavia.Daerah Tangerang disebut Batavia Barat dan berada di bawah perintah seorang AsistenResiden yang selalu dipegang oleh orang Belanda. Selanjutnya (sejak tahun 1860-an),daerah ini berstatus afdeling yang disebut Afdeling Tangerang yang tetap dipimpin olehAsisten Residen. Daerah Afdeling Tangerang dibagi atas tiga distrik, yaitu TangerangTimur, Tangerang Selatan, dan Tangerang Utara yang selanjutnya (sejak 1880-an)masing-masing disebut Distrik Tangerang, Distrik Balaraja, dan Distrik Mauk; laluditambah dengan Distrik Curug.
 
Kepala distrik dipegang oleh orang pribumi yang jabatannya disebut demang, kemudian berubah jadi wedana. Tingkat dan struktur pemerintahan demikian di Tangerang berlangsung hingga akhir kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda (1942).Pada zaman Jepang (1942-1945), Tangerang yang bertetangga dengan ibu kota pemerintah pusat Jakarta dipandang sebagai daerah strategis. Dengan demikian, tingkatdan struktur pemerintahannya dinaikkan jadi kabupaten, dan didirikanlah lembaga pendidikan militer (Seinendojo). Pembentukan Kabupaten Tangerang didasarkanMaklumat Jakarta Syu Nomor 4 tanggal 27 Desember 2603 (1943), sedangkan peresmiannya dilakukan pada hari Selasa, 4 Januari 1944, bersamaan dengan pelantikanR. Atik Suardi menjadi Bupati Tangerang pertama. R. Atik Suardi adalah aktivis yangkemudian (sejak akhir tahun 1920-an) jadi salah seorang pemimpin Paguyuban Pasundan,organisasi pergerakan nasional masyarakat Sunda. Ia pernah menjabat sebagai pembantuR. Pandu Suradiningrat di Gunseibu Jawa Barat.Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945 mendapat sambutan hangat dari para pemimpin dan masyarakat Tangerang. Wujudnya terdiri atas dua bentuk. Pertama,menegakkan kemerdekaan dengan cara membentuk pemerintahan daerah di Tangerangyang menunjang Proklamasi Kemerdekaan RI, mulai dari tingkat kabupaten ke bawah.Kedua, mempertahankan kemerdekaan dengan cara menentang dan melawan pihak asingdan antek-anteknya yang berusaha untuk menjajah kembali dan pihak yang maumendirikan negara sendiri yang tidak mengakui keberadaan Republik Indonesia.Terjadilah revolusi kemerdekaan! Akhirnya, kedaulatan Republik Indonesia bisaditegakkan di Tangerang.Kedudukan Kabupaten Tangerang dikukuhkan kembali pada awal masa Republik Indonesia (19 Agustus 1945) dan berlaku terus hingga kini. Kabupaten ini jadi salah satukabupaten di Provinsi Jawa Barat.Sesuai dengan semangat dan tuntutan otonomi daerah serta perkembangan KotaTangerang yang meningkat pesat, status pemerintahan di Kota Tangerang sendiriditingkatkan. Tadinya kota itu adalah kota kecamatan, lalu jadi kota administratif,kemudian (sejak tahun 1993) jadi kotamadya (lantas jadi kota) yang kedudukannya setaradengan tingkat kabupaten. Dengan demikian, di Tangerang terdapat dua jenis pemerintahan daerah yang setara, yaitu Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang.Sementara itu, dengan berdirinya Provinsi Banten (sejak 1999), Kabupaten Tangerangdan Kota Tangerang pun jadi bagian dari wilayah Provinsi Banten.Seiring dengan program pembangunan yang dilancarkan sejak tahun 1968, KabupatenTangerang melaksanakan program ini setahap demi setahap. Dampak yang menonjol diTangerang dari pelaksanaan program pembangunan ini adalah berubahnya segala bidangkehidupan masyarakat Tangerang. Semula mereka hanya mengandalkan kegiatan bidang pertanian, kemudian mereka mengerjakan berbagai bidang kegiatan ekonomi, terutama bidang industri, perdagangan, dan jasa yang tentu mengubah orientasi dan pola hidupmasyarakat.
 
Sebagai gambarannya, kini di Tangerang terdapat beberapa kawasan industri, ditambahdengan Bandara Internasional Sukarno-Hatta. Hal itu kian meningkatkan mobilitas penduduk, bahkan migrasi penduduk. Ke dalam daerah Tangerang, terutama daerah perkotaannya, masuklah banyak penduduk baru yang berasal dari luar, baik dari kawasanlain di Pulau Jawa maupun dari luar Jawa, ataupun orang asing. Karena itu, etnis dan budaya penduduk daerah ini kian beragam. Kondisi tersebut kian memperkokohTangerang sebagai daerah pertemuan berbagai etnis dan budaya.Kita harapkan dalam kondisi keragaman etnis dan budaya itu, Tangerang menjadi daerahyang penduduknya hidup rukun, damai, sejahtera, dan tak tercerabut dari akar  budayanya.***Penulis, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Pusat Studi Sunda.Sabtu, 29 Januari 2005Seni Helaran, Seni Teater JalananOleh ARTHUR S. NALANKALAU Indonesia merupakan zamrud khatulistiwa, maka Jawa Barat adalah pusatnya,demikianlah yang dikatakan Dauwes Dekker setengah abad yang lalu (Arief, 1990:21).Kutipan ini sengaja disajikan dalam tulisan ini untuk menunjukkan bahwa KementerianKebudayaan dan Pariwisata tidak salah memilih Jawa Barat, tepatnya Kota Bandunguntuk lokasi Kemilau Nusantara 2004, yang dirancang diselenggarakan tiap tahun diJawa Barat. Munculnya satu pengakuan dan perlakuan terhadap lemah cai Jawa baratmerupakan "tantangan" besar bagi pengelola dunia kebudayaan dan pariwisata JawaBarat. Tantangan itu adalah menjadikan peristiwa budaya itu sebagai peristiwa apresiasiseni bagi masyarakat, baik masyarakat umum maupun masyarakat pelajar danmahasiswa. Hal ini esok hari tampaknya perlu dipikirkan keterlibatannya. Seni Helarandapat dianggap sebagai Theatre of The Road karena pertunjukannya bersifat mobile(bergerak) sepanjang jalan yang dilalui. Di Jawa dikenal sebagai kirab, di Madura danBali sebagai arak-arakan. Jalanan sebagai area pertunjukan yang menampilkan iring-iringan pesta rakyat atau pesta persembahan rasa syukur dari satu tempat ke tempat lainyang memiliki tujuan menunjukkan penghormatan pada yang dianggap patut dihormati.Dalam kilasan sejarahnya teater jalanan di pelbagai tempat, baik di Asia maupun dinusantara terdapat beberapa keterangan yang menunjukkan bahwa kita patut bersyukur tentang helaran ini, karena sejak dulu peristiwa-peristiwa yang mengandung banyak  persamaan dengan pesta-pesta keramaian yang bertumpu pada agama, rasa kebersamaan, perlombaan, perjudian, teater, lawakan dan ditinggalkannya larangan-larangan untuk sementara. Konsep Dewaraja (Raja dianggap sebagai titisan Dewa) yang diacu, ibu kotaatau tempat yang dipakai kegiatan menjadi pusat magis dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidup mereka. Namun sejalan dengan kepentingan lain, yaknikepentingan pariwisata khususnya, bentuk-bentuk tersebut telah mengalami proses tafsir yang merujuk pada kebutuhan pasar, dengan cara mengembangkan bentuk seni kemas 
Baribis, di Punggungan Tambakan (Subang), di Cibinong (Bogor), di Cikamurang(Sumedang), di Cijurai (Cirebon), atau di Mauk (Tangerang).Melihat banyaknya fosil gajah yang ditemukan di Jawa Barat, rasanya tak kebetulan bilakaruhun kita menamai tempat memakai kata gajah. Di Kota Cimahi ada Leuwigajah, diKabupaten Bandung ada Kampung Gajah, Gajahcipari, Gajaheretan, Gajahkantor,Gajahmekar, di Garut ada Gununggajah dan Karang Gajah, di Cirebon ada Pagajahan danPalimanan. Nama tempat lainnya yang memakai kata gajah dicatat oleh Bujangga Manik (abad ke16) dalam perjalanannya yang kedua mengelilingi Pulau Jawa dan Bali. Bujangga Manik menulis:“….Samungkur aing ti Tumbuy,meuntasing di Ci Haliwung,nanjak di sanghyang Darah,nepi ka Caringinbentik,sananjak ka Balagajah,ku ngaing geus kaleumpangan. Nanjak aing ka Mayangu,ngalalar ka Kandangserangna jalan ka Ratujaya,ku ngaing geus kaleumpangan.Datang ka Kadukadaka,meuntas aing di Ci Leungsi,nyangkidul ka Gunung Gajah….”Melihat begitu banyaknya nama tempat yang menggunakan kata gajah, dan hampir disetiap daerah ada, sangat mungkin manusia prasejarah di Tatar Sunda sudah sangatterkesan dengan binatang berkaki empat yang ukurannya sangat besar ini.Bahkan, anak-anak di Pameungpeuk, Kabupaten Garut, yang pada tahun 1960-an belum pernah melihat gajah, tetapi kalau tatarucingan (teka-teki) sehabis salat isa di masjid, adasaja anak yang memberikan soal, “Gajah depa ngegel rokrak/ruhak!” atawa “Gajah depa beureum hatena!” Jawabannya adalah hawu atau tungku.Bukan hanya nama tempat yang memakai kata gajah, tapi juga nama tokoh dalam cerita pantun Sunda, seperti Gajah Lumantung (Carita Gajah Lumantung), Prabu MundingLiman (Lalakon Kuda Wangi), Bagawad Liman Sanjaya, Dipati Gajah Waringin, DipatiGajah Cina (Carita Raden Rangga Sawung Galing), Dipati Gajah Waringin (Carita RadenTanjung), Gajah Hambalang (Carita Nyi Sumur Bandung), Raden Pati Gajah Menggala(Carita Panggung Keraton), Gajah Taruna Jaya (Carita Lutung Leutik), atau GajahSiluman, Liman Sanjaya (Carita Raden Mungdinglaya Di Kusumah).Dalam babad, ada juga Gajah Manggala dan Arya Gajah, dua pembesar Pajajaran yangmenjadi utusan Prabu Siliwangi untuk melamar putri Limbangan yang cantik jelita
 
 Walaupun pada awalnya Nyi Putri menolak lamaran itu dengan jalan menghilang darikampungnya, sehingga meninggalkan jejak berupa nama-nama Kampung Buniwangi atauKampung Sempil. Setelah dinasihati orangtuanya, Nyi Putri berkenan dinikahi PrabuSiliwangi.Dari pernikahannya itu mereka dikaruniai dua putra, Basudewa, dan yang satunya laginamanya menggunakan kata gajah, Liman Sanjaya. Atau juga Anggaranting Gajah, putradari Sanghyang Cakradewa, atau adik dari Sanghyang Borosngora dari Panjalu.Dalamcerita Sunda kuna dari kaki Gunung Cikuray, Kabupaten Garut yang berjudul RatuPakuan terdapat kata gajah.Perjalanan hidupKata gajah hampir dipakai dalam setiap kesempatan yang sangat penting dalam perjalanan hidup manusia Sunda. Ketika menanam padi di sawah, ada sejenis rumputyang tinggi, dengan buahnya seperti gandum yang biasa disebut petani sebagaigagajahan.Ketika berbahasa, ada peribahasa Banteng ngamuk gajah meta. Di Kepulauan SundaBesar ada juga peribahasa, Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan Tiada gading yang tak retak.Rumput yang biasa ditanam di halaman rumah pun namanya jukut gajah. Ada juga jenisrumput jukut cengceng yang disebut juga , tapak liman, atau tanaman pot berdaun lebar di teras rumah, kuping gajah, yang pernah menjadi tanaman kesayangan para ibu.Ketika membangun rumah (ngadegkeun imah), tiang-tiang rangka dengan palang dansiku-sikunya dinamai gagajah. Demikian juga nama penyakit, kakigajah, dan Museum Nasional di Jakarta.Tampaknya masyarakat Sundakalapa tak ambil pusing dengan nama resmi, karena didepan gedung itu ada patung gajah, maka disebutlah Gedonggajah atau Museum Gajah!Sedangkan di Kesultanan Cirebon ada kereta zaman kesultanan yang diberi nama Joli paksi naga liman. Kereta berkepala gajah, berbadan naga yang bersayap.Bahasa Jawa kuno untuk gajah adalah liman, artinya binatang buas dengan satu tangan.Bahasa Kawinya adalah asthi.Bila melacak lebih ke belakang, dalam naskah Sunda kuna, gajah adalah binatang yangsudah sangat akrab, seperti terulis dalam Carita Parahyangan. Pada saat RajaTarumanagara, Sri Maharaja Suryawarman melepas kepergian Resiguru Manikmayayang menikah dengan putrinya Dewi Tirthakancana, menghadiahi pengantin baru itu berupa Mandala Kendan lengkap dengan hamba sahaya, pasukan bersenjata lengkap, dan beberapa ratus warga masyarakat anak negeri. Lebih lanjut dituliskan:
 
 “Kepada menantunya, Sri Maharaja juga memberikan berbagai harta benda, perhiasanraja, begitu juga pakaian dan tanda kebesaran raja beserta istri dan sejumlah menteri, abdiraja, para pejabat kerajaan, bahkan seluruh harta-benda, dan berbagai makanan dan minuman yang lezat, berbagai kendaraan, yaitu kereta, liman (gajah), kuda, sapi, lembu, kambing, anjing,ayam dan yang lainnya pula.(Dalam Drs. Atja dan Dr. Edi S. Ekadjati, 1988). Naskah Sunda kuna yang juga memuat kata gajah (gajendra) adalah SanghyangSiksakandang Karesian, seperti tertulis dalam seloka:“Telaga dikisahkan angsaGajendra (gajah) mengisahkan hutanIkan mengisahkan lautBunga dikisahkan kumbang.”(dalam Saleh Danasasmita, dkk., 1987)Dalam naskah Sunda kuna Darmajati pun terdapat kata gajah, seperti yang ditulis di bawah ini:“Mengitarai kenyataan itu, kegiliran jadi hamba sahaya, sebab sudah ketentuan HiyangGuru, menjadi penyelam dan pemburu, menjadi penjaring dan pemarak ikan, menjadi penggembala dan sarati (pawang gajah), menjadi pembantu dan pengusung, menjadi penyapu orang, pelindung penopang orang, perahu tidak berhenti, tersapu banjir jadimengembang, egois jadi malu bercampur marah, racun ikan tidak mempan.”(dalamUndang A. Darsa, dkk., 2004). Naskah Sunda kuna lainnya yang memuat kata gajah adalah Sanghyang Raga Dewata:“Adalah sepotong kayu di jalan, direbahkan ditegakkan,diberdirikan untuk dihalangkan, dipalangkan waktu kita berperang, tatkala kekuatan kita(akan) kalah. Sepertinya semua bergerak, gajah singa macan beruang,kerbau sapi badak lasun.Jangan takut oleh musuh!”(dalam Edi S. Ekadjati dan Undang A. Darsa, 2004)Selain dalam naskah Sunda kuno, Dr. N.J. Krom, pada tahun 1914 melaporkan, banyak  patung yang ditemukan di Tatar Sunda berbentuk gajah. Patung-patung itu ada yangdisimpan di Museum Gajah di Jakarta. Demikian juga dalam Yantra/Mandala yangditemukan di Tapos (Bogor). Dalam batu itu terukir gambar stilisasi gajah

 
memberikan sebagian honje-nya. Selamatlah lengser dan permaisuri kedua kerajaan itu.Karena anak mereka berlainan jenis, yang pria dinamai Mundinglaya Dikusumah dariPajajaran sedang yang wanita dinamai Nyi Dewi Asri dari Muaraberes. Akhirnya keduaketurunan raja itu menikah dan naik tahta menggantikan ayah mereka.Apa yang dilakukan oleh lengser Pajajaran disebut pancakaki. Menurut Kamus BasaSunda karya R. Satjadibrata (1954; 2005: 278), pancakaki bermakna sebagai istilah-istilah untuk menunjukkan hubungan kekerabatan. Dicontohkannya, pertama, saudarayang berhubungan langsung, ke bawah, dan vertikal. Yaitu anak, incu (cucu), buyut(piut), bao, canggahwareng atau janggawareng, udeg-udeg, kaitsiwur atau gantungsiwur.Kedua, saudara yang berhubungan tidak langsung dan horizontal seperti anak paman, bibi, atau uwak, anak saudara kakek atau nenek, anak saudara piut. Ketiga, saudara yang berhubungan tidak langsung dan langsung serta vertikal seperti keponakan anak kakak,keponakan anak adik, dan seterusnya.Dalam Kamus Umum Basa Sunda (KUBS) susunan Tim Lembaga Basa Sastra Sunda(1985: 352) pancakaki mengandung dua makna. Pertama, hubungan seseorang denganorang lain yang sekeluarga atau yang masih bersaudara. Contohnya, ibu, ayah, nenek,kakek, paman, bibi, anak, cucu, buyut, keponakan, dsb. Kedua, menyelusuri hubungankekerabatan. Makna pertama sama dengan makna yang dirumuskan oleh Satjadibrata,sedangkan makna kedua merupakan makna tambahan dengan memasukkan perbuatanmenyelusuri hubungan kekerabatan, seperti dalam contoh kalimat, "Cing urang pancakakiheula, perenah kumaha saenyana Ujang jeung Emang tih?" (Mari kita menelusuri duluhubungan kekerabatan, bagaimana sesungguhnya hubungan kekerabatan Ananda danPaman?).Dalam bahasa Sunda dikenal pula kosa kata sajarah dan sarsilah (salsilah, silsilah) yangmaknanya kurang lebih sama dengan kosa kata sejarah dan silsilah dalam bahasaIndonesia. Makna sajarah adalah susun galur/garis keturunan, seperti A berputra B, B berputra C, dst. beserta cabang-cabangnya, biasa digambarkan dalam bentuk pohon.Sarsilah bermakna daftar asal-usul, uraian keturunan (KUBS, 1985: 443, 447; lihat pulaKamus Besar Bahasa Indonesia, 1988: 794, 840).Makna sajarah dan sarsilah tersebut sejajar dengan makna asal katanya sajarotun dari perbendaharaan bahasa Arab, yaitu pohon. Maksudnya gambaran garis keturunanseseorang yang sekilas berbentuk pohon dengan sejumlah cabang, ranting, dan daun. Dilingkungan Keraton Yogyakarta masih terdapat contoh gambaran garis keturunan raja-raja Jawa yang berbentuk pohon. Dalam kosa kata bahasa Indonesia masih ada istilah lainuntuk yang bermakna sama, yaitu genealogi. Istilah tersebut tentu berasal dari kosa kata bahasa Belanda genealogie dan atau bahasa Inggris genealogy.Dari rumusan-rumusan di atas tampak adanya persamaan dan perbedaan antara makna pancakaki dengan makna sajarah dan sarsilah, juga genealogi. Pada satu pihak  persamaannya terletak pada semuanya bertalian dengan masalah hubungan kekerabatanatau kekeluargaan. Pada pihak lain perbedaannya terletak pada penekanan hubungankekerabatan yang dilambangkan dengan istilah-istilah tertentu bagi makna pancakaki.
 
Sedangkan makna sajarah, sarsilah, dan genealogi terletak pada penekanan asal-usul (keatas) dan keturunan (ke bawah) serta gambaran hubungan kekerabatan atau tali persaudaraan.Hubungan seseorang dengan orang lain dalam lingkungan kerabat atau keluarga dalammasyarakat Sunda menempati kedudukan yang sangat penting. Hal itu bukan hanyatercermin dari adanya istilah atau sebutan bagi setiap tingkat hubungan itu yang langsungdan vertikal (bao, buyut, aki, bapa, anak, incu) maupun yang tidak langsung danhorisontal (dulur, dulur misan, besan), melainkan juga berdampak kepada masalahketertiban dan kerukunan sosial. Bapa/indung, aki/nini, buyut, bao menempati kedudukanlebih tinggi dalam struktur hubungan kekerabatan (pancakaki) daripada anak, incu, alo,suan. Begitu pula lanceuk (kakak) lebih tinggi dari adi (adik), ua lebih tinggi dari paman/bibi. Soalnya, hubungan kekerabatan seseorang dengan orang lain akanmenentukan kedudukan seseorang dalam struktur kekerabatan keluarga besarnya,menentukan bentuk hormat menghormati, harga menghargai, kerjasama, dan salingmenolong di antara sesamanya, serta menentukan kemungkinan terjadi-tidaknya pernikahan di antara anggota-anggotanya guna membentuk keluarga inti baru.Pancakaki dapat pula digunakan sebagai media pendekatan oleh seseorang untuk mengatasi kesulitan yang sedang dihadapinya. Dalam hubungan ini yang lebih tinggiderajat pancakaki-nya hendaknya dihormati oleh yang lebih rendah, melebihi dari yangsama dan lebih rendah derajat pancakaki-nya.Betapa pentingnya kedudukan pancakaki dalam masyarakat Sunda, sampai-sampai padazaman sekarang pun orang Sunda masih biasa melakukan pancakaki dalam kehidupansehari-hari pada tiga jenis peristiwa berikut. (1) Pertemuan antara orang Sunda yangsebelumnya sudah saling mengenal atau pernah berkenalan. (2) Pertemuan antara orangSunda yang baru berkenalan. (3) Pertemuan antara dua pihak orang Sunda dalam proses pernikahan salah seorang anggotanya masing-masing. Dalam rangka membina suasanaakrab dalam pertemuan itu mereka melakukan pembicaraan tentang pancakaki merekamasing-masing yang menjurus ke arah terjalinnya hubungan kekerabatan di antarakeluarga besar mereka.Bahkan jika ternyata di antara mereka tidak memiliki hubungan kekerabatan (darah),maka pembicaraan dilanjutkan dengan mencari pertalian hubungan lain, seperti melaluikenalan, tetangga, teman sekolah, teman bekerja, dan lain-lain yang sama-sama dikenaloleh mereka. Adapun tujuan pembicaraan tersebut adalah untuk saling mendekatkanhubungan mereka. Tujuan selanjutnya, bergantung pada situasi dan kondisi pertalianhubungan atau pertemuan mereka.Kapan lahirnya pancakaki dalam masyarakat Sunda? Pertanyaan tersebut sulitdijawabnya, karena data mengenai hal itu tidak ada. Namun, sebagai gambaran dapatlahdilihat dari tradisi lisan (cerita mitologi, cerita legenda, cerita pantun, dongeng) dantradisi tulisannya (prasasti, naskah). Ternyata dalam setiap zaman perjalanan hidup orangSunda didapatkan sumber informasinya, baik lisan maupun tulisan.
 
Tradisi lisan Sunda tertua yang mengemukakan keberadaan pancakaki kiranya adalahcerita Sangkuriang. Cerita mitologi ini menggambarkan kehidupan zaman prasejarahyang berlatarbelakang kejadian alam terbentuknya tiga gunung di sebelah utara Bandung,yaitu Gunung Tangkuban Parahu, Bukittunggul, dan Burangrang serta sebuah DanauBandung Purba. Di dalam cerita ini sudah ada pancakaki, yaitu ada tokoh ayah (raja yangsedang berburu dan si Tumang), ibu (Celeng Wayungyang dan Dayang Sumbi), dan anak (Dayang Sumbi dan Sangkuriang). Di antara tokoh-tokoh tersebut terjalin hubungankekerabatan yang saling menghormati dan mengasihi sesuai dengan kedudukan pancakakinya, kecuali dalam kondisi tanpa sadar dan tak tahu.Kekecualian dimaksud adalah Sangkuriang membunuh si Tumang yang sesungguhnyaayah kandungnya sendiri serta terjalinnya kisah asmara antara Dayang Sumbi denganSangkuriang, walaupun pernikahan mereka tidak jadi karena Dayang Sumbi kemudiantahu bahwa Sangkuriang adalah anak kandungnya. Jelas, cerita ini bertemakan tabu akan pernikahan sedarah langsung (tabu incest).Adapun tradisi tulisan tertua adalah prasasti Tugu (ditemukan di Tugu, sekitar  perbatasan Bekasi-Jakarta) yang ditulis pada batu dengan menggunakan aksara Palawadan bahasa Sansekerta dari zaman Kerajaan Tarumanagara (abad ke-5 Masehi). Dalam prasasti ini disebutkan tiga orang raja yang memiliki hubungan kekerabatan langsung danvertikal, yaitu Rajaresi, Rajadiraja Guru, dan Purnawarman. Pancakaki-nya adalahPurnawarman putra Rajadiraja Guru dan Rajadiraja Guru putra Rajaresi. Jadi, ada tigagenerasi berupa kakek, ayah, dan anak yang secara bergantian memerintah KerajaanTarumanagara.Prasasti Batutulis pun yang ditulis pada batu dengan aksara Jawa Kuna dan bahasaSunda Kuna serta dikeluarkan oleh Prabu Surawisesa, raja Sunda (1521-1535), padatahun 1533 dan berada di kota Bogor sekarang mengungkapkan pancakaki raja-rajaSunda. Bahwa Sri Baduga Maharaja, raja Sunda di Pakuan Pajajaran, adalah putraRahiyang Dewa Niskala, cucu Rahiyang Niskala Wastukancana. Di sini pun tertera tigagenerasi raja Sunda yang hubungan kekerabatannya langsung dan vertikal.Daftar raja Sunda yang paling lengkap terdapat pada naskah Carita Parahiyangan. Didalam naskah ini dapat dikatakan semua raja Sunda baik yang berkedudukan di Galuhmaupun yang berkedudukan di Pakuan Pajajaran didaftarkan secara kronologis sejak raja pertama (sekitar abad ke-7-8) hingga raja terakhir (1579). Bahwa raja Sunda pertamadigantikan oleh raja Sunda kedua yang digantikan lagi oleh raja Sunda ketiga danseterusnya hingga raja terakhir. Pergantian raja-raja tersebut dilakukan oleh sesamaanggota kerabat keraton yang pancakaki-nya berdekatan dengan raja Sunda yangdigantikannya, seperti anak, adik, menantu.Muncullah konsep kultus dewa raja dan sistem pergantian pemegang pemerintahan berdasarkan hubungan kekerabatan (darah dan pernikahan). Mengemukanya hanya daftar dan pancakaki raja-raja dalam tradisi lisan dan tradisi tulisan Sunda kiranya berlatar  belakang ajaran agama dan kebudayaan Hindu dari India yang menghantarkan kepada periode sejarah di Tatar Sunda dan Nusantara pada umumnya serta memperkenalkan

stratifikasi sosial berdasarkan kasta (brahmana, ksatria, waisya, sudra) yang berdampak  pada profesi masing-masing.Runtuhnya Kerajaan Sunda diiringi oleh munculnya Kesultanan Cirebon, KesultananBanten, dan kabupaten-kabupaten di wilayah Tatar Sunda yang telah dipengaruhi olehajaran agama dan kebudayaan Islam serta dipengaruhi pula oleh kebudayaan Jawa.Kiranya seiring dengan merasuknya agama dan kebudayaan Islam yang antara laindipengaruhi oleh kuatnya tradisi pancakaki di kalangan bangsa Arab yang menyebarkanIslam ke mana-mana, termasuk ke Tatar Sunda dan nusantara umumnya, masuklah tradisisajarah dan sarsilah dalam kehidupan masyarakat Sunda.Ada data baru yang memperlihatkan terjadinya masa peralihan sistem pancakaki antaratradisi zaman kuna (Kerajaan Tarumanagara dan Sunda) dengan tradisi zaman baru(kesultanan dan kabupaten). Data tersebut tertera pada naskah lontar dengan aksaraSunda Kuna (unsur tradisi kuna), tetapi menggunakan bahasa Jawa, munculnya tokohPrabu Siliwangi sebagai awal pancakaki, berisi pancakaki yang sebagian besar tokohnyatidak menduduki jabatan raja atau penguasa daerah, serta munculnya gelar dan namatokoh muslim dan Jawa (unsur tradisi baru). Data ini tertera pada naskah lontar Sundayang kini menjadi koleksi Perpustakaan Nasional di Jakarta dengan nomor kode Kropak 421. Dalam naskah ini disebutkan 85 nama tokoh yang berasal dari 22 generasi hubungankekerabatan (darah). Contoh gelar dan nama Islam dan Jawa antara lain Sunan Parung, KiMas Yudamardawa, Nyi Mas Palembang, Ngabehi Mangunyuda, Raden Abdul, PangeranDemang, Dipati Darma, Ki Ariya Danupati, Kiyahi Wihataka.Pancakaki para Sultan Cirebon dan Sultan Banten berpangkal pada dua leluhur. Padasatu pihak (berdasarkan garis ibu) berpangkal pada Prabu Siliwangi yang disebutkansebagai raja Pajajaran terakhir; ada yang berlanjut sampai Prabu Seda (leluhur kelimaPrabu Siliwangi). Pada pihak lain (berdasarkan garis ayah) berpangkal pada Sultan Mesir atau Sultan Banisrail di tanah Arab dan selanjutnya sampai Nabi Muhammad, penerimadan pembawa agama Islam, bahkan ada yang sampai Nabi Adam, manusia dan nabi pertama menurut ajaran Islam. Pancakaki demikian tertera pada naskah-naskah CaritaPurwaka Caruban Nagari, Babad Cirebon, "Sajarah Banten". Munculnya dua pangkal pancakaki tersebut kiranya dilatarbelakangi oleh maksud pengarangnya untuk merangkuldua kelompok masyarakat yang hidup pada masyarakat Sunda masa itu, yaitu kelompok masyarakat penganut atau yang berorientasi kepada raja-raja Sunda dan kelompok masyarakat penganut atau yang berorientasi kepada agama Islam. Dengan demikian, pancakaki tersebut memiliki fungsi politis.Kabupaten-kabupaten mengeluarkan pula dokumen tertulis berupa naskah-naskah yang berisi pancakaki di lingkungan keluarga para bupati yang memerintah di kabupaten yang bersangkutan, bahkan dari Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung didapatkannaskah yang judulnya menggunakan kata pancakaki, yaitu Kitab Pancakaki dariSumedang dan Kitab Pancakaki Masalah Karuhun Kabih (Kitab Pancakaki MasalahSemua Leluhur) dari Bandung. Pancakaki yang berasal dari Kabupaten Bandung,Batulayang, Parakanmuncang, dan Cianjur berpangkal pada tokoh Prabu Siliwangi, RajaPajajaran termasyhur dan terakhir, misalnya pada naskah Sajarah Bandung dan Babad
 
Cikundul. Yang berasal dari Kabupaten Galuh (Ciamis) dan Kabupaten Sumedang pancakaki-nya berpangkal pada Ratu Galuh, misalnya pada Wawacan Sajarah Galuh danKitab Pancakaki. Pancakaki dari Kabupaten Sukapura (Tasikmalaya) berpangkal padaSultan Pajang dari Pengging (Jawa), yaitu terdapat pada naskah Sajarah Sukapura.Pangkal pancakaki tersebut dimaksudkan pengarangnya untuk mempertinggi derajat danmartabat para bupati serta melegitimasikan bupati yang bersangkutan dalam menduduki jabatannya.Makin kemudian (sejak abad ke-19) pancakaki dalam naskah-naskah dari kabupaten-kabupaten di wilayah Priangan makin lengkap. Sejak itu dalam pancakaki itu bukanhanya dikemukakan identitas (nama) bupati beserta putranya yang menggantikan jabatanayahnya sebagai bupati, melainkan disebutkan pula identitas (nama) semua putra bupati beserta ibunya masing-masing serta masalah ketika terjadi pergantian pemegang pemerintahan. Sejauh pengetahuan penulis, pancakaki paling lengkap terdapat padakeluarga besar bupati (menak) Sumedang dan Bandung. Di samping didapatkannaskahnya sebanyak beberapa buah, juga ada bagan pancakaki-nya secara keseluruhandan tiap-tiap cabang keluarga seorang bupati atau tokoh tertentu. Hal ini dimungkinkankarena pancakaki memainkan peranan penting dalam proses pengangkatan/penggantian bupati dan pejabat-pejabat pemerintahan lainnya (sistem feodal). Secara tersuratdikemukakan tujuan dan fungsi naskah pancakaki pada masa lalu tertera dalam naskahSajarah Sukapura karya tulis Raden Kanduruan Kartinagara. Bahwa "...membuat pancakaki ini, untuk dipakai mengingatkan, para anak-cucu, agar jangan putus hubungankekeluargaan, karena biasanya yang muda tak peduli, menghapalkan keturunan/leluhur.Tetapi kalau sudah ada dalam bentuk tertulis, disimpan di dalam laci, kendatipun tidak hafal, pasti tak akan sia-sia, sebab sudah ada dalam bentuk tertulis itu, asalkan maumembaca, pasti ketemu.Demikianlah, dapat disimpulkan bahwa pancakaki menempati kedudukan penting dalamkehidupan masyarakat Sunda. Pancakaki memiliki fungsi individual dan sosial yang bervariasi pada setiap zaman, seperti untuk memperoleh legitimasi kekuasaan,mempertinggi derajat dan martabat seseorang, memperoleh dan mempertahankan jabatandalam pemerintahan, dan melakukan pendekatan dalam hubungan keluarga, pernikahan,dan sosial budaya lainnya. Pancakaki mencerminkan gambaran bahwa tata kehidupanorang Sunda berdasarkan kepada asas kekeluargaan yang ingin menempatkan setiapanggota keluarganya dalam hubungan pancakaki. Dengan hubungan yang jelas tempatnyadalam struktur kekerabatan mereka, di samping akan terbentuk dan terbina suasana rukundan damai, juga terbentuk dan terbina suasana tertib dalam kehidupan sehari-hari mereka.Mereka akan menempatkan diri pada kedudukan hubungan pancakaki masing-masingserta menghormati dan menghargai sesamanya sesuai dengan tingkat hubungan pancakaki-nya.***Penulis, GuruBesar Universitas Padjadjaran dan Ketua Pengurus Pusat Studi Sunda20 november 2007Barang Peninggalan Padjadjaran Terbakar
 
keseluruhan, tetapi dalam keadaan lemah. Tahun 670 Masehi, merupakan tanda berakhirnya Tarumanagara. Kemudian muncul dua kerajaan penerusnya, Kerajaan Sundadi belahan barat dan Kerajaan Galuh di belahan timur, dengan batas wilayah kerajaanSungai Citarum. Pada tahun 1482, kedua kerajaan ini dipersatukan oleh Sri BadugaMaharaja (Prabu Siliwangi), menjadi Kerajaan Sunda Pajajaran.Oleh karena itu, betapa pentingnya posisi dan nilai Situs Kendan dan sekitarnya dalam perspektif sejarah dan kepurbakalaan Jawa Barat. Tidak menutup kemungkinan, jikadiadakan penggalian dan penelitian arkeologis, pada tebaran radius 5-10 km dari situsKendan, akan ditemukan bekas candi, arca-arca, artefak, tembikar, keramik, terakota, dan benda-benda peninggalan sejarah lainnya.Semoga nilai sejarah dan kepurbakalaan Kerajaan Kendan di Nagreg, sebagaimana yangdiungkapkan dalam tulisan ini, akan menjadi pertimbangan kebijakan dan kearifan kitasemua, sebelum telanjur, wilayah Nagreg akan dijadikan pembuangan (penampungan)sampah akhir, ataupun dijadikan pekuburan Tionghoa pindahan dari CikadutBandung.***Penulis, Alumnus Faculty of Arts and Sciences University of Pittsburgh, Pennsylvania,USATaktik Tempur PajajaranKEKUATAN militer di negara mana pun dan di zaman apa pun tetap dibutuhkan.Bahkan, hingga kini orang selalu beranggapan bahwa satu negara akan kuat bilamiliternya kuat.Para ahli sejarah tatar Sunda belum bisa memprediksi, apakah kerajaan yang ada di JawaBarat dahulu kala memiliki kehidupan militer yang kuat? Namun, kerajaan di tatar Sunda punya rentang usia panjang itu, sudah dicatat dalam sejarah. Kerajaan Sunda dimulai 669Masehi dengan rajanya Tarusbawa dan punya rentang tanpa putus hingga zamanKerajaan Pajajaran yang berakhir oleh serbuan Banten 1579 Masehi.Bila catatan sejarah itu benar, maka Kerajaan Sunda telah sanggup bertahan hingga 910tahun lamanya tanpa henti. Satu perjalanan sejarah yang cukup panjang dan tak gampangmerawatnya, kecuali dengan tatanan sosial-ekonomi-politik dan tentu juga ketahananmiliter yang handal.Saya adalah penulis naskah fiksi dengan nuansa masa lalu Jawa Barat. Maka, bila sayaingin menggambarkan kekuatan Kerajaan Pajajaran, maka saya pun mesti mengetahui,sejauh mana dan sejauh apa kekuatan militer pada masa Pajajaran. Saya tak mautejerumus seperti tayangan sinetron klasik. Tatkala berbicara perihal pertempuran di tatar Jawa, ataupun di tatar Sunda, para tokohnya selalu bertempur ala kungfu Cina dan berkelebat ke sana-ke mari di angkasa bak Superman atau Spiderman. Namun, kekuatan militer pada Pajajaran dipenuhi oleh berbagai ilmu kesaktian, saya bisamaklumi. Dulu belum ada bedil bila berperang. Kalau tidak menggunakan pedang, golok 
 
atau panah, pastilah bergumul dengan tangan kosong. Mungkin banyak orang pandai berkelahi dan dikatakan sebagai sakti.Tapi, jenis perkelahian apa yang dulu dilakukan orang-orang Pajajaran? Inilah yang sulitdicari. Saya temukan sejumput catatan ringkas, begini kalimatnya: dahulu kala di zamanPajajaran sudah ada ilmu pencak, tetapi bukan pencak yang sekarang. Saya tanyakan pada kelompok masyarakat tradisional yang ada di Rancamaya Bogor (dipercaya sebagaitempat keramat Raja Pajajaran). Mereka juga mengatakan memang ada ilmu-ilmuPajajaran, namun belum saatnya dibuka sekarang. Wow!Saya sempat kunjungi wilayah Surade, Sukabumi selatan sebab masyarakat tradisionaldari mulut ke mulut telah dikabarkan bahwa di sana di zaman Pajajaran, Surade adalah pusat pendidikan militer Pasukan Tempur Pajajaran. Lalu saya pun datangi juga wilayahBojongemas, Kabupaten Bandung, sebab Prabu Surawisesa raja kedua Pajajaran punsempat membuka akademi militer di sana, sekalian mengawal dan menjaga kamasan(pusat industri perhiasan emas) milik negara.Berhasilkah penelusuran ini? Hasilnya, ya hanya sayup-sayup belaka. Pepatah kaumsejarawan tak boleh dilanggar bahwa yang namanya sejarah harus ada bukti tertulis dan bukti arkeologi!Taktik tempur Pajajaran"Beruntung sekali", walau tidak jelas benar dan hanya sayup-sayup, saya "bisa" dapatkaninformasi ini. Bahwa benar katanya, di zaman Pajajaran orang sudah mengenal taktik  berkelahi, dari mulai taktik perseorangan, sampai taktik untuk pertempuran massal danfrontal.Masyarakat dari tempat terpencil di daerah Ciwidey sempat menyebutkan bahwa orangPajajaran mengenal ilmu tempur Sentak Dulang. Itu adalah semacam ilmu mengirimsuara, sehingga sanggup membelah isi dada lawan. Hingga kini, di salah satu tempat pegunungan di kawasan Bandung Utara ada kampung bernama Sentakdulang, terinspirasiilmu orang Pajajaran itu.Yang sempat tercatat dalam sejarah lokal adalah belasan taktik tempur pasukan. Walautidak diperinci bagaimana peragaannya, namun catatan telah memerinci nama-namataktik-tempur itu seperti asu-maliput, babah-buhaya, bajra-panjara, kidang-sumeka,merak-simpir, cakra-bihwa, makara-bihwa, lisang-bihwa, suci-muka, gagak-sangkur,luwak-maturun, ngaliga-manik, dan beberapa lainnya.Taktik-tempur Pajajaran mungkin meniru-niru taktik perang Bharatayudha karya MpuKanwa dan Mpu Panuluh. Namun, bila taktik-tempur Perang Bharatayudha hanyamengenal sembilan taktik, taktik-tempur pasukan Pajajaran telah menguasai hampir 18taktik.Beberapa orang dari daerah Majalaya bagian selatan, sempat mengabarkan kepada
 
 penulis beberapa peragaan taktik-tempur Pajajaran. Namun, bila dipaparkan semuanya disini, akan menghabiskan halaman surat kabar saja. Kata orang Sunda, sekadar tambakawaranan, maka di bawah ini penulis uraikan secara singkat taktik tempur bajra-panjara.Bajra-panjara adalah taktik penyerangan frontal, dilakukan belasan shaf anggota pasukan. Shaf paling depan jumlahnya paling sedikit dibanding shaf di belakangnya. Namun, shaf paling depan terdiri dari kelompok orang-orang handal.Maksudnya, pertempuran harus cepat dihabisi dengan tenaga sedikit tapi efektif. Bilaserangan ini gagal, maka akan diganti shaf kedua yang jumlah anggotanya jauh lebih banyak, tapi kemampuan tempurnya lebih rendah. Shaf paling akhir adalah prajurit biasadengan jumlah amat banyak.Filosofi dari taktik tempur ini, pertempuran harus efektif, yaitu memenangi pertempurandengan korban sesedikit mungkin. Makanya, yang paling pandai harus berjuang palingdepan dan berusaha memenangkan pertempuran walau dengan jumlah sedikit. Merekaakan bertempur habis-habisan, sebab bila gagal maka kegagalannya ini akanmengakibatkan korban lebih banyak di barisan belakangnya. Orang paling pandai dan punya pangkat paling tinggi, mesti berjuang paling depan dan bertugas mengayomianggota pasukan yang kepandaiannya berada di bawahnya.Menurut catatan lokal, taktik ini terbukti efektif dalam menghalau musuh. Pada zamanPrabu Surawisesa, raja kedua Pajajaran (1513-1527 Masehi), selama 14 tahunmemerintah, terjadi 15 kali perang melawan Cirebon, Pajajaran tak terkalahkan. Laludiserang Banten tiga kali, baru berhasil dilumpuhkan pada kali ketiga, bukan melalui pertempuran terbuka, melainkan oleh serbuan gelap (gerilya). Maka 1579 Masehi,Pajajaran runtuh. Kemenangan Banten ini pun lantaran menerima bantuan dari orangdalam yang melakukan pengkhianatan. Namun, pengetahuan masa lalu, siapa yang tahu secara persis. Taktik tempur Pajajaranyang kabarnya dimiliki oleh seribu anggota Pasukan Belamati Pajajaran, secara turun-temurun (terakhir dipunyai Dipati Ukur dan H. Prawatasari), tidak dicatat di kitab kunoyang kemudian jadi rebutan para pendekar seperti laiknya cerita-cerita silat karya KhoPing Hoo.Saya hanya mendapatkannya dari berita para penutur tradisional di kampung-kampungdan tanpa pesaing, namun itu saya butuhkan untuk penyemarak karya-karya fiksi klasik saja. Cag!***AAN MERDEKA PERMANAPengamat folklor dan penulis fiksi sejarah, tinggal di Bandung.Penulis
·          
Naskah Sunda

0 komentar:

Poskan Komentar

Download KItab

Pengunjung

Cari Uangmu Disini...Mudah!!

Bisnis Iklan Indonesia

Adsense Indonesia

terjemahan

Share It

Ada kesalahan di dalam gadget ini